<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
            xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
            xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
            xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
            xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
            xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel>
                <title>Ayo Jatim</title>
                <atom:link href="https://ayojatim.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
                <link>https://ayojatim.com/</link>
                <description>Gerbang Baru Jawa Timur</description>
                <lastBuildDate>Wed, 08 Jul 2026 17:01:00 +0700</lastBuildDate>
                <language>id-ID</language>
                <generator>https://ayojatim.com/</generator>
                <image>
                    <url>https://static.ayojatim.com/po-content/uploads/logo/logo.png</url>
                    <title>Ayo Jatim</title>
                    <link>https://ayojatim.com/</link>
                </image><item>
                    <title><![CDATA[Surabaya Printing Expo 2026 Resmi Digelar, Jadi Pusat Inovasi Industri Grafika dan Peluang Bisnis di Indonesia Timur]]></title>
                    <link>https://ayojatim.com/news-26842-surabaya-printing-expo-2026-resmi-digelar-jadi-pusat-inovasi-industri-grafika-dan-peluang-bisnis-di-indonesia-timur</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://ayojatim.com/news-26842-surabaya-printing-expo-2026-resmi-digelar-jadi-pusat-inovasi-industri-grafika-dan-peluang-bisnis-di-indonesia-timur</guid>
                    <pubDate>Wed, 08 Jul 2026 17:01:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[SURABAYA, AYOJATIM.COM – Industri percetakan nasional terus menunjukkan geliat positif seiring meningkatnya kebutuhan sektor manufaktur, kemasan, periklanan, h]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong style="font-size: 1.1rem;">SURABAYA, AYOJATIM.COM </strong><span style="font-size: 1.1rem;">&ndash; Industri percetakan nasional terus menunjukkan geliat positif seiring meningkatnya kebutuhan sektor manufaktur, kemasan, periklanan, hingga ekonomi kreatif. Momentum tersebut tercermin dalam pembukaan Surabaya Printing Expo (SPE) 2026, pameran industri grafika terbesar di Indonesia Timur yang resmi digelar di Grand City Convention Center, Surabaya, pada 8&ndash;11 Juli 2026.</span></p>
<p>Memasuki penyelenggaraan ke-19, pameran yang digagas Krista Exhibitions Group ini menghadirkan lebih dari 150 peserta, termasuk 10 pelaku UMKM, serta menargetkan kunjungan sekitar 15.000 pengunjung dari berbagai sektor industri dan bisnis.</p>
<p>CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan Surabaya Printing Expo 2026 diharapkan menjadi motor penggerak pertumbuhan industri grafika di Jawa Timur yang selama ini menjadi salah satu pusat industri dan perdagangan terbesar di Indonesia.</p>
<p>"Jawa Timur memiliki potensi besar untuk mendorong perkembangan industri percetakan dan grafika, terutama seiring meningkatnya kebutuhan sektor manufaktur, kemasan, periklanan, dan ekonomi kreatif," ujar Daud saat pembukaan pameran, Rabu (8/7/2026).</p>
<p>Selama empat hari penyelenggaraan, pengunjung dapat melihat langsung perkembangan teknologi percetakan terkini melalui demonstrasi berbagai mesin dan solusi digital dari merek-merek nasional maupun internasional.</p>
<p>Beragam inovasi ditampilkan, mulai dari digital printing, offset printing, UV printing, 3D printing, hingga web-based printing system yang menawarkan proses produksi lebih cepat, presisi, efisien, dan hemat biaya. Kehadiran teknologi tersebut menjadi referensi bagi pelaku usaha dalam menghadapi transformasi industri yang semakin mengarah pada digitalisasi dan otomatisasi.</p>
<p>Tidak hanya menjadi ajang pameran produk, Surabaya Printing Expo 2026 juga menghadirkan berbagai seminar dan workshop yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi pelaku industri, akademisi, komunitas kreatif, hingga pelaku UMKM.</p>
<p>"Melalui pameran ini kami menghadirkan ruang kolaborasi bagi pelaku industri untuk memperkenalkan teknologi terkini, meningkatkan daya saing, sekaligus membuka peluang kemitraan dan pasar baru menuju industri grafika yang lebih inovatif, efisien, dan berkelanjutan," tambah Daud.</p>
<p>Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah workshop "Dari Ide ke Merchandise: Workshop Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk Desain Merchandise Kreatif". Sesi ini membahas bagaimana kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses kreatif, menghasilkan desain yang lebih inovatif, sekaligus membuka peluang bisnis baru di industri merchandise.</p>
<p>Selain itu, tersedia seminar bertajuk "Strategi UMKM Naik Kelas Melalui Bisnis Kreatif & Kemasan Produk" yang mengupas pentingnya inovasi produk, penguatan branding, serta desain kemasan sebagai strategi meningkatkan daya saing produk di pasar nasional maupun global.</p>
<p>Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Surabaya Printing Expo 2026 tidak hanya menjadi etalase teknologi percetakan, tetapi juga wadah kolaborasi bisnis yang mempertemukan produsen, distributor, desainer grafis, pelaku usaha, akademisi, hingga komunitas kreatif dalam satu ekosistem industri.</p>
<p>Krista Exhibitions berharap penyelenggaraan tahun ini mampu mempercepat adopsi teknologi di sektor grafika sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri percetakan di Indonesia.</p>
<p>Pameran Surabaya Printing Expo 2026 dibuka untuk umum pada 8&ndash;11 Juli 2026 pukul 10.00&ndash;19.00 WIB di Grand City Convention Center Surabaya. Pengunjung dapat melakukan registrasi secara daring maupun langsung di lokasi penyelenggaraan.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://static.ayojatim.com/po-content/uploads/202607/surabaya-printing-expo-2026.jpeg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Krista Exhibitions resmi membuka Surabaya Printing Expo (SPE) 2026, pameran industri grafika terbesar Indonesia Timur di Grand City Convention Center, Surabaya, Rabu (8/7/2026). Foto: Ayojatim]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Amal Jaelani]]></dc:creator><category><![CDATA[Ekonomi & Bisnis]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Senator Lia Istifhama Sambut Positif Ponpes Tambakberas Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU, Kembalikan Ruh Perjuangan Muassis]]></title>
                    <link>https://ayojatim.com/news-26843-senator-lia-istifhama-sambut-positif-ponpes-tambakberas-tuan-rumah-muktamar-ke-35-nu-kembalikan-ruh-perjuangan-muassis</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://ayojatim.com/news-26843-senator-lia-istifhama-sambut-positif-ponpes-tambakberas-tuan-rumah-muktamar-ke-35-nu-kembalikan-ruh-perjuangan-muassis</guid>
                    <pubDate>Wed, 08 Jul 2026 17:00:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Ning Lia menilai pelaksanaan Muktamar NU di Tambakberas bukan sekadar seremonial atau agenda rutin organisasi lima tahunan biasa.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> &ndash; Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi telah mengetok palu terkait lokasi dan waktu pelaksanaan forum tertinggi organisasi berlambang jagat tersebut.</p>
<p>Muktamar ke-35 NU diputuskan bakal digelar di Pondok Pesantren Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 27 hingga 31 Agustus 2026 mendatang.</p>
<p>Keputusan strategis tersebut disahkan dalam forum Rapat Gabungan Harian Syuriyah-Tanfidziyah PBNU. Pertemuan krusial jajaran pengurus pusat ini berlangsung khidmat di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/7/2026).</p>
<p>Penetapan lokasi forum tertinggi warga nahdliyin ini seketika memantik respons positif dari berbagai kalangan, termasuk dari jajaran legislatif.</p>
<p>Salah satu apresiasi mendalam datang dari Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Jawa Timur, Lia Istifhama.</p>
<p>Menurut srikandi parlemen yang akrab disapa Ning Lia tersebut, penunjukan Pondok Pesantren Tambakberas sebagai tuan rumah gelaran Muktamar ke-35 ini merupakan sebuah keputusan yang sangat luar biasa.</p>
<p>Langkah ini dinilai sarat akan makna simbolis yang mendalam bagi organisasi.</p>
<p>Ning Lia menegaskan bahwa Kabupaten Jombang, wabil khusus daerah Tambakberas, memiliki benang merah sosiologis dan hubungan historis yang sangat erat dengan linimasa perjalanan Nahdlatul Ulama.</p>
<p>Kawasan ini merupakan tempat di mana fondasi awal pemikiran NU digagas dan dirumuskan.</p>
<p>"Kabupaten Jombang yang dikenal luas sebagai Kota Santri itu merupakan tempat lahir dan tumbuhnya para ulama besar yang menjadi pendiri sekaligus penggerak utama lahirnya NU," ujar Ning dalam keterangannya, Rabu (8/7/2026).</p>
<p>Senator yang juga dikenal aktif sebagai aktivis perempuan nahdliyin ini menyebutkan beberapa nama besar tokoh ulama legendaris.</p>
<p>Di antaranya adalah almaghfurlah KH Hasyim Asy&rsquo;ari, almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah, serta almaghfurlah KH Bisri Syansuri.</p>
<p>Karena rekam jejak tersebut, Ning Lia menilai pelaksanaan Muktamar NU di Tambakberas bukan sekadar seremonial atau agenda rutin organisasi lima tahunan biasa.</p>
<p>Forum ini dipandang sebagai momentum bersejarah yang krusial untuk mengingatkan kembali seluruh kader pada akar perjuangan para muassis (pendiri) NU.</p>
<p>"Kita semua tahu bagaimana sejarah panjang Pesantren Tambakberas yang menjadi cikal bakal berdirinya pesantren-pesantren besar lainnya di Jombang. Pesantren Denanyar, Pesantren Tebuireng, hingga Rejoso itu masih mempunyai hubungan genealogi yang sangat erat dengan Tambakberas," urai Ning Lia.</p>
<p>Lebih lanjut, keponakan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ini menambahkan, penunjukan lokasi ini mengemban misi ideologis yang kuat.</p>
<p>Muktamar ke-35 NU di Tambakberas diharapkan mampu mengembalikan sekaligus menyalakan kembali ruh perjuangan para pendahulu.</p>
<p>Warisan mulia para ulama terdahulu dalam membangun peradaban Islam yang moderat harus terus dirawat oleh generasi masa kini.</p>
<p>Selain itu, momentum ini menjadi penegasan komitmen kolektif warga NU dalam menjaga dan mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).</p>
