ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Pedagogi Kesabaran: Mengurai Kisah Imam as-Syafi’i dan ar-Rabi’

avatar Fuad Nadjib
  • URL berhasil dicopy

Oleh : Mochammad Fuad Nadjib
Penghulu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo
Kepala Madrasah Diniyah al-Maidah Durungbedug

KISAH kesabaran Imam as-Syafi’i dan keteguhan ar-Rabi’ bin Sulaiman merupakan salah satu mutiara sejarah yang paling berharga dalam khazanah pendidikan Islam. 

Di tengah disrupsi zaman yang menuntut segala hal serba instan, kisah ini hadir sebagai sebuah tamparan sekaligus oase, mengingatkan kita kembali tentang hakikat sejati dari proses belajar-mengajar (transfer of knowledge) dan transfer nilai (transfer of value). 

Dalam dunia pendidikan modern, kita sering mendengar istilah pendekatan belajar yang disesuaikan dengan kemampuan murid. 

Jauh sebelum teori-teori Barat merumuskannya, Imam as-Syafi’i telah mempraktikkannya dengan sangat sempurna melalui salah satu murid utamanya, ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa Islam sejak awal telah meletakkan fondasi humanisme dalam pendidikan, di mana seorang murid tidak dipandang sebagai botol kosong yang siap diisi secara paksa, melainkan sebagai sebuah jiwa yang perlu dituntun dengan penuh kelembutan, pemahaman, dan metodologi yang tepat sesuai dengan ritme belajarnya masing-masing.

Ar-Rabi’ bukanlah seorang murid yang jenius sejak lahir. Sebaliknya, ia dikenal memiliki daya tangkap yang lambat (bath’u al-fahm). 

Imam al-Baihaqi dalam salah satu karyanya mencatat peristiwa luar biasa tentang bagaimana interaksi guru dan murid ini berlangsung. Suatu hari di majelis, Imam as-Syafi’i menjelaskan suatu masalah hukum yang cukup rumit dan membutuhkan konsentrasi tinggi. 

Setelah selesai, sang Imam bertanya untuk memastikan apakah ar-Rabi' sudah paham atau belum, dan dengan jujur serta penuh rasa takzim, ar-Rabi’ menjawab bahwa ia belum paham. 

Mendengar jawaban tersebut, Imam as-Syafi’i tidak menampakkan wajah masam, tidak pula mengeluarkan kata-kata yang mematahkan mental atau merendahkan martabat sang murid di hadapan orang lain. 

Dengan kesabaran yang dimilikinya, sang Imam mengulangi penjelasan tersebut. Tidak hanya dua atau tiga kali, melainkan hingga tiga puluh sembilan kali. 

Namun, keterbatasan manusiawi ar-Rabi’ membuatnya tetap belum mampu mencerna materi tersebut dengan baik, sebuah kondisi yang tentu saja dapat memicu keputusasaan bagi pengajar biasa.

Merasa malu dan tak enak hati karena telah menyita waktu sang guru serta memperlambat jalannya majelis bagi murid-murid lainnya, ar-Rabi’ memilih untuk beringsut mundur dan keluar dari majelis secara diam-diam dengan hati yang gundah. 

Di sinilah letak kemuliaan akhlak seorang pendidik sejati. Imam as-Syafi’i tidak membiarkan muridnya pergi membawa rasa hina, dan putus asa yang dapat mematikan semangat belajarnya. 

Beliau justru menjumpainya dalam sebuah kesempatan dan memanggilnya secara privat untuk datang ke rumahnya, sebuah ruang yang lebih personal dan minim tekanan sosial. 

Di rumah, Imam as-Syafi’i kembali mengulang pelajaran tersebut untuk yang ke-empat puluh kalinya dengan intonasi dan pendekatan yang sama sekali tidak berubah dari segi kasih sayangnya. 

Ketika ar-Rabi’ masih saja kesulitan untuk memahami esensi hukum yang diajarkan, sang Imam mengeluarkan perkataan yang sangat menyentuh hati dan abadi dalam sejarah: "Muridku, sebatas inilah kemampuanku mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah SWT agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. 

