OPINI - Cara orang Indonesia membicarakan kesehatan mental sedang bergeser.
Dulu keluarga menyimpan persoalan kejiwaan rapat-rapat di dalam rumah. Sekarang kata depresi, kecemasan, burnout, dan kesehatan mental terdengar di sekolah, kampus, media sosial, bahkan ruang keluarga.
Data terbaru menunjukkan pergeseran itu punya dasar. Kesehatan jiwa anak dan remaja sudah layak mendapat perhatian utama.
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) memberi gambaran yang mengkhawatirkan. Sampai Maret 2026, sekitar tujuh juta anak sudah menjalani skrining. Sebanyak 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi, dan 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan.
Kementerian Kesehatan menyebut hampir 10 persen peserta skrining mengindikasikan masalah kesehatan jiwa. Angka ini hasil skrining dan belum berarti diagnosis klinis, tetapi tetap berfungsi sebagai alarm tentang kondisi psikologis anak Indonesia.
Masalah tersebut tampak lebih jelas pada jenjang SMP dan SMA. Kementerian Kesehatan melaporkan peningkatan masalah kesehatan jiwa, termasuk kecemasan dan depresi, pada kelompok usia itu. Di tingkat SMA, gangguan kesehatan mental menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling menonjol.
Gen Z dan Gen Alpha tumbuh dalam kondisi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Teknologi digital menjadi lingkungan tempat mereka belajar, bermain, berkomunikasi, mencari pengakuan, dan membangun identitas. Dunia nyata dan dunia digital saling terjalin sehingga batas keduanya makin tipis.
Kesimpulan bahwa Gen Z dan Gen Alpha secara biologis lebih rentan terhadap depresi atau skizofrenia hanya karena tumbuh di era digital tidak tepat. Gangguan mental muncul dari interaksi faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan.
Pernyataan yang lebih hati-hati berbunyi demikian: anak dan remaja kini menghadapi tekanan yang makin kompleks, sedangkan sistem dukungan sosial belum berkembang secepat tekanan itu.
Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), yang Kementerian Kesehatan kutip kembali pada 2026, menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir.
Kementerian juga menyebut gejala depresi dan kecemasan pada remaja bisa hampir lima kali lebih tinggi daripada pada orang dewasa.
Profil Kesehatan Remaja Indonesia 2024, terbitan UNICEF pada Maret 2025, mencatat temuan serupa. Sekitar satu dari tiga remaja, atau 15,5 juta orang, melaporkan masalah kesehatan mental. Hanya sebagian kecil dari mereka yang memenuhi kriteria diagnosis gangguan mental.
Perbedaan ini penting karena masalah kesehatan mental belum tentu berarti gangguan mental klinis.
Tekanan terbesar mungkin datang dari hidup yang tidak pernah berhenti. Remaja membawa sekolah ke rumah lewat layar komputer.
Pertemanan berlanjut di media sosial setelah jam pelajaran usai. Komentar negatif bisa masuk kapan saja.
Perbandingan sosial tidak lagi terbatas pada kelas atau lingkungan tempat tinggal. Dalam hitungan detik, remaja melihat keberhasilan, penampilan, gaya hidup, dan pencapaian ribuan orang.
Media sosial tidak otomatis menyebabkan depresi.
Hubungan antara teknologi dan kesehatan mental jauh lebih rumit. Teknologi menyediakan pendidikan, ruang kreativitas, komunitas, dan dukungan sosial. Masalah muncul ketika ruang digital menjadi tempat utama mencari pengakuan atau ketika paparan digital mengganggu tidur, interaksi sosial, aktivitas fisik, dan kemampuan mengelola emosi.
Tekanan akademik ikut membebani. Nilai, ujian, persaingan masuk perguruan tinggi, tuntutan keterampilan, kemampuan bahasa, sertifikat, dan persiapan menuju dunia kerja membuat daftar syarat keberhasilan terus memanjang. Anak harus meraih nilai bagus, aktif, kreatif, produktif, dan unggul di banyak bidang.
Tekanan itu bertemu dengan harapan keluarga. Orang tua wajar berharap pada masa depan anak. Masalah timbul saat pencapaian menjadi satu-satunya ukuran. Anak belajar bahwa nilai menentukan harga dirinya, lalu menganggap kegagalan sebagai hal yang harus disembunyikan, bukan bagian dari proses belajar. Kondisi ini membuat anak makin sulit bercerita saat menghadapi masalah.
Kesepian menambah beban. Remaja bisa punya ratusan teman di media sosial dan tetap merasa tidak punya tempat bercerita. UNICEF mencatat bahwa 3,5 persen siswa tidak memiliki teman dekat, kondisi yang erat kaitannya dengan kesehatan mental.
Laporan yang sama menempatkan kesehatan jiwa sebagai salah satu tantangan utama kesehatan remaja Indonesia. Kesepian menjadi paradoks di zaman serbaterhubung. Teknologi memudahkan komunikasi, tetapi kemudahan itu tidak otomatis melahirkan kedekatan emosional.
Stigma membentuk masalah berikutnya. Anak yang mengaku depresi sering mendapat saran untuk lebih bersyukur, lebih kuat, atau berhenti memikirkan masalah.
Saran itu mungkin lahir dari niat baik, tetapi membuat anak merasa perasaannya tidak valid. Seseorang yang mengalami masalah psikologis tidak selalu butuh nasihat. Kadang ia butuh orang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Kementerian Kesehatan mendorong empat langkah sederhana: Tanya, Dengarkan, Temani, dan Hubungkan. Langkah ini tidak menjadikan keluarga, guru, atau teman sebaya pengganti psikolog atau psikiater. Peran mereka mengenali tanda awal, memberi dukungan, dan menghubungkan seseorang dengan pertolongan yang tepat.