<p>"Jombang adalah rumah besar bagi para ulama dan pesantren. Sehingga terpilihnya Tambakberas dipastikan dapat menjadi bagian penting dari catatan sejarah besar Nahdlatul Ulama dari masa ke masa," terang senator berparas anggun tersebut secara gamblang.</p>
<p>Kembalinya Muktamar NU ke bumi Jombang ini seolah mengulang memori manis satu dekade lalu.</p>
<p>Publik tentu masih mengingat dengan jelas bahwa pada tahun 2015, Kabupaten Jombang juga pernah sukses menyelenggarakan perhelatan akbar Muktamar ke-33 NU yang bertempat di empat pesantren utama.</p>
<p>Menjelang pembukaan forum tertinggi tersebut, Ning Lia turut mengajak seluruh warga nahdliyin dan para peserta muktamar dari berbagai daerah untuk melakukan refleksi mendalam.</p>
<p>Kehadiran para delegasi diharapkan tidak hanya sekadar untuk menyukseskan acara, tetapi juga menyerap spirit lokal.</p>
<p>Ia mengimbau para kader agar dapat meneladani secara nyata peran, gagasan, diplomasi, serta ketokohan para pendahulu organisasi.</p>
<p>Salah satu figur sentral yang wajib diteladani adalah Kiai Wahab Chasbullah, sang penggerak yang juga tokoh asli dari Tambakberas.</p>
<p>Mengakhiri pernyataannya, Ning Lia berharap forum permusyawaratan tertinggi ini dapat berlangsung kondusif dalam suasana kebersamaan, persatuan, penuh cinta, dan diliputi rahmat Tuhan.</p>
<p>Dengan demikian, Muktamar ke-35 diharapkan melahirkan keputusan-keputusan strategis bagi masa depan organisasi dan jam'iyyah.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://static.ayojatim.com/po-content/uploads/202607/1001802254.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Dr. Lia Istifhama, M.E.I, Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Jawa Timur. foto: dok.B59.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Diday Rosadi]]></dc:creator><category><![CDATA[News]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Pasca Idul Adha Harga Sapi Siap Potong Terus Melambung]]></title>
                    <link>https://ayojatim.com/news-26841-pasca-idul-adha-harga-sapi-siap-potong-terus-melambung</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://ayojatim.com/news-26841-pasca-idul-adha-harga-sapi-siap-potong-terus-melambung</guid>
                    <pubDate>Tue, 07 Jul 2026 23:32:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Muthowif menjelaskan, harga tergantung dari kadar airnya, semakin banyak kandungan airnya semakin murah harganya. Begitu pula sebaliknya.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>SURABAYA</strong> - Pasca lebaran Idul Adha harga sapi siap potong terus melambung. Kondisi ini berdampak terhadap penyesuaian dengan harga daging segar di Surabaya.</p>
<p>Bila sebelum Idul Adha harga daging segar Rp130.000, perkilogram, sekarang mencapai harga Rp140.000, perkilogram.&nbsp;</p>
<p>Menurut Muthowif Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar Jawa Timur (PPSDS Jatim), dari hasil koordinasi dengan sejumlah pedagang di Jawa Timur didapati fakta harga daging sapi segar terus mengalami kenaikan.&nbsp;</p>
<p>"Padahal biasanya satu bulan pasca Idul Adha harga selalu turun. Harga daging tergantung dari kualitasnya. Jika kadar airnya tinggi, maka harga daging Rp120.000," kata Muthowif dalam keterangannya, Selasa (7/7/2026).</p>
<p>Ia melanjutkan, di pasar becek (tradisional) harga daging sapi segar sangat bervariatif, mulai dari harga Rp120.000,- Rp130.000. Bahkan ada yang diharga Rp140.000.&nbsp;</p>
<p>Muthowif menjelaskan, harga tergantung dari kadar airnya, semakin banyak kandungan airnya semakin murah harganya. Begitu pula sebaliknya, jika kadar airnya semakin sedikit, maka harga daging semakin mahal harganya.</p>
<p>"Sedangkan kondisi stok sapi siap potong di Jawa Timur terus mengalami kekurangan, kita bisa melihat dari kondisi di pasar sapi tradisional masing-masing kota dan kabupaten yang ada di Jawa Timur," terangnya.</p>
<p>Muthowif menambahkan, kondisi sapi siap potong di pasar tradisional hewan di masing-masing kota atau kabupaten mengalami penurunan penjualan. Kondisi ini sebagai pertanda kalau di Jawa Timur kekurangan stok sapi siap potong.</p>
<p>Ia mengungkapkan, kedepannya sapi potong akan terus mengalami kekurangan. Terlebih jika tidak ada perencanaan dan pengembangan yang bersifat strategis oleh pemerintah pusat.</p>
<p>"Terus berkurangnya stok sapi siap potong di Jawa Timur, sudah saya prediksi sejak tahun 2012, saat mengadakan mogok se-Jawa Timur. Oleh karena itu, saya berharap pemerintah pusat dan pemerintah provinsi mampu membuat perencanaan yang bersifat strategis dan berkelanjutan," pungkas kader muda NU tersebut.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://static.ayojatim.com/po-content/uploads/202607/1001799385.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Muthowif, MH, Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur. foto: dok.ppsds-jatim.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Diday Rosadi]]></dc:creator><category><![CDATA[Ekonomi & Bisnis]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Karnaval Budaya, Gubernur Khofifah dan Mayjen Rudy Saladin Kompak Naik Kereta Singo Barong]]></title>
                    <link>https://ayojatim.com/news-26840-karnaval-budaya-gubernur-khofifah-dan-mayjen-rudy-saladin-kompak-naik-kereta-singo-barong</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://ayojatim.com/news-26840-karnaval-budaya-gubernur-khofifah-dan-mayjen-rudy-saladin-kompak-naik-kereta-singo-barong</guid>
                    <pubDate>Tue, 07 Jul 2026 12:10:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Gubernur Khofifah mengapresiasi antusiasme seluruh peserta dan masyarakat yang bersama-sama menyukseskan penyelenggaraan Karnaval Budaya.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>BANGKALAN</strong> &ndash; Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin melepas Karnaval Budaya Upacara Pembukaan Bakti TNI Untuk Negeri di Alun-Alun Kabupaten Bangkalan, Senin (6/7/2026).</p>
<p>Karnaval tersebut menjadi simbol kemanunggalan TNI dan rakyat sekaligus ruang untuk memperkuat persatuan, gotong royong, serta pelestarian budaya lokal Madura.</p>
<p>Pelepasan karnaval ditandai dengan pengibaran bendera di depan Kodim 0829/Bangkalan.</p>
<p>Selanjutnya, iring-iringan peserta bergerak mengelilingi Alun-Alun Bangkalan dan mendapat sambutan antusias dari ribuan warga yang memadati sepanjang rute.</p>
<p>Suasana semakin semarak dengan penampilan musik ul-daul, kesenian tradisional khas Madura yang sarat nilai kebersamaan dan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat setempat.&nbsp;</p>
<p>Menambah kemeriahan acara, Gubernur Khofifah bersama Pangdam V/Brawijaya menaiki kereta hias bertema Singo Barong yang menjadi ikon dalam Karnaval Budaya tersebut.</p>
<p>Ratusan peserta yang tergabung dalam 13 kelompok karnaval ikut memeriahkan kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, komunitas sepeda antik, kelompok seni budaya, hingga para pelaku seni musik tradisional ul-daul.</p>
<p>Beragam atraksi dan kreativitas yang ditampilkan berhasil menyedot perhatian warga sekaligus menghadirkan suasana penuh kegembiraan dan kebersamaan.</p>
<p>Gubernur Khofifah mengapresiasi antusiasme seluruh peserta dan masyarakat yang bersama-sama menyukseskan penyelenggaraan Karnaval Budaya.</p>
<p>Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menjadi media untuk memperkuat persatuan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas.</p>
<p>&ldquo;Alhamdulillah, semangat seluruh peserta luar biasa. Karnaval ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan, menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya daerah, sekaligus menyemarakkan pelaksanaan Karya Bakti TNI AD di Wilayah Madura Tahun 2026,&rdquo; ujarnya.</p>
<p>Khofifah menegaskan, pelaksanaan Karnaval Budaya Bakti TNI Untuk Negeri tidak hanya mencerminkan semangat pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.</p>
<p>&ldquo;Kegiatan ini tidak hanya simbol pengabdian, lebih dari itu, ini juga jadi bagian pelestarian budaya lokal. Karnaval diisi berbagai performance yang spesial dan penuh kreativitas dari ribuan warga,&rdquo; imbuhnya.</p>
<p>Gubernur Khofifah menambahkan, keterlibatan pelajar, komunitas, seniman, hingga masyarakat umum menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya diwujudkan melalui infrastruktur, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai sosial, budaya, gotong royong, dan persatuan.</p>
<p>&ldquo;Di sini ada anak-anak, remaja, hingga dewasa tumpah ruah semuanya guyub rukun. Ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan masyarakat masih sangat kuat, sekaligus menjadi wujud nyata pelestarian kekayaan budaya daerah sebagai identitas bangsa yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,&rdquo; terangnya.</p>
<p>Lebih lanjut, Khofifah berharap semangat kolaborasi yang terbangun dalam kegiatan tersebut semakin memperkuat sinergi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur, TNI, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, harmonis, dan berkelanjutan.</p>
<p>&ldquo;Kehadiran masyarakat yang begitu antusias menjadi bukti bahwa kegiatan seperti ini mampu menjadi perekat persatuan. Semoga semangat kebersamaan ini terus terjaga dan menjadi energi positif dalam mendukung pembangunan serta kesejahteraan masyarakat,&rdquo; pungkasnya.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://static.ayojatim.com/po-content/uploads/202607/1001796907.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Gubernur Khofifah bersama Pangdam V/Brawijaya menaiki kereta hias bertema Singo Barong yang menjadi ikon dalam Karnaval Budaya tersebut.. foto: hms.roadpim-jatim.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Diday Rosadi]]></dc:creator><category><![CDATA[News]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Silaturahmi ke Pesantren Bina Insan Mulia, Prof Nasar Terima Keris Pandawa Cinarita dari Kiai Imjaz]]></title>
                    <link>https://ayojatim.com/news-26839-silaturahmi-ke-pesantren-bina-insan-mulia-prof-nasar-terima-keris-pandawa-cinarita-dari-kiai-imjaz</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://ayojatim.com/news-26839-silaturahmi-ke-pesantren-bina-insan-mulia-prof-nasar-terima-keris-pandawa-cinarita-dari-kiai-imjaz</guid>
