ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Dosen UNIBA dan Unitomo Dampingi Batik Inklusi dan PKK Kedungdowo Situbondo

avatar AM Lukman J
  • URL berhasil dicopy
Dosen UNIBA dan Unitomo mendampingi Rumah Batik Inklusi (RUBI) dan kelompok PKK Desa Kedungdowo, Situbondo, melalui program Kosabangsa 2026. Foto: Dok-Ist/Ayojatim
Dosen UNIBA dan Unitomo mendampingi Rumah Batik Inklusi (RUBI) dan kelompok PKK Desa Kedungdowo, Situbondo, melalui program Kosabangsa 2026. Foto: Dok-Ist/Ayojatim

SITUBONDO – Dosen Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA) dan Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya mendampingi Rumah Batik Inklusi (RUBI) dan kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Kedungdowo, Kabupaten Situbondo, melalui program Kosabangsa 2026.

Program ini menghadirkan inovasi teknologi produksi batik, pemasaran digital, pengolahan pangan berbasis daun kelor, hingga kesiapsiagaan bencana.

Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat Berdampak (Kosabangsa) yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tersebut berlangsung sepanjang 2026.

Kegiatan menyasar penguatan usaha kreatif dan pemberdayaan masyarakat di Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa, khususnya di wilayah yang menghadapi persoalan kemiskinan ekstrem.

Tim pendamping memberikan pelatihan, penerapan teknologi, dan praktik langsung kepada dua mitra, yakni RUBI di Dusun Bengkosabe dan kelompok PKK Desa Kedungdowo.

RUBI yang dipimpin A. Sujamin Haryadi memiliki 30 anggota, sebagian besar merupakan penyandang disabilitas. Selama ini, kelompok tersebut menghadapi kendala kapasitas produksi, ketahanan warna batik, keterbatasan variasi motif, serta pemasaran yang masih konvensional.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim memperkenalkan mesin pelorot malam guna meningkatkan efektivitas produksi sekaligus mendukung proses kerja yang lebih aman dan ergonomis bagi perajin difabel.

Pendampingan juga mencakup teknik pewarnaan agar batik lebih tahan luntur, pengembangan motif batik ciprat berciri lokal, serta pemasaran melalui Instagram, TikTok, dan marketplace. Tim turut menjajaki kerja sama dengan pihak ketiga untuk memperluas jangkauan pasar.

Program ini menargetkan peningkatan kapasitas produksi RUBI dari 125 menjadi 400 lembar per bulan, pengembangan 10 motif baru, serta perluasan jaringan pemasaran.

“Tujuan Kosabangsa ini bukan hanya mengenalkan alat, tetapi membantu mitra mengembangkan usaha secara lebih mandiri, inklusif, dan berkelanjutan. Teknologi, peningkatan keterampilan, dan pemasaran perlu berjalan bersama agar hasil pendampingan dapat memperkuat daya saing produk serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Ketua Tim Pelaksana UNIBA, Dr. Ikhwanul Qiram, S.T., M.T.

Olahan Daun Kelor hingga Mitigasi Bencana
Selain mendampingi usaha batik, tim juga memperkuat kapasitas kelompok PKK Desa Kedungdowo yang dipimpin Purwatiningsih dengan 23 anggota.

Pendampingan meliputi pengoperasian mesin jahit digital untuk mengembangkan produk fesyen berbahan batik, pembukuan usaha sederhana, pemasaran digital, serta pengolahan pangan lokal berbasis daun kelor.

Daun kelor diolah menjadi empat produk, yakni bakso, mi, teh, dan tepung. Pengembangan produk tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai pangan bergizi untuk mendukung upaya pencegahan stunting.

Kelompok PKK juga memperoleh pendampingan dalam menyusun sistem mitigasi bencana puting beliung. Kegiatannya meliputi penyusunan prosedur operasi standar tanggap darurat, pemetaan jalur evakuasi, pembentukan kelompok siaga, serta simulasi evakuasi.

“Kami berharap pendampingan ini memberi keterampilan yang bisa langsung dipraktikkan, membantu anggota mengembangkan produk dan pemasaran, serta membuat kegiatan ekonomi kelompok semakin berkelanjutan. Kami juga berharap pengetahuan tentang pangan bergizi dan kesiapsiagaan bencana dapat bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan,” kata Purwatiningsih.

Libatkan Dua Perguruan Tinggi
Tim pelaksana dari UNIBA dipimpin Ikhwanul Qiram dari bidang Teknik Mesin. Ia bekerja bersama Hasyim As’ari dari bidang Biologi dan Adi Mulyadi dari bidang Teknik Elektro, dengan dukungan tujuh mahasiswa.

Sementara itu, tim pendamping Unitomo diketuai Prof. Dr. Dra. Liosten Rianna Roosida Ully Tampubolon, M.M., bersama Prof. Dr. Nur Sayidah, S.E., M.Si., Ak., dan Prof. Dr. Ir. Fadjar Kurnia Hartati, M.P.

Tim Unitomo mendukung penguatan manajemen usaha, pemasaran digital, dan pengembangan pangan fungsional berbasis daun kelor.

Kepala Desa Kedungdowo, Moh. Hafit, S.M., mengapresiasi pelaksanaan program tersebut. Pemerintah desa turut mendukung kegiatan melalui kontribusi pendanaan sebesar Rp40 juta.

“Kami sangat mengapresiasi pelaksanaan program Kosabangsa di Desa Kedungdowo. Program ini membawa pengetahuan, teknologi, dan pendampingan yang dibutuhkan masyarakat, khususnya untuk mengembangkan usaha batik inklusif dan meningkatkan keterampilan kelompok PKK,” ujar Hafit.

Ia berharap pendampingan tersebut memberikan manfaat jangka panjang dan membantu masyarakat mengembangkan usaha secara mandiri.

Selain melibatkan pemerintah desa, tim juga menjajaki dukungan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Situbondo.

Keberlanjutan program direncanakan melalui pembinaan yang melibatkan pusat studi kewirausahaan kedua perguruan tinggi.

Desa Kedungdowo memiliki sekitar 3.296 penduduk yang sebagian bekerja sebagai petani, peternak, dan buruh tani.

Melalui Kosabangsa 2026, pengembangan batik inklusif, produk pangan lokal, dan kesiapsiagaan bencana diharapkan dapat memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus menjadi model pemberdayaan berbasis hasil riset yang dapat diterapkan di wilayah lain.

Editor :