Saya hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu. Andai ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu."  

Dari fragmen sejarah ini, kita dapat membedah pilar utama keberkahan ilmu yang melibatkan guru, murid, dan Allah SWT secara integral. 

Imam as-Syafi’i memberikan teladan bahwa mengajar bukan sekadar menggugurkan kewajiban profesi atau mencari popularitas akademik. 

Beliau menyadari sepenuhnya bahwa hidayah pemahaman (fahm) adalah hak prerogatif Allah yang tidak bisa diintervensi oleh kepintaran guru sekalipun. 

Tugas guru hanyalah mengupayakan metodologi terbaik dengan penuh kasih sayang, keikhlasan, dan dedikasi tanpa batas. 

Kalimat pengandaian tentang menyuapkan ilmu adalah bentuk validasi emosional tertinggi yang membuat jiwa ar-Rabi’ tidak patah, melainkan justru termotivasi untuk terus berjuang. 

Di sisi lain, meskipun lamban, ar-Rabi’ memiliki modal terbesar seorang penuntut ilmu, yaitu adab yang tinggi dan kesungguhan yang membaja. 

Ia tidak menyalahkan gurunya yang dianggap terlalu tinggi bahasanya, tidak pula mengeluh atau membantah. Ia mengakui kekurangannya dengan jujur dan penuh kerendahan hati. 

Ketika diberi nasihat untuk bermunajat, ia melaksanakannya dengan penuh kepasrahan, bersujud di sepertiga malam, dan memperbanyak ketukan pintu langit melalui doa yang tulus. 

Ketika ikhtiar dari seorang guru yang sabar bertemu dengan ikhtiar dari seorang murid yang gigih, dan keduanya bersatu dalam doa yang ikhlas, maka Fath atau keterbukaan spiritual dan intelektual dari Allah pun turun. 

Allah mengubah keterbatasan biologis ar-Rabi’ menjadi kecemerlangan yang luar biasa, melampaui rekan-rekannya yang semula jauh lebih cerdas.

Sejarah mencatat akhir yang sangat indah dan revolusioner dari kisah ini. Ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi tidak selamanya menjadi murid yang lamban dan tertinggal di belakang. 

Berkat doa sang guru yang mustajab, kesabaran yang tanpa batas, serta ketekunannya sendiri yang konsisten, ia tumbuh menjadi ulama besar, fuqaha’ terpandang, dan poros ilmu pengetahuan di tanah Mesir. 

Bahkan, Imam as-Syafi’i sendiri di kemudian hari memuji kapasitas ar-Rabi’ dengan sangat tinggi, mengatakan bahwa Rabi’ adalah perawi utama bagi kitab-kitabnya. 

Dedikasi ar-Rabi' dalam mencatat dan mengingat setiap perkataan gurunya terbukti menjadi kunci penyelamat warisan intelektual sang Imam. 

Mayoritas kitab Ahlul Hal atau pendapat-pendapat baru Imam Syafi’i di Mesir (Qaul Jadid), termasuk kitab monumental dan ensiklopedis Al-Umm, serta kitab Ar-Risalah yang menjadi fondasi ilmu ushul fikih, sampai ke tangan umat Islam hari ini di seluruh penjuru dunia adalah berkat jasa penulisan, ketelitian, dan periwayatan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman. 

Kisah ini memahat sebuah pesan abadi bagi seluruh pendidik, orang tua, dan penuntut ilmu di setiap zaman, bahwa kecerdasan intelektual bisa diusahakan melalui latihan, namun keberkahan dan keabadian ilmu hanya bisa diraih melalui jembatan kesabaran seorang guru dan ketulusan adab seorang murid yang berpadu dengan taufik dari Allah SWT. 

Kesabaran bukan berarti membiarkan tanpa arah, melainkan sebuah proses aktif untuk terus membersamai, mendampingi, dan mendoakan hingga potensi terbaik dari seorang manusia dapat mekar dengan sempurna pada waktu yang telah ditetapkan-Nya.

Editor :