                    <pubDate>Mon, 06 Jul 2026 18:58:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Sebagai penutup kunjungan, kedua tokoh saling bertukar cenderamata, Prof. Nasaruddin Umar menyerahkan sejumlah buku terbitan terbaru Kementerian Agama.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>CIREBON</strong> - Menteri Agama RI sekaligus Rais PBNU, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, melakukan kunjungan dan silaturahmi ke Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon.</p>
<p>Dalam kunjungan tersebut, Menag RI terlibat diskusi mendalam selama hampir tiga jam bersama Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, Lc., MA (Imjaz) membahas berbagai isu strategis terkait masa depan Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35 NU.</p>
<p>Pertemuan yang berlangsung sejak usai salat Zuhur hingga menjelang Ashar itu berlangsung hangat dan produktif.</p>
<p>Meski Prof. Nasaruddin Umar didampingi sejumlah pejabat Kementerian Agama, di antaranya Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta dan Jawa Barat, Direktur Pendidikan Pesantren, serta beberapa kepala kantor Kemenag daerah, namun sebagian besar diskusi dilakukan secara intensif antara kedua tokoh tersebut.</p>
<p>Sebagai penutup kunjungan, kedua tokoh saling bertukar cenderamata, Prof. Nasaruddin Umar menyerahkan sejumlah buku terbitan terbaru Kementerian Agama.</p>
<p>sementara KH Imam Jazuli menghadiahkan sebuah keris pusaka Cirebon bernama Pandawa Cinarita, yang selama ini tersimpan di ndalem Pondok Pesantren Bina Insan Mulia.</p>
<p>Keris tersebut melambangkan keseimbangan, keteguhan moral, dan kewibawaan seorang pemimpin. Dengan dhapur luk lima, Pandawa Cinarita merepresentasikan lima sifat utama yang terinspirasi dari karakter Pandawa, yakni kejujuran, keteguhan, keberanian, kebijaksanaan, dan kelembutan yang saling melengkapi.</p>
<p>&ldquo;Pusaka ini merupakan simbol harapan agar kepemimpinan selalu berlandaskan nilai moral, kebijaksanaan, dan pengabdian kepada umat. Setiap pusaka yang saya berikan selalu disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan penerimanya,&rdquo; pungkas KH Imam Jazuli.&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://static.ayojatim.com/po-content/uploads/202607/1001794200.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[KH Imam Jazuli menghadiahkan Prof Nasar sebuah keris pusaka Cirebon bernama Pandawa Cinarita, yang selama ini tersimpan di ndalem Pondok Pesantren Bina Insan Mulia. foto: istimewa.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Diday Rosadi]]></dc:creator><category><![CDATA[News]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Gubernur Khofifah dan Pangdam V/Brawijaya Resmi Buka Karya Bakti Skala Besar TNI AD di Madura]]></title>
                    <link>https://ayojatim.com/news-26838-gubernur-khofifah-dan-pangdam-vbrawijaya-resmi-buka-karya-bakti-skala-besar-tni-ad-di-madura</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://ayojatim.com/news-26838-gubernur-khofifah-dan-pangdam-vbrawijaya-resmi-buka-karya-bakti-skala-besar-tni-ad-di-madura</guid>
                    <pubDate>Mon, 06 Jul 2026 18:41:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi kepada Pangdam V/Brawijaya beserta seluruh jajaran atas komitmen yang terus dibangun bersama pemerintah daerah.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>BANGKALAN</strong> &ndash; Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudi Saladin secara resmi memulai pelaksanaan Karya Bakti Skala Besar TNI di Wilayah Madura Tahun 2026 yang dimulai dengan upacara pembukaan Bakti TNI Angkatan Darat untuk Rakyat Tahun 2026 di Alun-alun Kabupaten Bangkalan, Senin (6/7/2026).</p>
<p>Kegiatan ini digagas sebagai wujud sinergi lintas sektor guna mempercepat pemerataan pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Madura.</p>
<p>Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi kepada Pangdam V/Brawijaya beserta seluruh jajaran atas komitmen yang terus dibangun bersama pemerintah daerah dalam menghadirkan pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat.</p>
<p>&ldquo;Kolaborasi yang terjalin selama ini menjadi bukti bahwa pembangunan akan berjalan lebih cepat ketika seluruh elemen bangsa bergotong royong,&rdquo; kata Gubernur Khofifah.</p>
<p>&ldquo;Ini luar biasa dari Karya Bakti Skala Besar TNI AD untuk Madura. Ini akan ketemu format bagaimana kita membangun sinergi, kolaborasi dan kegotong royongan semua lini, semua level, semua elemen. Terima kasih Pak Pangdam beserta seluruh jajaran,&rdquo; tambahnya.</p>
<p>Gubernur Khofifah menyebut, dipilihnya Pulau Madura sebagai lokasi pelaksanaan Karya Bakti Skala Besar tahun ini adalah untuk mempercepat pembangunan kawasan yang memiliki potensi besar, namun masih menghadapi tantangan pada sektor infrastruktur, permukiman, pelayanan dasar, hingga kesejahteraan masyarakat. Ia optimis, program ini akan memberikan muliplier effect yang luas bagi kemajuan Pulau Madura.&nbsp;</p>
<p>&ldquo;Insya Allah ini muliplier effect nya akan sangat besar bagi percepatan pembangunan sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat di Pulau Madura,&rdquo; terangnya.</p>
<p>Ia menilai, percepatan pembangunan Madura tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, TNI, Polri, dunia usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan, relawan, hingga masyarakat.</p>
<p>&ldquo;Ketika seluruh elemen bergerak bersama, pembangunan akan berlangsung lebih cepat, lebih merata, dan manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat,&rdquo; pungkasnya.</p>
<p>Lebih lanjut, melalui Karya Bakti Skala Besar Tahun 2026, berbagai program fisik akan dilaksanakan, meliputi pembangunan 33 jembatan, 52 sumur bor, 20 rumah ibadah, renovasi 400 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) beserta MCK, pembangunan 20 sekolah, serta empat panti asuhan.</p>
<p>Tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, kegiatan ini juga menghadirkan berbagai program sosial dan kemanusiaan, seperti operasi katarak dan bibir sumbing, khitan massal, donor darah, bakti kesehatan, bakti lingkungan, bantuan mesin irigasi, penanaman 2.000 pohon trembesi, hingga pemberian kaki palsu dan kursi roda bagi masyarakat yang membutuhkan</p>
<p>&ldquo;Ada program fisik, ada program sosial dan kemanusiaan. Semuanya dibutuhkan oleh masyarakat dan pastinya berdampak langsung bagi mereka,&rdquo; lanjutnya.</p>
<p>Salah satu fokus utama Karya Bakti Skala Besar tahun ini, lanjutnya, adalah peningkatan kualitas hunian masyarakat melalui Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).</p>
<p>Khofifah menjelaskan, program tersebut merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memenuhi hak masyarakat untuk memperoleh tempat tinggal yang layak sekaligus mendukung Program Tiga Juta Rumah yang dicanangkan pemerintah pusat.</p>
<p>Lebih lanjut, kerja sama antara Pemprov Jatim dan Kodam V/Brawijaya dalam renovasi RTLH sendiri telah berlangsung sejak tahun 2009. Hingga tahun 2025, kolaborasi tersebut telah merealisasikan renovasi sebanyak 154.399 unit RTLH dengan total anggaran lebih dari Rp1,24 triliun.</p>
<p>Selain itu, sejak tahun 2019 telah dibangun 2.062 unit jamban keluarga untuk meningkatkan kualitas sanitasi masyarakat.</p>
<p>Pada Tahun Anggaran 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali mengalokasikan renovasi 1.700 unit RTLH di 18 Kodim wilayah Kodam V/Brawijaya dengan nilai bantuan Rp25 juta per unit atau total anggaran mencapai Rp42,5 miliar.</p>
<p>&ldquo;Tahun ini khusus untuk Pulau Madura, sebanyak 377 unit RTLH akan direnovasi, masing-masing 94 unit di Kabupaten Bangkalan, 94 unit di Kabupaten Sampang, 94 unit di Kabupaten Pamekasan, serta 95 unit di Kabupaten Sumenep,&rdquo; ungkapnya.</p>
<p>&ldquo;Kolaborasi panjang ini membuktikan bahwa sinergi Pemprov Jawa Timur dan Kodam V/Brawijaya tidak hanya memperbaiki rumah masyarakat, tetapi juga meningkatkan kesehatan, rasa aman, serta kualitas hidup keluarga penerima manfaat,&rdquo; tegasnya.</p>
<p>Di akhir, Gubernur Khofifah mengajak seluruh pihak menjaga semangat gotong royong selama pelaksanaan Karya Bakti Skala Besar agar seluruh program berjalan tepat sasaran, tepat mutu, dan tepat waktu.</p>
<p>Ia juga mengingatkan agar hasil pembangunan dipelihara dan dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.</p>
<p>&ldquo;Dengan semangat kebersamaan, kita jadikan Karya Bakti Skala Besar TNI sebagai momentum memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat, mempercepat pemerataan pembangunan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkokoh ketahanan wilayah di Pulau Madura,&rdquo; pungkasnya.</p>
<p>Sementara itu, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudi Saladin menyampaikan pelaksanaan Karya Bakti Skala Besar TNI AD di Wilayah Madura Tahun Anggaran 2026 merupakan wujud nyata pengabdian TNI kepada bangsa dan negara dalam membantu mengatasi kesulitan masyarakat dan mempercepat pembangunan.&nbsp;</p>
<p>&ldquo;Penghargaan dan apresiasi kepada Ibu Gubernur yang telah memberikan komitmen sinergi dan kolaborasi sehingga program ini bisa terselenggara. Ini wujud nyata pengabdian TNI kepada bangsa dan negara,&rdquo; kata Rudi.</p>
<p>&ldquo;Kami hadir membantu Pemerintah Daerah mengatasi kesulitan masyarakat dan mempercepat pembangunan. Tahun ini di Pulau Madura adalah bukti bahwa TNI dan rakyat bukan sekadar semboyan, tapi pengabdian yang berorientasi pada kebutuhan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,&rdquo; tutupnya.</p>
<p>Sebagai informasi, Gubernur Khofifah bersama Pangdam V/ Brawijaya juga melaksanakan peninjauan Bakti Sosial Kesehatan yang menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis dan donor darah.&nbsp;</p>
<p>Selain itu, rombongan juga meninjau Posko Karya Bakti Skala Besar dan stan UMKM. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelepasan peserta karnaval di depan Makodim 0829/Bangkalan. Karnaval tersebut diikuti oleh 13 kelompok peserta yang terdiri atas pelajar, komunitas sepeda antik, serta kelompok musik ul-daul yang menempuh rute mengelilingi Alun-Alun Bangkalan.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://static.ayojatim.com/po-content/uploads/202607/1001794116.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Gubernur Khofifah dan Pangdam V/Brawijaya menyaksikan pemeriksaan kesehatan dalam Karya Bakti TNI AD di Bangkalan, Madura. foto: KIP for ayojatim.]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Diday Rosadi]]></dc:creator><category><![CDATA[News]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Liburan Edukatif, Pelindo TPK Gandeng BNN dan BPBD Gelar Portground]]></title>
