BLITAR - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Blitar Raya membekali pelajar generasi Z (Gen Z) dengan nasionalisme, karakter Pancasila, kesehatan mental, hingga keterampilan menghadapi tantangan era digital.
Pembekalan itu dilakukan melalui Diklat Dasar (Diksar) GSNI Blitar Raya di Pendopo Sasana Adhi Praja, Kabupaten Blitar, Minggu (4/10/2026).
Mengusung tema “Membentuk Pelajar Nasionalis dan Berkarakter Pancasila”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari kaderisasi untuk mendorong pelajar agar tidak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga memiliki daya kritis dan kepedulian terhadap persoalan sosial.
Sejumlah materi diberikan dalam Diksar, mulai dari sejarah dan orientasi organisasi, kesehatan mental, anti-bullying, Marhaenisme di era digital, nasionalisme dan patriotisme, Pancasila, hingga keterampilan masa depan.
Pada sesi orientasi organisasi, Aryo Bimo Soebagio memaparkan sejarah GSNI yang berdiri pada 2 Januari 1959 melalui fusi Gerakan Siswa Nasional dan Ikatan Pelajar Nasional Indonesia.
Peserta diperkenalkan dengan empat pilar perjuangan GSNI, yakni mengawal Pancasila dan UUD 1945, membangun kesadaran nasional, memperjuangkan kesetaraan akses pendidikan, serta membentuk pelajar yang kritis dan kreatif.
Materi kesehatan mental dan anti-bullying disampaikan Putri Cinta Mei, S.Sos., M.A.P. Ia mengaitkan pemikiran Bung Karno dalam buku Sarinah dengan persoalan yang banyak dihadapi remaja saat ini.
Penyampaian materi dibuat interaktif melalui permainan, writing healing “Surat untuk Sarinah”, hingga tantangan tujuh hari anti-perundungan.
Putri mendorong peserta untuk tidak menghambat potensi diri maupun orang lain. Menurutnya, menjaga kesehatan mental juga menjadi bagian dari bentuk perjuangan generasi muda.
Sementara itu, Rangga Bisma Aditya, S.Sosio., M.H., mengajak peserta melihat kembali relevansi Marhaenisme di tengah perkembangan ekonomi digital.
Menurutnya, sosok “Marhaen” kini dapat ditemukan dalam berbagai profesi baru, seperti pekerja gig economy, kurir digital, hingga kreator konten yang memiliki alat produksi sendiri, tetapi masih menghadapi kerentanan dalam sistem ekonomi digital.
Peserta kemudian didorong membangun solidaritas, semangat kooperatif, dan kemandirian dalam berkarya.
Materi nasionalisme dan patriotisme disampaikan Joko Pramono, S.Pd. Ia mengingatkan peserta agar memahami perbedaan antara nasionalisme dengan chauvinisme maupun sektarianisme.
Ia juga mengenalkan konsep RODINDA (Roda Induk Dinamika Batin) serta tiga pilar rohani pejuang, soul, logic, dan heart.
Adapun M. Abdur Roziqin membahas sejarah Pancasila hingga pengesahannya pada 18 Agustus 1945. Ia menekankan bahwa kekuatan Pancasila terletak pada kemampuannya menjadi pemersatu bangsa.
Bagi pelajar, pengamalan Pancasila dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang digital. Misalnya dengan melawan cyberbullying, tidak menyebarkan hoaks, dan memperkuat budaya gotong royong.
Bekali Pelajar Keterampilan Masa Depan
Diksar GSNI Blitar Raya juga memberikan bekal keterampilan yang dibutuhkan Gen Z untuk menghadapi perubahan.
Sonya Setia Negara menekankan pentingnya menguasai empat keterampilan atau 4C, yakni communication, collaboration, critical thinking, dan creativity. Peserta juga diajak memahami pentingnya menggunakan media sosial secara bijak.
Sementara itu, Haikal Sabil Amarah memperkenalkan prinsip POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) dalam mengelola gerakan siswa.
Kerangka tersebut diharapkan membuat aktivitas organisasi tidak berhenti pada wacana, tetapi mampu menghasilkan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Peserta Diksar, Putri Perwitasari, menilai kegiatan tersebut memberikan perspektif baru dalam melihat persoalan sosial dan kebangsaan.
“Bagi saya, Diksar ini bukan hanya kegiatan seremonial atau formalitas belaka, melainkan ruang nyata untuk membentuk kesadaran, keberanian, serta karakter kader,” ujar Putri.
Ia mengatakan peserta tidak hanya didorong aktif berorganisasi, tetapi juga membangun intelektualitas, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama serta kepentingan rakyat.
Peserta lainnya, Dhaul Dhani, mengatakan Diksar membuatnya memahami bahwa patriotisme pada era sekarang dapat diwujudkan melalui kepedulian dan keberanian mengambil peran di tengah masyarakat.
“Di zaman sekarang, patriotisme tidak selalu tentang mengangkat senjata, tetapi tentang berani peduli, berani menyuarakan kebenaran, menghargai perbedaan, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” kata Dhaul.
Ia berharap peserta Diksar dapat tumbuh menjadi generasi muda yang matang, kritis, berkarakter, dan siap mengambil peran untuk bangsa.
“Seperti Gatotkaca yang keluar dari Kawah Candradimuka, kami berharap melalui Diksar ini kami bisa tumbuh menjadi pemuda yang lebih matang, kritis, berkarakter, dan siap mengambil peran nyata untuk bangsa,” pungkasnya.
Editor : Alim Perdana