Sekolah memegang peran penting dalam upaya itu. Guru tidak harus menjadi psikolog. Guru perlu mampu mengenali perubahan perilaku yang mencolok, mengetahui jalur rujukan, dan menciptakan lingkungan belajar yang tidak mempermalukan siswa yang sedang kesulitan.
Masalah kesehatan mental anak tidak berhenti pada skrining. Evaluasi CKG sejak Februari 2025 sampai Februari 2026, yang Kementerian Kesehatan laporkan pada Agustus 2026, mencatat 23,5 juta anak mengikuti pemeriksaan.
Pemerintah menegaskan bahwa instansi terkait harus menindaklanjuti hasil pemeriksaan, tidak hanya mengumpulkan data.
Layanan kesehatan mental menghadapi dua pekerjaan: menemukan orang yang membutuhkan bantuan dan menyediakan bantuan itu. Orang yang menjalani skrining tanpa tindak lanjut hanya mendapat angka. Orang yang menerima diagnosis tanpa layanan menanggung kecemasan baru. Orang yang sadar butuh pertolongan tetapi tidak punya akses tidak tahu ke mana harus pergi.
Jumlah tenaga profesional masih terbatas. Pada Maret 2026, Kementerian Kesehatan menyebut Puskesmas baru memiliki sekitar 203 psikolog klinis. Pemerintah mendorong penguatan layanan kesehatan jiwa dan memperluas peran sekolah dalam memberikan dukungan awal.
Anak tidak boleh menanggung sendiri persoalan kesehatan mental generasi muda. Kita tidak bisa meminta anak lebih tangguh sementara lingkungannya tetap penuh tekanan. Keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan perusahaan teknologi masing-masing memegang tanggung jawab.
Keluarga perlu membangun komunikasi yang memungkinkan anak berkata, "Saya sedang tidak baik-baik saja," tanpa takut langsung disalahkan. Sekolah perlu menyediakan ruang aman untuk berbicara dan jalur rujukan. Pemerintah perlu menjamin layanan kesehatan mental tersedia secara merata dan berkelanjutan. Masyarakat perlu berhenti melabeli orang yang mengalami gangguan jiwa.
Perusahaan teknologi juga memikul tanggung jawab sosial. Platform digital yang jutaan anak gunakan lebih dari sekadar produk bisnis.
Keselamatan pengguna muda, perlindungan dari perundungan digital, desain yang tidak mendorong penggunaan berlebihan, dan mekanisme pelaporan yang efektif merupakan bagian dari ekosistem kesehatan mental yang lebih luas.
Gen Alpha memerlukan perhatian lebih dini. Kemampuan mereka mengelola emosi, membangun hubungan sosial, dan membentuk identitas masih berkembang, sementara teknologi sudah hadir sejak masa kanak-kanak.
Pendampingan digital sebaiknya membangun kebiasaan sehat dan tidak berupa larangan total. Kita perlu berhenti menyebut anak muda yang tertekan secara psikologis sebagai "generasi lemah". Label itu tidak menyelesaikan masalah. Generasi yang tumbuh di dunia berbeda memerlukan dukungan yang sesuai dengan dunia itu.
Data CKG memberi pelajaran penting. Pemerintah kini bisa melihat masalah kesehatan anak lebih dini.
Pada September 2026, Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa sekitar 35 ribu anak, atau 1,08 persen peserta CKG, mengalami gangguan jiwa. Pada kelompok dewasa, sekitar 186 ribu orang mengalami gangguan depresi dan kecemasan.
Data ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan mengingatkan bahwa hasil skrining tidak boleh menggantikan diagnosis.
Indonesia memasuki fase penting dalam membangun sistem kesehatan mental. Data yang tersedia makin luas. Tantangan berikutnya adalah memastikan data itu berujung pada tindakan.
Dunia tanpa tekanan tidak pernah ada. Gen Z dan Gen Alpha memerlukan keluarga yang mau mendengar, sekolah yang aman, pertemanan yang sehat, teknologi yang bertanggung jawab, dan layanan profesional yang terjangkau saat masalah memberat.
Kesehatan mental generasi muda mencerminkan lingkungan yang orang dewasa bangun untuk mereka. Anak yang takut mengaku tertekan menghadapi masalah yang tidak hanya berasal dari dirinya. Remaja yang tahu dirinya butuh bantuan tetapi tidak tahu harus ke mana juga menghadapi masalah di luar dirinya. Orang yang memilih diam karena takut dicap berbeda menunjukkan bahwa masyarakat ikut bertanggung jawab.
Gen Z dan Gen Alpha tumbuh di dunia yang bergerak sangat cepat. Generasi yang lebih tua perlu menjamin mereka punya ruang untuk berhenti saat lelah, alih-alih menyuruh mereka berlari lebih cepat. Kemajuan Indonesia tidak cukup diukur dari kecepatan anak menguasai teknologi, memenangkan kompetisi, atau meraih prestasi akademik.
Ukuran lain adalah apakah seorang anak bisa mengatakan dirinya sedang tidak baik-baik saja dan tetap merasa aman meminta pertolongan.
Kesehatan mental seharusnya mulai terjaga sebelum krisis datang, yaitu saat seseorang pertama kali merasa tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Penulis : Muhammad Zahrudin Afnan - Guru Biologi
Editor : Amal Jaelani