                    <link>https://ayojatim.com/news-26837-liburan-edukatif-pelindo-tpk-gandeng-bnn-dan-bpbd-gelar-portground</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://ayojatim.com/news-26837-liburan-edukatif-pelindo-tpk-gandeng-bnn-dan-bpbd-gelar-portground</guid>
                    <pubDate>Mon, 06 Jul 2026 17:11:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Pelindo TPK menggelar Portground Vol.1 di Surabaya. Anak-anak belajar dunia pelabuhan, bahaya narkoba, dan kesiapsiagaan bencana.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><strong>SURABAYA, AYOJATIM.COM </strong>&ndash; Libur sekolah dimanfaatkan PT Pelindo Terminal Petikemas (Pelindo TPK) untuk menghadirkan kegiatan edukatif bagi anak-anak. Melalui Portground Vol.1, peserta diajak mengenal aktivitas pelabuhan sekaligus memperoleh pembelajaran tentang bahaya narkotika dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.</p>
<p>Program yang berlangsung di Terminal Petikemas Surabaya, Senin (6/7/2026), digelar bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya.</p>
<p>Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup besar. Dari kuota 50 peserta, sebanyak 555 anak dari berbagai daerah di Jawa Timur mendaftarkan diri. Mereka merupakan siswa kelas 5 dan 6 SD serta kelas 7 dan 8 SMP.</p>
<p>Selama mengikuti Portground, peserta diajak menyaksikan langsung aktivitas di terminal peti kemas. Anak-anak belajar bagaimana barang dari berbagai daerah didistribusikan melalui pelabuhan serta memahami peran pelabuhan dalam mendukung perekonomian dan konektivitas antardaerah.</p>
<p>Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan pengenalan sektor kepelabuhanan sejak usia dini diharapkan dapat membuka wawasan generasi muda mengenai pentingnya industri maritim.</p>
<p>"Kami ingin anak-anak melihat langsung aktivitas pelabuhan dan memahami bagaimana barang yang mereka gunakan setiap hari bisa sampai ke berbagai daerah. Harapannya, pengalaman tersebut dapat menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap dunia kepelabuhanan," ujarnya.<br />Menurut Widyaswendra, tingginya jumlah pendaftar menjadi bukti bahwa edukasi bertema pelabuhan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Pendekatan yang dikemas secara interaktif dinilai lebih mudah dipahami anak-anak.</p>
<p>Tak hanya belajar tentang pelabuhan, peserta juga mendapat materi mengenai bahaya penyalahgunaan narkotika dari BNN Kota Surabaya.</p>
<p>Kepala BNN Kota Surabaya, Heru Prasetyo, mengatakan edukasi sejak dini menjadi langkah penting untuk membangun generasi yang mampu menjauhi narkoba.</p>
<p>"Anak-anak perlu memahami pentingnya menjaga kesehatan, memilih lingkungan pergaulan yang baik, dan berani menolak pengaruh negatif. Penyampaian materi melalui kegiatan seperti ini membuat pesan lebih mudah diterima," katanya.<br />Sementara itu, BPBD Kota Surabaya membekali peserta dengan pengetahuan dasar mengenai keselamatan dan langkah menghadapi kondisi darurat.</p>
<p>Tim Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Surabaya, Nadya Sukma Batubara, menjelaskan anak-anak perlu memiliki pemahaman sederhana mengenai mitigasi bencana agar tidak panik ketika menghadapi situasi darurat.</p>
<p>Peserta juga mengaku mendapatkan pengalaman baru. Raff Yehezkiel Hutapea, siswa SD Bunga Bangsa Surabaya, mengaku baru pertama kali melihat aktivitas terminal peti kemas dari dekat.</p>
<p>"Saya senang bisa melihat pelabuhan secara langsung. Ternyata terminal peti kemas sangat besar dan banyak barang dikirim menggunakan kapal," ungkapnya.</p>
<p>Hal serupa disampaikan Lysa Octaviani, salah seorang orang tua peserta. Menurutnya, Portground menjadi pilihan kegiatan liburan yang memberikan manfaat sekaligus menambah wawasan anak.</p>
<p>Ia berharap program serupa dapat digelar secara rutin sehingga semakin banyak anak memperoleh kesempatan mengenal dunia pelabuhan, keselamatan, dan hidup sehat sejak usia dini.</p>
<p>Melalui Portground Vol.1, Pelindo TPK berharap edukasi kepelabuhanan semakin dekat dengan masyarakat. Kolaborasi bersama BNN dan BPBD juga menjadi upaya membangun generasi muda yang mengenal sektor maritim, peduli terhadap keselamatan, serta memiliki kesadaran untuk menjauhi narkoba.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://static.ayojatim.com/po-content/uploads/202607/portground.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Salah satu peserta Portground mempresentasikan kepelabuhanan. Foto/Humas Pelindo TPK]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Alim Perdana]]></dc:creator><category><![CDATA[Ekonomi & Bisnis]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Jalan Sunyi Gus Gudfan, Kartu-Kartu Semesta, dan Masa Depan Nahdlatul Ulama yang Digantungkan]]></title>
                    <link>https://ayojatim.com/news-26836--jalan-sunyi-gus-gudfan-kartu-kartu-semesta-dan-masa-depan-nahdlatul-ulama-yang-digantungkan</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://ayojatim.com/news-26836--jalan-sunyi-gus-gudfan-kartu-kartu-semesta-dan-masa-depan-nahdlatul-ulama-yang-digantungkan</guid>
                    <pubDate>Mon, 06 Jul 2026 16:14:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Lelaki itu adalah Gudfan Arif Ghofur, atau Gus Gudfan, Bendahara Umum PBNU, keturunan ke-16 Sunan Drajat dari jalur ayah, dan pewaris trah Sunan Giri dari jalur]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 1.1rem;">Oleh: Nyi Deasy Arista Sari<br />Tarot Reader & Sekretaris Yayasan Satria Merah Jambubu</span></p>
<p><strong>Ketika Seorang Keturunan Wali Menolak Panggungnya</strong></p>
<p><strong>ADA</strong> sebuah momen yang nyaris luput dari pengamatan publik. Di tengah riuh rendah spekulasi tentang siapa yang akan memimpin Nahdlatul Ulama di abad kedua, dan di tengah manuver-manuver politik yang semakin intens, seorang lelaki berdarah dua wali justru mengambil langkah mundur.</p>
<p>Ia tidak berkenan dicalonkan. Ia bahkan menolak jika namanya masih tercantum dalam susunan pengurus. Di ruang-ruang tertutup, kepada sahabat-sahabat dekatnya, ia berbisik, "Cukup. Aku sudah menyelesaikan apa yang menjadi tugasku."</p>
<p>Lelaki itu adalah Gudfan Arif Ghofur, atau Gus Gudfan, Bendahara Umum PBNU, keturunan ke-16 Sunan Drajat dari jalur ayah, dan pewaris trah Sunan Giri dari jalur ibu. Langkah mundurnya itu bukanlah sebuah kekalahan.</p>
<p>Langkah tersebut justru mengundang pertanyaan yang jauh lebih besar, lebih dalam, dan lebih metafisik: Apa yang terjadi jika seseorang yang "disiapkan semesta" menolak takdirnya? Dan apa yang akan terjadi pada organisasi sebesar NU jika figur seperti ini benar-benar pergi?</p>
<p>Dalam tradisi pesantren, ada sebuah kearifan yang diwariskan secara lisan: "Seorang pemimpin sejati tidak pernah mencalonkan diri. Ia dipilih oleh keadaan, didorong oleh doa-doa para leluhur, dan diantar ke gerbangnya oleh takdir yang tidak bisa ia tolak." Sejarah NU dipenuhi dengan kisah-kisah semacam ini.</p>
<p>KH. Hasyim Asy'ari tidak pernah bercita-cita mendirikan organisasi raksasa; ia hanya ingin mengajar di pesantren. KH. Wahab Chasbullah tidak pernah bermimpi menjadi arsitek politik; ia hanya ingin membela kebenaran.&nbsp;</p>
<p>Gus Dur tidak pernah mengejar kursi presiden; ia "didorong" oleh keadaan dan restu para kiai. Semuanya adalah pemimpin yang "dipilih", bukan yang "memilih diri sendiri".</p>
<p>Kini, pola yang sama tampaknya sedang berulang. Penolakan Gus Gudfan di tengah carut-marut PBNU&mdash;yang sebenarnya membutuhkan figur pemersatu adalah tanda yang terlalu jelas untuk diabaikan.</p>
<p>Tulisan ini hendak menempuh jalan yang tidak biasa. Esai ini akan membaca penolakan Gus Gudfan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai tanda.&nbsp;</p>
<p>Seperti seorang peramal yang membaca kartu bukan untuk meramal nasib, melainkan untuk menyingkap arketipe yang bekerja di balik realitas, kita akan menyusuri jalan sunyi Gus Gudfan melalui perspektif spiritual yang mendalam, melalui kartu-kartu yang telah dibentangkan oleh semesta, dan melalui kearifan Nahdlatul Ulama yang telah teruji selama satu abad.</p>
<p>Pertanyaannya sederhana namun menuntut jawaban yang kompleks: Potensi apa yang terjadi bila PBNU berjalan tanpa Gus Gudfan Arif Ghofur dalam kondisi carut-marut seperti ini?</p>
<p><strong>Budaya Politik NU: Pemimpin yang Tidak Pernah Mencalonkan Diri</strong></p>
<p>Untuk memahami mengapa penolakan Gus Gudfan justru merupakan konfirmasi atas kelayakannya, kita harus terlebih dahulu menyelami budaya politik Nahdlatul Ulama. Dalam tradisi NU, ada sebuah norma tidak tertulis yang sangat kuat: seorang pemimpin sejati tidak pernah mencalonkan diri.</p>
<p>Ia harus "ditarik", bukan "mendorong". Ia harus "diminta", bukan "meminta". Norma ini memiliki akar yang dalam, baik secara sosiologis, politis, maupun spiritual.</p>
<p>Secara sosiologis, NU adalah organisasi yang berbasis pada pesantren dan kiai. Dalam budaya pesantren, tawadhu&rsquo; atau kerendahan hati adalah nilai tertinggi. Seorang santri diajarkan untuk tidak pernah mengangkat tangannya sendiri, tidak pernah menyatakan dirinya layak, dan tidak mengejar jabatan.</p>
<p>Jabatan adalah amanah, dan amanah hanya bisa diterima, bukan direbut. Mereka yang mengejar jabatan akan dicurigai memiliki motif tersembunyi; sebaliknya, mereka yang menolak jabatan justru akan dipercaya.</p>
<p>Secara politis, norma ini berfungsi sebagai mekanisme seleksi alamiah. Dalam organisasi sebesar NU, godaan untuk menggunakan jabatan sebagai batu loncatan politik atau ekonomi sangatlah besar. Mereka yang bersedia mencalonkan diri sering kali adalah mereka yang memiliki agenda pribadi.</p>
<p>Sebaliknya, mereka yang menolak yang harus didesak, diyakinkan, bahkan "dipaksa" oleh para kiai adalah mereka yang benar-benar melihat jabatan sebagai beban, bukan hadiah. Merekalah yang paling amanah, karena mereka tidak menginginkan apa pun dari jabatan itu.</p>
<p>Secara spiritual, norma ini adalah manifestasi dari faqr, yaitu kefakiran batin di hadapan Allah. Seorang hamba yang faqr tidak meminta apa pun kepada Allah kecuali rida-Nya. Ia tidak mengejar dunia, dan jika dunia datang kepadanya, ia menerimanya sebagai ujian, bukan hadiah.</p>
