Puasa Kita Termasuk Level Mana? Umum Khusus atau Puasa Khusus yang Lebih Khusus

Ketiga tingkatan puasa ini mencakup: puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus dari yang khusus. Foto: Ilustrasi/AI
Ketiga tingkatan puasa ini mencakup: puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus dari yang khusus. Foto: Ilustrasi/AI

DALAM kitab Ihya' Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan yang mencerminkan kedalaman penghayatan seseorang terhadap ibadah puasa.

Ketiga tingkatan puasa ini mencakup: puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus dari yang khusus.

Nah, puasa kita termasuk tingkatan puasa yang mana? Yuk kita refleksi diri mumpung masih ada waktu sisa untuk meningkatkan puasa ke level yang lebih istimewa.

1. Puasa Umum (Puasa Orang Biasa)

Puasa umum atau puasa pada tingkatan pertama adalah puasa yang dilakukan oleh setiap Muslim yang diwajibkan menjalankannya di bulan Ramadan. Pada tingkatan ini, puasa hanya mencakup menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Puasa ini dilakukan oleh umat Islam pada umumnya, tanpa memperhatikan aspek-aspek lain seperti menjaga lisan, penglihatan, dan perbuatan lainnya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din menjelaskan bahwa puasa ini sekadar mencegah perut dan kemaluan untuk memenuhi keinginan keduanya. Meski ini adalah puasa yang wajib, namun jika dilakukan hanya sebatas menahan lapar dan haus, puasa ini hanya memberikan manfaat pada aspek fisik saja tanpa mendatangkan pembersihan batin.

Rasulullah SAW pernah bersabda: "Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan apapun dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga saja." (HR. Ahmad)

Hadis ini mengingatkan kita bahwa puasa pada tingkatan ini tidak memberikan manfaat spiritual yang mendalam jika tidak disertai dengan penjagaan terhadap lisan dan anggota tubuh lainnya.

Oleh karena itu, puasa orang biasa cenderung terbatas pada aspek lahiriah saja, dan belum menyentuh kedalaman rohani.

2. Puasa Khusus (Puasa Orang Khusus)

Puasa khusus adalah puasa yang lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan puasa umum. Pada tingkat ini, seseorang tidak hanya menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri, tetapi juga menjaga anggota tubuh lainnya, seperti lisan, penglihatan, pendengaran, tangan, dan kaki, dari segala bentuk perbuatan dosa.

Orang yang berpuasa pada tingkatan ini tidak hanya berhenti pada menahan hawa nafsu fisik, tetapi juga menghindari dosa-dosa yang bisa merusak puasa, seperti berbicara dusta, bergosip, mengadu domba, atau melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat.

Imam Al-Ghazali mengungkapkan bahwa pada tingkatan ini, seseorang berusaha menjaga seluruh tubuhnya untuk tidak terlibat dalam hal-hal yang bisa merusak nilai puasa.

Misalnya, menjaga lidah untuk tidak berbicara kotor, menjaga penglihatan untuk tidak melihat hal-hal yang haram, dan menjaga tangan serta kaki agar tidak melakukan perbuatan dosa.

Rasulullah SAW menegaskan pentingnya menjaga anggota tubuh selain perut dan kemaluan: "Ada lima hal yang menyebabkan nilai-nilai puasa batal: berbohong, menyebut kejelekan orang, mengadu domba, memandang dengan nafsu, dan bersumpah palsu." (HR. Ahmad)

Puasa khusus ini mengajak kita untuk lebih berhati-hati dalam menjaga akhlak dan perbuatan sehari-hari, dan ini merupakan bentuk kesungguhan seorang Muslim dalam meningkatkan kualitas ibadah puasa mereka.

Puasa khusus mencakup tidak hanya fisik, tetapi juga menjaga diri dari dosa yang sering dianggap kecil atau sepele oleh sebagian orang.

3. Puasa Khusus dari yang Khusus

Puasa khusus dari yang khusus adalah tingkatan puasa yang paling tinggi, yang hanya dapat dijalankan oleh orang-orang yang memiliki kedekatan luar biasa dengan Allah.

Pada tingkatan ini, seseorang tidak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, serta menjaga anggota tubuh dari perbuatan dosa, tetapi juga menahan hati dan pikirannya dari segala hal yang berkaitan dengan duniawi.

Ini adalah puasa yang melibatkan totalitas rohani, di mana seseorang berusaha untuk menyucikan hatinya dari segala keinginan yang rendah, seperti serakah, iri, riya, dan segala bentuk pikiran duniawi yang menghalangi kedekatannya dengan Allah.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa pada tingkat ini adalah puasa hati, yang hanya terfokus kepada Allah. Seseorang yang menjalani puasa ini akan menjauhkan diri dari segala pikiran atau cita-cita selain Allah, termasuk segala kesibukan duniawi.

Dengan demikian, puasa ini adalah bentuk tertinggi dari kesucian hati dan konsentrasi penuh kepada Allah.

Seperti yang disebutkan dalam hadis Nabi SAW: "Puasa itu setengah sabar, dan sabar itu setengah iman." (HR. At-Tirmidzi)

Puasa khusus dari yang khusus adalah tentang mencapai kesabaran yang sangat tinggi dan mengarahkan seluruh niat dan tujuan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah.

Hal ini membawa kita pada pemahaman bahwa puasa bukan hanya sekadar menahan diri dari nafsu fisik, tetapi juga menanggalkan segala bentuk ketergantungan kepada dunia, dan berusaha untuk hidup dengan sepenuh hati dalam ketaatan kepada Allah.

Kesimpulan: Mengangkat Kualitas Puasa

Melalui tiga tingkatan puasa yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali ini, kita diajak untuk merenung dan mengevaluasi sejauh mana kualitas puasa kita. Pada bulan Ramadan ini, banyak dari kita yang menjalani puasa pada tingkat yang pertama, yaitu puasa umum, yang hanya menahan lapar dan haus.

Namun, tidak ada salahnya untuk berusaha naik ke tingkat yang lebih tinggi dengan memperbaiki kualitas ibadah kita.

Puasa khusus mengajarkan kita untuk menjaga lisan, mata, telinga, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa, sedangkan puasa khusus dari yang khusus mengajak kita untuk membersihkan hati kita dari segala keinginan duniawi dan fokus hanya kepada Allah.

Bulan Ramadan adalah waktu yang penuh berkah untuk melatih diri kita mencapai tingkatan puasa yang lebih tinggi. Dengan demikian, puasa bukan hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga sarana spiritual untuk mencapai kedekatan yang lebih dalam dengan Allah SWT.

Semoga dengan pemahaman ini, kita dapat berusaha menjalankan puasa dengan kesungguhan hati dan meningkatkannya ke level yang lebih tinggi, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

Penulis: Ulul Albab
Ketua ICMI Orwil Jawa Timur, Ketua Litbang DPP AMPHURI,
Pembina Yayasan Masjid Subulussalam Sidoarjo.

 

Editor : Alim Perdana