<p>Dalam tradisi sufi, seorang wali sejati tidak pernah mengaku sebagai wali; ia bahkan tidak menyadari kewaliannya. Semakin tinggi maqam-nya, semakin tersembunyi ia dari pandangan manusia, bahkan dari pandangan dirinya sendiri.</p>
<p>Gus Gudfan, dengan penolakannya yang tegas bahkan hingga menolak menjadi pengurus, sedang menjalankan sunah ini. Ia sedang membuktikan bahwa ia tidak menginginkan jabatan. Justru karena itulah, dalam logika NU, ia menjadi semakin layak.</p>
<p>Tetapi ada hal yang lebih dalam lagi: penolakan Gus Gudfan bukan sekadar tawadhu' personal. Langkah ini adalah strategi langit yang bekerja melalui jiwa seorang hamba. Dalam bahasa Jawa, ini disebut "nrimo ing pandum" menerima pembagian dengan ikhlas.</p>
<p>Namun, nrimo di sini bukanlah fatalisme; melainkan kesadaran bahwa segala sesuatu memiliki waktunya, dan manusia tidak bisa mempercepat atau memperlambat ketentuan Ilahi. Jika takdir telah membuka jalan, penolakan manusia hanya akan menunda, bukan membatalkan.</p>
<p><strong>Membaca Kartu-Kartu Semesta: Arketipe Perjalanan Gus Gudfan</strong></p>
<p>Kita akan menggunakan enam kartu arketipe untuk membaca perjalanan spiritual Gus Gudfan&mdash;bukan sebagai ramalan, melainkan sebagai peta simbolik dari kekuatan-kekuatan yang sedang bekerja.</p>
<p><strong>Kartu III: The Nurturer (Sang Pemelihara)</strong></p>
<p>Kartu ini adalah titik awal perjalanan. The Nurturer atau dalam tradisi lain disebut The Empress melambangkan pengasuhan, pertumbuhan, penyelarasan, dan pemahaman akan siklus kehidupan. Ini adalah energi ibu, energi bumi, energi yang merawat dan menumbuhkan.</p>
<p>Dalam konteks Gus Gudfan, Kartu III merepresentasikan masa pembentukannya. Ia tumbuh di Pondok Pesantren Sunan Drajat di bawah asuhan KH. Abdul Ghofur&mdash;seorang kiai yang tidak hanya mengasuh santri, tetapi juga merawat tokoh-tokoh bangsa.&nbsp;</p>
<p>Sejak kecil, Gus Gudfan menyaksikan bagaimana ayahnya menerima semua orang tanpa memandang latar belakang: dari anak-cucu Soeharto hingga Bondan Gunawan, dari Habib Rizieq hingga Prabowo Subianto. Ia belajar bahwa seorang pemimpin adalah "payung" tempat berteduh bagi siapa pun yang kehujanan.</p>
<p>Kartu III juga berbicara tentang penyelarasan: menyelaraskan diri dengan ritme alam, dengan warisan leluhur, dan dengan panggilan jiwa.&nbsp;</p>
<p>Gus Gudfan menghabiskan masa mudanya dengan mendampingi Gus Dur dalam pertemuan-pertemuan rahasia, menyaksikan bagaimana politik dijalankan dengan kebijaksanaan dan humor.&nbsp;</p>
<p>Ia juga mendalami Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, menyelaraskan napasnya dengan zikir khafi yang sunyi. Semua ini adalah masa The Nurturer: masa persiapan yang tampak tenang di permukaan, tetapi penuh dengan pertumbuhan di kedalaman.</p>
<p><strong>Kartu XIX: The Radiance (Sang Kemilau)</strong></p>
<p>Jika Kartu III adalah pertumbuhan di dalam tanah, Kartu XIX adalah mekarnya bunga di bawah sinar matahari. The Radiance atau The Sun melambangkan kehadiran penuh, keberlimpahan, dan penguatan. Ini adalah energi matahari: menerangi, menghangatkan, dan memberi kehidupan.</p>
<p>Dalam perjalanan Gus Gudfan, Kartu XIX muncul ketika ia memasuki dunia bisnis dan membangun jaringan ekonomi. Ia menjadi pengusaha sukses di sektor minyak, gas, petrokimia, dan pertambangan. Ia bukan lagi sekadar "anak kiai"; ia adalah figur yang memiliki kekuatan material untuk menopang organisasi.&nbsp;</p>
<p>Ketika PBNU di bawah kepemimpinan Yahya Cholil Staquf membutuhkan seseorang untuk mengelola tambang batu bara, sebuah amanah yang berat dan kontroversial, Gus Gudfan adalah jawabannya. Ia hadir sepenuhnya, menerangi jalan kemandirian ekonomi NU dengan cahaya kompetensi dan integritasnya.</p>
<p>Tetapi Kartu XIX juga memiliki sisi lain: ia adalah ruang persiapan. Matahari memang bersinar terang, tetapi ia hanyalah satu fase. Setelah matahari bersinar, malam akan datang. Setelah kejayaan, ujian akan tiba. Gus Gudfan, dalam fase The Radiance, sedang dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar.&nbsp;</p>
<p>Kemilau ekonominya, keberhasilannya mengelola tambang, posisinya sebagai Bendahara Umum&mdash;semuanya adalah batu loncatan menuju panggung yang lebih besar. Namun, panggung utama itu belum tiba; ia masih menunggu di balik kartu-kartu berikutnya.</p>
<p><strong>Kartu IX: The Solitude (Sang Penyendiri)</strong></p>
<p>Inilah kartu kunci dalam membaca perjalanan spiritual Gus Gudfan. The Solitude atau The Hermit melambangkan kesunyian, kontemplasi, pencarian makna di dalam diri, dan penyembunyian identitas. Seorang pertapa tidak berteriak di pasar; ia duduk di guanya, mengamati, merenung, dan menunggu.</p>
<p>Dalam konteks politik NU, Kartu IX adalah kartu yang paling sering diabaikan. Banyak orang melihat politik sebagai panggung: semakin terang sorotan lampu, semakin besar kekuasaan. Namun dalam tradisi pesantren, justru sebaliknya: calon pemimpin sejati selalu menyembunyikan identitasnya.&nbsp;</p>
<p>Ia lebih banyak mengamati ruangan dalam sunyi, hingga menjadikan pemikirannya jernih. Ia tidak terburu-buru bicara; ia mendengarkan. Ia tidak terburu-buru bertindak; ia merenungkan.</p>
<p>Gus Gudfan, dengan penolakannya untuk dicalonkan dan bahkan untuk menjadi pengurus, sedang memasuki fase The Solitude ini. Ia mundur ke dalam sunyi bukan karena takut, melainkan karena ia perlu menjernihkan pandangan.&nbsp;</p>
<p>Di tengah carut-marut PBNU, di tengah friksi antara Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal, serta di tengah tarik-menarik kepentingan, ia memilih untuk mengamati dari kejauhan. Ini adalah langkah yang sangat sufistik: "al-&lsquo;uzlah fī al-fitnah" mengasingkan diri di tengah fitnah.</p>
<p>Namun, ada bahaya dalam The Solitude. Jika seseorang terlalu lama berdiam, ia bisa terjebak dalam kenyamanan sunyi dan melupakan bahwa seorang pertapa harus turun gunung ketika saatnya tiba. Di sinilah kartu-kartu berikutnya bekerja.</p>
<p><strong>Kartu XV: The Shadow (Sang Bayangan)</strong></p>
<p>Ini adalah kartu yang paling misterius. The Shadow atau The Devil dalam Tarot tradisional melambangkan sisi tersembunyi dari seorang pemimpin. Ia adalah bayangan yang selalu mengikuti, tetapi jarang diakui. Setiap pemimpin memiliki Shadow-nya sendiri: bisa berupa ambisi yang tak diakui, ketakutan yang disembunyikan, atau trauma masa lalu yang belum sembuh.</p>
<p>Dalam konteks Gus Gudfan, Kartu XV mengisyaratkan bahwa ada dimensi dari dirinya yang ia tutup rapat. Mungkin ia memiliki keraguan yang mendalam tentang kemampuannya memimpin.&nbsp;</p>
<p>Mungkin ia takut akan bayang-bayang ayahnya KH. Abdul Ghofur yang begitu besar. Mungkin ia merasa bahwa dirinya tidak cukup "alim" untuk memimpin organisasi ulama. Semua ini adalah Shadow yang sah dan manusiawi.</p>
<p>Tetapi Kartu XV juga berbicara tentang pilihan: apakah pemimpin itu akan tetap menutup rapat bayangannya, membiarkannya menguasai dari bawah sadar, ataukah ia akan menghadapinya, mengakuinya, dan mengintegrasikannya ke dalam kesadaran?</p>
<p>Dalam tradisi sufi, menghadapi Shadow adalah bagian dari mujāhadah perjuangan melawan hawa nafsu. Seorang sālik (penempuh jalan spiritual) harus berani turun ke dalam kegelapan dirinya sendiri, menghadapi monster-monster batin, dan keluar dengan membawa mutiara. Inilah yang harus dilakukan Gus Gudfan jika ia ingin melangkah ke kartu berikutnya.</p>
<p><strong>Kartu XVI: The Collapse (Sang Keruntuhan)</strong></p>
<p>The Collapse atau The Tower adalah kartu yang paling ditakuti. Ia melambangkan runtuhnya struktur lama, hancurnya menara yang dibangun dengan sombong, dan kehancuran yang mendadak. Namun dalam perspektif spiritual, Kartu XVI bukan hanya tentang kehancuran; melainkan tentang pembebasan.&nbsp;</p>
<p>Menara yang runtuh adalah menara yang dibangun di atas fondasi yang rapuh. Keruntuhannya adalah kesempatan untuk membangun kembali di atas tanah yang lebih kokoh.</p>
<p>Pertanyaannya: apakah ruangan itu harus menunggu sampai runtuh hanya untuk melihat sebuah kebenaran? Apakah PBNU harus benar-benar hancur, tercabik-cabik oleh konflik internal, dan kehilangan legitimasi di mata umat, sebelum seorang pemimpin sejati muncul?</p>
<p>Kartu XVI dalam konteks Gus Gudfan adalah peringatan sekaligus panggilan. Sebagai peringatan: jika ia terus menolak dan tetap bersembunyi dalam sunyinya, PBNU bisa benar-benar runtuh. Organisasi yang telah berdiri selama satu abad ini bisa tercerai-berai oleh kepentingan-kepentingan yang saling bertabrakan.&nbsp;</p>
<p>Sebagai panggilan: ia tidak harus menunggu keruntuhan itu terjadi. Justru sebelum menara itu runtuh, pemimpin sejati hadir dengan penuh kebijaksanaan untuk memperkuat fondasi, mengganti bagian-bagian yang rapuh, dan mencegah kehancuran total.</p>
<p>Inilah titik kritis dalam perjalanan spiritual Gus Gudfan. Apakah ia akan tetap dalam fase The Solitude-nya, menyaksikan dari kejauhan sementara menara NU berguncang? Ataukah ia akan melangkah keluar dari sunyi, menghadapi Shadow-nya, dan mencegah The Collapse sebelum terlambat?</p>
<p><strong>Kartu XII: The Surrender (Sang Kepasrahan)</strong></p>
<p>Inilah kartu penutup. The Surrender atau The Hanged Man adalah kartu yang paling sulit dipahami oleh logika modern. Ia melambangkan penyerahan diri, pengorbanan, dan penerimaan terhadap takdir. Seseorang yang tergantung terbalik, tetapi wajahnya tenang. Ia telah melepaskan kendali; ia telah menyerahkan segalanya kepada semesta.</p>
<p>Dalam konteks Gus Gudfan, Kartu XII adalah jawaban atas penolakannya. Ia menolak dicalonkan, ia menolak menjadi pengurus, dan ia ingin mundur ke dalam sunyi. Namun semesta melalui para kiai, keadaan, dan doa-doa yang dipanjatkan di makam Sunan Drajat, terus mendorongnya ke depan.&nbsp;</p>
<p>Penolakannya adalah bagian dari The Surrender: ia menolak bukan karena tidak mampu, melainkan karena ia menyerahkan segalanya kepada Allah. "Jika Engkau menghendaki, ya Allah, mudahkanlah jalannya. Jika tidak, singkirkanlah aku dari jalan ini."</p>
<p>Di sinilah letak ironi spiritual yang paling dalam: ketika seseorang benar-benar pasrah dan tidak menginginkan apa pun, justru pada saat itulah ia paling siap untuk menerima segalanya. The Surrender adalah kartu yang mengubah penolakan menjadi penerimaan, ketakutan menjadi keberanian, dan keraguan menjadi keyakinan.&nbsp;</p>
<p>Ketika Gus Gudfan berkata "aku tidak mau", ia sebenarnya sedang mengucapkan doa yang paling tulus: "Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang terjadi."</p>
<p><strong>Korelasi Kartu-Kartu: Peta Perjalanan dari The Nurturer ke The Surrender</strong></p>
<p>Sekarang, mari kita melihat korelasi antara keenam kartu ini. Mereka bukanlah entitas yang terpisah; melainkan bab-bab dalam sebuah narasi yang koheren.</p>
<p>The Nurturer (III) dan The Radiance (XIX) adalah fase persiapan. Di bawah asuhan Kiai Ghofur dan dalam kemilau bisnisnya, Gus Gudfan dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar. Ia belajar melayani, mengelola, dan berzikir dalam sunyi.&nbsp;</p>
<p>Fase ini berlangsung selama puluhan tahun sangat lambat, sangat sunyi, dan hampir tidak terlihat. Namun, seperti akar pohon yang tumbuh di bawah tanah, fase ini adalah fondasi dari segalanya.</p>
<p>The Solitude (IX) adalah fase penjernihan. Setelah fase persiapan selesai, sang calon pemimpin mundur ke dalam sunyi. Ia mengamati, merenung, dan menunggu. Ini adalah fase yang sering disalahpahami sebagai kelemahan atau keraguan. Padahal, ini adalah fase yang paling penting: tanpa kejernihan, tindakan hanya akan memperkeruh keadaan.</p>
<p>The Shadow (XV) adalah fase konfrontasi. Di dalam sunyi, sang calon pemimpin bertemu dengan bayangannya sendiri. Ia harus menghadapi ketakutan, keraguan, dan ambisi yang selama ini ia sembunyikan. Ini adalah fase yang paling menyakitkan, tetapi juga paling membebaskan.</p>
<p>The Collapse (XVI) adalah fase krisis. Menara lama mulai berguncang dan struktur yang rapuh mulai retak. Ini adalah fase di mana banyak orang panik, tetapi justru di sinilah pemimpin sejati membuktikan dirinya. Ia tidak menunggu keruntuhan total; ia bertindak sebelum semuanya terlambat.</p>
<p>The Surrender (XII) adalah fase penerimaan. Setelah melewati semua fase sebelumnya, sang pemimpin mencapai kepasrahan total. Ia tidak lagi melawan takdir; ia menerima amanah dengan hati yang tenang. Pada saat itulah, ia benar-benar siap untuk memimpin.</p>
<p>Korelasi antara Kartu XV (The Shadow) dan Kartu XVI (The Collapse) adalah kunci dari seluruh narasi ini. Jika The Shadow tidak dihadapi, The Collapse tidak bisa dicegah. Artinya, jika Gus Gudfan terus menyembunyikan bayangannya jika ia terus menolak karena takut, bukan karena tawadhu' maka keruntuhan PBNU akan terjadi.&nbsp;</p>
<p>Namun, jika ia berani menghadapi bayangannya, mengakui ketakutannya, dan kemudian melangkah keluar dari sunyi dengan penuh kebijaksanaan, maka The Collapse tidak harus terjadi. Justru sebelum runtuh, pemimpin itu telah hadir.</p>
<p><strong>Apa yang Terjadi Jika PBNU Tanpa Gus Gudfan?</strong></p>
<p>Sampailah kita pada pertanyaan paling penting: Potensi apa yang terjadi bila PBNU berjalan tanpa Gus Gudfan Arif Ghofur dalam kondisi carut-marut seperti ini?</p>
<p>Untuk menjawabnya, kita harus melihat kondisi PBNU saat ini secara jujur. PBNU periode 2022&ndash;2027 di bawah kepemimpinan Yahya Cholil Staquf diwarnai oleh berbagai dinamika. Ada friksi antara Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal, kontroversi seputar pengelolaan tambang, serta kritik dari berbagai pihak tentang arah organisasi.&nbsp;</p>
<p>Di tengah semua ini, figur seperti Gus Gudfan yang memiliki kombinasi langka antara legitimasi genealogis, kapasitas ekonomi, jaringan politik, dan kedalaman spiritual adalah perekat yang menyatukan faksi-faksi yang mulai retak.</p>
<p>Jika Gus Gudfan benar-benar pergi jika ia tidak hanya menolak menjadi Ketua Umum, tetapi juga menolak menjadi pengurus beberapa skenario mungkin terjadi:</p>
<p>Pertama, fragmentasi semakin dalam. Tanpa figur pemersatu yang diterima oleh berbagai faksi, PBNU bisa terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling bertarung. Basis massa di Jawa Timur, yang merupakan jantung NU, bisa terbelah. Kiai-kiai kampung yang selama ini menjadi tulang punggung organisasi bisa kehilangan kepercayaan.</p>
<p>Kedua, legitimasi organisasi menurun. NU adalah organisasi yang dibangun di atas kepercayaan. Jika konflik internal terus berlanjut tanpa ada figur yang mampu menengahi, warga Nahdliyin akan semakin sinis terhadap elite organisasi. Mereka akan tetap menjadi warga NU secara kultural, tetapi kehilangan kepercayaan terhadap PBNU secara struktural.</p>
<p>Ketiga, agenda ekonomi terhambat. Program kemandirian ekonomi NU, termasuk pengelolaan tambang, membutuhkan figur yang kompeten dan dipercaya. Tanpa Gus Gudfan, program ini bisa kehilangan arah, atau lebih buruk lagi, jatuh ke tangan pihak-pihak yang hanya mengejar keuntungan pribadi.</p>
<p>Keempat, hilangnya jembatan antargenerasi. Gus Gudfan adalah figur yang bisa berbicara dengan kiai sepuh sekaligus anak muda, dengan pengusaha dan petani garam, serta dengan politisi dan aktivis. Tanpanya, kesenjangan antara generasi tua dan generasi muda NU bisa semakin lebar.</p>
<p>Kelima, dan ini yang paling spiritual: hilangnya barakah. Dalam tradisi pesantren, barakah adalah energi spiritual yang mengalir melalui orang-orang saleh. Keturunan wali diyakini membawa barakah leluhurnya.&nbsp;</p>
<p>Jika Gus Gudfan keturunan Sunan Drajat dan Sunan Giri benar-benar meninggalkan PBNU, maka organisasi ini akan kehilangan salah satu saluran barakah-nya. Organisasi tanpa barakah adalah seperti tubuh tanpa ruh: ia masih bisa bergerak, tetapi tidak lagi hidup.</p>
<p><strong>Jalan Sunyi dan Ketenangan Batin: Warisan Anak Kiai</strong></p>
<p>Dalam tradisi pesantren, ada sebuah istilah yang disebut "jalan sunyi". Jalan sunyi bukanlah jalan yang sepi dari manusia; melainkan jalan yang sepi dari pamrih. Seorang anak kiai yang menempuh jalan sunyi tidak mencari pengakuan, tidak mengejar jabatan, dan tidak berteriak di panggung. Ia bekerja di balik layar, mengamati dalam diam, dan menunggu saat yang tepat.</p>
<p>Gus Gudfan adalah penempuh jalan sunyi ini. Penolakannya untuk dicalonkan, penolakannya untuk menjadi pengurus, serta keinginannya untuk mundur semuanya adalah bagian dari jalan sunyi itu. Ia tidak ingin menjadi pemimpin yang dipaksakan; ia ingin menjadi pemimpin yang "dilahirkan" oleh sejarah, seperti para pendahulunya.</p>
<p>Namun, jalan sunyi bukanlah jalan pelarian; melainkan jalan persiapan. Di dalam sunyi, seorang anak kiai menempa batinnya, menjernihkan pikirannya, dan memperdalam ma'rifah-nya. Ia belajar untuk menjadi "dhele kopong" kedelai kosong yang tidak lagi memiliki isi selain Allah. Ketika ia telah menjadi kosong, ia siap untuk diisi dengan amanah yang paling berat.</p>
<p>Ketenangan batin yang dimiliki Gus Gudfan yang tercermin dalam penolakannya yang tenang, bukan penolakan yang emosional adalah buah dari jalan sunyi ini. Ia tidak panik ketika PBNU carut-marut. Ia tidak tergesa-gesa untuk "menyelamatkan" organisasi. Ia tahu bahwa segala sesuatu memiliki waktunya. Ia tahu bahwa takdir tidak bisa dipaksakan, tetapi juga tidak bisa dihindari.</p>
<p>Dalam perspektif mistik-spiritual, penolakan Gus Gudfan bukanlah akhir. Langkah ini adalah bagian dari proses. Seperti biji yang harus mati di dalam tanah sebelum tumbuh menjadi pohon, atau seperti ulat yang harus hancur di dalam kepompong sebelum lahir sebagai kupu-kupu, Gus Gudfan sedang "menghancurkan" keinginan pribadinya agar kehendak Ilahi bisa bekerja. Ia sedang menjalani fanā&rsquo; peleburan diri sebelum mencapai baqā&rsquo; kehidupan baru dalam kesadaran Ilahi.</p>
<p><strong>Penutup: Jalan Telah Terbuka, Cahaya Semakin Terang</strong></p>
<p>Dalam pandangan mistik-spiritual, Gus Gudfan tidak boleh dan pada akhirnya tidak akan bisa melawan jalur kehidupan yang telah terbuka.&nbsp;</p>
<p>Penolakannya adalah hal yang manusiawi, bahkan terpuji dalam tradisi pesantren. Namun, jika ia terus menolak dan tetap bersembunyi dalam sunyi sementara menara NU berguncang, maka ia akan menyaksikan The Collapse keruntuhan yang mungkin tidak bisa diperbaiki lagi.</p>
<p>Sebaliknya, jika ia menerima jika ia melangkah keluar dari sunyi, menghadapi Shadow-nya, dan menyerahkan segalanya kepada Allah dalam The Surrender maka jalannya akan semakin terang.&nbsp;</p>
<p>Ia akan menjadi pemimpin yang tidak hanya menyelamatkan PBNU dari keruntuhan, tetapi juga membawanya ke abad kedua dengan penuh kebijaksanaan.</p>
<p>The Nurturer telah mempersiapkannya. The Radiance telah menguatkannya. The Solitude telah menjernihkannya. The Shadow menantinya untuk dihadapi. The Collapse menunggu untuk dicegah. Dan The Surrender kartu terakhir yang paling sakral adalah kunci yang akan membuka semua pintu.</p>
<p>Di pelataran makam Sunan Drajat, di malam-malam yang pekat, doa-doa terus dipanjatkan. Para leluhur menunggu. Warga Nahdliyin menunggu. Sejarah menunggu. Dan di suatu tempat, dalam sunyi yang paling sunyi, seorang anak kiai keturunan dua wali sedang bergulat dengan takdirnya sendiri.</p>
<p>Jalan telah terbuka. Cahaya semakin terang. Apakah ia akan melangkah?</p>
<p>Wallāhu a&lsquo;lam bi al-shawāb.</p>
<p>Nyi Deasy Arista Sari adalah Tarot Reader, pemerhati spiritualitas, serta Sekretaris Yayasan Satria Merah Jambu.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://static.ayojatim.com/po-content/uploads/202607/ilustrasi-gus-gudfan.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Foto ilustrasi/ChatGPT Image]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Alim Perdana]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Pendidikan untuk Zaman yang Belum Pernah Kita Alami]]></title>
                    <link>https://ayojatim.com/news-26835-pendidikan-untuk-zaman-yang-belum-pernah-kita-alami</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://ayojatim.com/news-26835-pendidikan-untuk-zaman-yang-belum-pernah-kita-alami</guid>
                    <pubDate>Mon, 06 Jul 2026 15:09:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Indonesia Emas 2045 sering dilontarkan dalam pidato, seminar, dan dokumen perencanaan sebagai cita-cita besar bangsa.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Ulul Albab<br />Akademisi, Pendidik, dan Berpengalaman&nbsp;<br />Memimpin Lembaga Pendidikan</p>
<p>INDONESIA Emas 2045 sering dilontarkan dalam pidato, seminar, dan dokumen perencanaan sebagai cita-cita besar bangsa. Kita membayangkan sebuah Indonesia yang maju, ekonominya kuat, teknologinya berkembang, demokrasinya semakin matang, dan rakyatnya hidup lebih sejahtera.&nbsp;</p>
<p>Gambaran seperti itu memang penting. Karena bangsa memang memerlukan harapan besar agar memiliki arah, keberanian, dan energi untuk bergerak.</p>
<p>Namun di tengah optimisme itu, ada satu pertanyaan yang menurut saya harus terus diajukan, yaitu: &ldquo;manusia seperti apa yang kelak akan mengisi Indonesia pada tahun 2045?&rdquo;</p>
<p>Pertanyaan ini tidak boleh dianggap sepele. Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh panjangnya jalan tol, tingginya gedung, luasnya kawasan industri, megahnya bandara dan pelabuhan, atau canggihnya teknologi yang kita miliki.&nbsp;</p>
<p>Semua itu memang penting. Tetapi pusat dari seluruh pembangunan tetaplah manusia. Jika manusianya lemah, kehilangan arah, miskin karakter, rapuh integritas, dan tidak siap menghadapi perubahan, maka kemajuan fisik hanya akan sia-sia, hanya menjadi bangunan besar tanpa jiwa. Ia tampak mengesankan dari luar, tetapi rapuh dari dalam.</p>
<p>Di sinilah pendidikan menemukan makna strategisnya. Menyadarkan kita betapa ternyata Pendidikan itu sangat penting, dan betapa mendesaknya untuk dirancang dan terus diperbaiki menyesuaikan perubahan.</p>
<p>Pendidikan hari ini sesungguhnya sedang menyiapkan warga negara untuk hidup pada tahun 2045. Anak-anak yang sekarang duduk di bangku SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi adalah generasi yang kelak akan mengisi ruang-ruang penting republik ini ketika usia kemerdekaan mencapai seratus tahun.&nbsp;</p>
<p>Mereka akan menjadi guru, dosen, peneliti, dokter, birokrat, pengusaha, teknokrat, ulama, politisi, jurnalis, pemimpin organisasi, bahkan pengambil keputusan di berbagai sektor kehidupan. Artinya, ruang kelas hari ini sesungguhnya sedang menulis wajah Indonesia 18-19 tahun ke depan.</p>
<p>Masalahnya, dunia yang akan mereka hadapi bukan lagi dunia yang kita kenal hari ini. Mereka tidak sedang dipersiapkan untuk hidup di masa lalu, bahkan mungkin tidak sepenuhnya untuk hidup di masa kini.&nbsp;</p>
<p>Mereka sedang dipersiapkan untuk memasuki masa depan yang bentuknya sedang berubah sangat cepat&mdash;begitu cepat, sehingga banyak institusi pendidikan sering tertinggal beberapa langkah di belakangnya.</p>
<p>Kita sedang memasuki sebuah zaman baru: zaman ketika kecerdasan buatan mulai mengambil alih sebagian fungsi kognitif manusia; ketika algoritma ikut memengaruhi pilihan hidup, pola konsumsi, bahkan opini politik; ketika pekerjaan-pekerjaan rutin satu per satu digantikan otomatisasi; ketika arus informasi datang tanpa jeda; ketika batas antara ruang fisik dan ruang digital semakin kabur; dan ketika manusia dituntut untuk terus belajar ulang hanya agar tidak tertinggal oleh perubahan.</p>
<p>Dalam situasi seperti itu, pertanyaan besar bagi dunia pendidikan bukan lagi sekedar &ldquo;apa yang harus diajarkan,&rdquo; tetapi &ldquo;manusia seperti apa yang harus dibentuk.&rdquo;</p>
<p>Selama puluhan tahun, pendidikan kita terlalu sering terjebak pada urusan yang bersifat administratif dan prosedural. Kita sibuk membicarakan kurikulum, pergantian istilah, format ujian, akreditasi, sertifikasi, angka partisipasi, rerata nilai, dan aneka indikator birokratis lainnya.&nbsp;</p>
<p>Semua itu tentu ada gunanya. Tetapi saya sering merasa, di tengah kesibukan itu, pendidikan justru berisiko kehilangan &ldquo;ruh&rdquo;-nya.</p>
<p>Sebab pendidikan pada hakikatnya bukan sekedar urusan memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan bukan sekedar proses agar anak lulus ujian, naik kelas, memperoleh ijazah, lalu mendapatkan pekerjaan.&nbsp;</p>
<p>Tapi Pendidikan adalah proses membentuk manusia dalam hal-hal yang berkaitan dengan: cara berpikirnya, wataknya, kepekaannya, adabnya, ketangguhannya, daya nalarnya, kejujurannya, dan juga tanggung jawabnya terhadap kehidupan.</p>
<p>Kalau kita sungguh-sungguh berbicara tentang Indonesia 2045, maka kita tidak bisa lagi memandang pendidikan hanya sebagai urusan sekolah, kampus, atau kementerian. Pendidikan harus dipandang sebagai &ldquo;proyek peradaban&rdquo;: proyek besar untuk menyiapkan manusia Indonesia yang sanggup hidup, bekerja, memimpin, dan menjaga nilai di tengah perubahan zaman yang belum pernah kita alami sebelumnya.</p>
<p>Mengapa saya menyebutnya &ldquo;zaman yang belum pernah kita alami&rdquo;?. Karena perubahan yang sedang berlangsung hari ini bukan perubahan kecil. Bukan sekedar pergantian buku pelajaran, perubahan model ujian, atau hadirnya aplikasi baru di ruang kelas. Akan tetapi kita justru sedang menyaksikan perubahan yang menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan manusia.</p>
<p>Pertama, &ldquo;kecerdasan buatan dan otomatisasi&rdquo; akan mengubah dunia kerja secara sangat mendasar. Banyak pekerjaan rutin yang selama ini dilakukan manusia akan semakin mudah digantikan mesin. Administrasi, pengolahan data, layanan dasar, bahkan sebagian pekerjaan kreatif mulai bisa dikerjakan oleh sistem berbasis AI. Ini berarti sekolah dan kampus tidak bisa lagi mendidik anak-anak hanya untuk menjadi pelaksana pekerjaan rutin.&nbsp;</p>
<p>Dunia masa depan akan jauh lebih membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja sama lintas disiplin, berimajinasi, beradaptasi, dan memberi sentuhan kemanusiaan yang tidak bisa digantikan algoritma.</p>
<p>Kedua, &ldquo;arus informasi akan semakin melimpah,&rdquo; tetapi belum tentu diikuti kedewasaan dalam menyikapinya. Anak-anak kita akan hidup di tengah banjir data, video, opini, narasi, dan potongan-potongan informasi yang datang tanpa henti. Mereka bisa mengetahui banyak hal dalam hitungan detik, tetapi belum tentu mampu membedakan mana fakta dan mana manipulasi, mana pengetahuan dan mana kebisingan, mana kebenaran dan mana yang hanya sekedar sensasi.&nbsp;</p>
<p>Dalam situasi seperti itu, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan anak untuk mencari informasi. Pendidikan harus menumbuhkan kemampuan menimbang, menguji, memverifikasi, membaca konteks, dan juga mengambil keputusan secara bertanggung jawab.</p>
<p>Ketiga, &ldquo;dunia kerja masa depan tidak lagi stabil seperti masa lalu.&rdquo; Dulu seseorang bisa belajar satu bidang, lalu bekerja di bidang yang relatif sama sepanjang hidupnya. Kini situasinya jauh berbeda. Banyak profesi akan hilang, banyak profesi baru akan lahir, dan sebagian pekerjaan masa depan bahkan belum kita kenal namanya hari ini.&nbsp;</p>
<p>Maka pendidikan tidak boleh lagi sekedar menjejali anak dengan pengetahuan statis. Pendidikan harus melahirkan pembelajar sepanjang hayat, yaitu: manusia yang tidak takut belajar ulang, tidak mudah lumpuh ketika dunia berubah, dan memiliki talenta keberanian untuk beradaptasi tanpa kehilangan arah.</p>
<p>Keempat, &ldquo;krisis lingkungan, ketimpangan sosial, dan perubahan demografi&rdquo; akan menjadi tantangan yang semakin nyata. Generasi 2045 tidak hanya akan berhadapan dengan persaingan ekonomi, tetapi juga dengan persoalan air, pangan, energi, kesehatan mental, urbanisasi, perubahan iklim, dan berbagai bentuk ketidakadilan sosial.&nbsp;</p>
<p>Mereka tidak cukup dididik hanya untuk sukses secara pribadi. Tetapi mereka juga harus disiapkan menjadi manusia yang mampu hidup bersama, merawat bumi, memahami keberlanjutan, dan memikul tanggung jawab sosial.</p>
<p>Kelima, dan ini justru sangat menentukan, &ldquo;krisis nilai&rdquo; dapat menjadi ancaman yang lebih tidak kelihatan tetapi lebih berbahaya. Teknologi bisa membuat manusia semakin cepat, tetapi tidak otomatis membuatnya semakin bijaksana. Pengetahuan bisa bertambah, tetapi integritas belum tentu tumbuh. Kecakapan digital bisa meningkat, tetapi adab bisa merosot.&nbsp;</p>
<p>Di sinilah pendidikan harus menjaga ruhnya, yaitu: membentuk manusia yang bukan hanya pintar, tetapi juga benar; bukan hanya kompeten, tetapi juga jujur; bukan hanya modern, tetapi juga berakar pada nilai.<br />Kalau kita jujur, maka kita akan mengakui bahwa sebagian besar sistem pendidikan kita hari ini belum sepenuhnya siap menjawab perubahan-perubahan besar itu.</p>
<p>Sekolah kita masih terlalu sering diukur dari angka-angka yang mudah dihitung, tetapi belum tentu mencerminkan kualitas manusia yang dibentuk. Kita masih terjebak pada logika nilai rapor, kelulusan, ranking, sertifikat, dan prestasi yang bisa dipamerkan, sementara hal-hal yang jauh lebih penting&mdash;seperti nalar, karakter, kejujuran, kemampuan bekerja sama, keberanian berpikir, dan kepekaan sosial&mdash;sering justru berada di luar atau di pinggir perhatian.</p>
<p>Guru di banyak tempat masih dibebani urusan administrasi yang melelahkan, padahal mereka semestinya diberi ruang lebih besar untuk benar-benar mendidik. Orang tua pun kerap terjebak dalam kecemasan yang sempit: bahwa anak harus masuk sekolah favorit, harus mendapat nilai tinggi, harus segera lulus, harus segera bekerja. Kampus sering sibuk memproduksi gelar, tetapi belum tentu cukup berhasil menumbuhkan kedewasaan intelektual, daya kritis, dan keberanian moral.</p>
<p>Akibatnya, pendidikan kita kerap tampak sibuk, tetapi belum tentu menumbuhkan. Ramai dengan kegiatan, tetapi belum tentu membentuk. Meluluskan banyak orang, tetapi belum tentu melahirkan manusia yang siap menghadapi masa depan.</p>
<p>Padahal, jika Indonesia sungguh ingin memasuki 2045 sebagai bangsa yang maju dan bermartabat, pendidikan harus berani bergerak lebih jauh. Pendidikan harus kembali pada pertanyaan paling dasarnya, yaitu: &ldquo;manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan?&rdquo;<br />M<br />enurut saya, setidaknya ada beberapa kualitas besar yang harus menjadi arah pendidikan Indonesia menuju 2045.<br />Pertama, kita harus melahirkan &ldquo;manusia yang kuat secara intelektual.&rdquo;&nbsp;</p>
<p>Mereka harus mampu membaca persoalan dengan jernih, berpikir logis, memahami sains dan teknologi, memiliki literasi yang baik, serta sanggup memecahkan masalah nyata. Indonesia tidak akan maju jika pendidikan hanya menghasilkan lulusan yang pandai menghafal tetapi lemah bernalar.</p>
<p>Kedua, kita harus melahirkan &ldquo;manusia yang tangguh secara moral.&rdquo; Mereka harus jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghormati orang lain, mencintai keadilan, dan berani menolak korupsi dalam bentuk apa pun.&nbsp;</p>
<p>Sejarah menunjukkan bahwa kemunduran sebuah bangsa seringkali tidak disebabkan karena kurangnya orang pintar, tetapi justru karena merosotnya integritas.</p>
<p>Ketiga, kita harus melahirkan &ldquo;manusia yang adaptif terhadap perubahan.&rdquo; Mereka tidak boleh menjadi generasi yang mudah panik ketika dunia bergeser. Mereka harus siap belajar ulang, siap berpindah peran, siap bekerja lintas disiplin, dan siap berkolaborasi dengan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaannya.</p>
<p>Keempat, kita harus melahirkan &ldquo;manusia yang memiliki kepekaan sosial dan kebangsaan.&rdquo; Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan individu yang mengejar sukses pribadi sambil abai terhadap penderitaan sosial di sekitarnya.&nbsp;<br />Indonesia 2045 memerlukan warga negara yang peduli pada bangsanya, peka terhadap ketimpangan, sadar akan nasib kelompok yang tertinggal, dan bersedia memikul tanggung jawab bersama.</p>
<p>Kelima, kita harus melahirkan &ldquo;manusia yang berakar pada iman dan adab.&rdquo; Ini sangat penting bagi Indonesia. Kita boleh berbicara tentang AI, robotika, sains data, ekonomi digital, dan inovasi tanpa batas.&nbsp;</p>
<p>Tetapi jika generasi kita kehilangan kejujuran, kehilangan rasa hormat, kehilangan kesadaran bahwa ilmu adalah amanah, maka kemajuan itu bisa berubah menjadi ancaman. Pendidikan yang tercerabut dari adab pada akhirnya hanya akan melahirkan kecerdasan tanpa arah.</p>
<p>Karena itu, membenahi pendidikan tidak boleh lagi dipahami sebagai urusan teknis semata. Membenahi pendidikan bukan sekedar soal menambah gedung, atau mengganti kurikulum, atau memperbarui aplikasi pembelajaran, atau merapikan struktur birokrasi.&nbsp;</p>
<p>Semua itu memang tetap penting dilakukan, tetapi tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah keberanian menata ulang cara pandang kita tentang pendidikan.</p>
<p>Pendidikan harus dipindahkan dari sekedar urusan administratif menjadi agenda strategis peradaban. Guru harus dipulihkan martabatnya sebagai pembentuk masa depan, bukan sekedar pelaksana administrasi.&nbsp;</p>
<p>Sekolah harus dihidupkan sebagai ruang tumbuh, bukan pabrik nilai. Kampus harus kembali menjadi pusat ilmu, karakter, inovasi, dan kepemimpinan.&nbsp;</p>
<p>Keluarga harus diakui sebagai fondasi pendidikan yang paling awal dan paling menentukan. Dan negara harus menempatkan kualitas manusia sebagai prioritas yang sungguh-sungguh, bukan slogan dan janji-janji kampanye musiman yang ramai menjelang pemilu pergantian kepemimpinan.</p>
<p>Saya percaya Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menata masa depannya. Kita memiliki bonus demografi, energi generasi muda, tradisi keagamaan yang kuat, dan keinginan besar untuk maju. Tetapi semua modal itu dapat berubah menjadi beban jika pendidikan gagal membaca arah zaman.</p>
<p>Karena itu, pendidikan Indonesia tidak boleh lagi hanya menyiapkan anak untuk lulus ujian. Ia harus menyiapkan anak untuk lulus menghadapi kehidupan. Ia tidak cukup menyiapkan mereka untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga untuk membangun makna, memikul tanggung jawab, menjaga integritas, dan merawat masa depan bangsanya.</p>
<p>Dan yang paling penting untuk disadari, bahwa Indonesia Emas 2045 bukan soal seberapa tinggi pendapatan per kapita kita, tetapi tentang seberapa kualitas manusia Indonesia itu sendiri: apakah kita berhasil melahirkan generasi yang cerdas tanpa kehilangan hati, modern tanpa tercerabut dari nilai, kompetitif tanpa kehilangan empati, dan religius tanpa kehilangan keluasan berpikir.</p>
<p>Jika itu yang ingin kita capai, maka kesimpulan pentingnya adalah: bahwa &ldquo;membenahi pendidikan bukan pekerjaan sampingan menuju 2045. Tetapi pekerjaan inti. Bahkan mungkin pekerjaan paling menentukan.&rdquo;<br />Sebab ruang kelas hari ini, sesungguhnya sedang menulis nasib Indonesia dua puluh tahun mendatang.</p>
<p>&nbsp;</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://static.ayojatim.com/po-content/uploads/202607/pendidikan.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Foto ilustrasi/Gemini]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Alim Perdana]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item><item>
                    <title><![CDATA[Jalan Sunyi Gus Gudfan Merawat Marhaenisme dan Islam Nusantara]]></title>
                    <link>https://ayojatim.com/news-26834-jalan-sunyi-gus-gudfan-merawat-marhaenisme-dan-islam-nusantara</link>
                    <guid isPermaLink="false">https://ayojatim.com/news-26834-jalan-sunyi-gus-gudfan-merawat-marhaenisme-dan-islam-nusantara</guid>
                    <pubDate>Mon, 06 Jul 2026 14:58:00 +0700</pubDate>
                    <description><![CDATA[Salah satu sosok yang saya pandang berada dalam ruang sunyi itu adalah Gudfan Arif Ghofur, atau yang akrab disapa Gus Gudfan.]]></description>
                    <content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Ni Kadek Ayu Wardani<br />Ketua DPC GMNI Surabaya Raya</p>
<p><strong>Membuka Tabir: Di Mana Cahaya Itu Bersembunyi?</strong></p>
<p>DI tengah riuhnya panggung politik yang kerap dipenuhi pragmatisme dan perebutan kekuasaan, selalu ada ruang sunyi yang dihuni oleh mereka yang memilih bekerja tanpa sorotan. Mereka tidak membangun popularitas, melainkan menjaga nilai, merawat gagasan, dan mengabdikan diri melalui kerja nyata.</p>
<p>Salah satu sosok yang saya pandang berada dalam ruang sunyi itu adalah Gudfan Arif Ghofur, atau yang akrab disapa Gus Gudfan. Namanya mungkin tidak sering menghiasi ruang publik, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Ia memilih membangun pengaruh melalui pengabdian, bukan pencitraan.</p>
<p>Bagi kami di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya, Gus Gudfan bukan sekadar tokoh masyarakat. Ia merupakan figur yang menghadirkan ruang dialog antara nilai-nilai Islam Nusantara dengan semangat Marhaenisme yang diwariskan Bung Karno.&nbsp;</p>
<p>Dalam pandangan kami, kedua tradisi tersebut sama-sama menempatkan keadilan sosial, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil sebagai landasan perjuangan.</p>
<p><strong>Marhaenisme dan Spirit Kaum Mustad'afin</strong></p>
<p>Marhaenisme lahir dari pembacaan Bung Karno terhadap realitas rakyat Indonesia yang hidup dalam ketimpangan ekonomi. Marhaen menjadi simbol petani, buruh, nelayan, dan rakyat kecil yang memiliki daya hidup, tetapi terhimpit oleh struktur sosial yang tidak adil.</p>
<p>Di sisi lain, tradisi Islam Nusantara mengenal konsep mustad'afin, yaitu kelompok masyarakat yang dilemahkan oleh keadaan dan membutuhkan pembelaan. Kedua gagasan tersebut memiliki titik temu yang kuat dalam semangat membela kaum kecil dan menghadirkan keadilan sosial.</p>
<p>Dalam berbagai kesempatan berdiskusi dengan kader-kader muda, Gus Gudfan sering menekankan bahwa perjuangan sosial tidak boleh berhenti pada retorika. Perubahan harus diwujudkan melalui pendidikan, pemberdayaan ekonomi, advokasi, dan kerja-kerja kemanusiaan yang nyata.</p>
<p><strong>Catur Piwulang Sunan Drajat sebagai Etika Sosial</strong></p>
<p>Nilai-nilai Catur Piwulang Sunan Drajat menjadi salah satu inspirasi penting dalam membaca kembali makna pengabdian sosial.</p>
<p>Wenehono teken marang wong kang wuto mengajarkan pentingnya memberikan pengetahuan kepada mereka yang kehilangan arah.</p>
<p>Wenehono mangan marang wong kang luwe mengingatkan bahwa keadilan ekonomi merupakan bagian dari tanggung jawab moral.</p>
<p>Wenehono busono marang wong kang mudo berbicara tentang menjaga martabat manusia melalui perlindungan terhadap hak-haknya.</p>
<p>Sementara Wenehono payung marang wong kang kudanan mengandung pesan agar masyarakat saling melindungi ketika menghadapi kesulitan.</p>
<p>Nilai-nilai tersebut tetap relevan dalam konteks Indonesia saat ini ketika ketimpangan sosial, kemiskinan, dan keterbatasan akses pendidikan masih menjadi persoalan bersama.</p>
<p><strong>Spirit Sunan Giri dan Kemandirian Bangsa</strong></p>
<p>Selain mewarisi garis keturunan Sunan Drajat, Gus Gudfan juga berasal dari trah Sunan Giri. Terlepas dari dimensi genealogis tersebut, yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai para wali diterjemahkan dalam praktik kehidupan.</p>
<p>Sunan Giri dikenal tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai pemimpin yang membangun kemandirian masyarakat melalui pendidikan, ekonomi, dan tata kelola sosial.</p>
<p>Dalam berbagai forum, Gus Gudfan sering mengingatkan pentingnya membangun kemandirian ekonomi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Semangat berdikari yang pernah dikobarkan Bung Karno menemukan relevansinya ketika bangsa menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.</p>
<p><strong>Menjaga Api Pengabdian</strong></p>
<p>Sebagai Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, saya melihat kehadiran Gus Gudfan memberikan inspirasi bagi kader-kader muda agar perjuangan tidak berhenti pada demonstrasi atau kritik terhadap negara semata.</p>
<p>Perjuangan juga harus diwujudkan melalui pendidikan politik, penguatan literasi, pemberdayaan masyarakat, pendampingan terhadap kelompok rentan, dan pengembangan ekonomi kerakyatan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari upaya membangun organisasi yang berpijak pada semangat gotong royong dan pengabdian.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Indonesia membutuhkan semakin banyak pemimpin yang memilih bekerja dalam ketenangan, membangun masyarakat melalui keteladanan, dan menjadikan kekuasaan sebagai sarana pengabdian, bukan tujuan.</p>
<p>Bagi kami, Gus Gudfan merupakan salah satu figur yang menginspirasi jalan pengabdian tersebut. Terlepas dari berbagai penilaian yang mungkin muncul, nilai-nilai yang diperjuangkannya layak menjadi bahan refleksi bagi generasi muda: bahwa politik dapat berpadu dengan etika, spiritualitas dapat berjalan bersama kerja sosial, dan pengabdian kepada rakyat tetap menjadi inti dari perjuangan kebangsaan.</p>
<p>Semoga semangat untuk menghadirkan keadilan sosial, gotong royong, dan kemanusiaan terus tumbuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Salam Marhaen. Salam Gotong Royong.</p>]]></content:encoded>
                    <media:content url="https://static.ayojatim.com/po-content/uploads/202607/gus-gudfan.jpg" medium="image">
                    <media:title type="html"><![CDATA[Jalan Sunyi Gus Gudfan Merawat Marhaenisme dan Islam Nusantara]]></media:title></media:content>
                    <dc:creator><![CDATA[Alim Perdana]]></dc:creator><category><![CDATA[Opini]]></category></item></channel></rss>