SURABAYA - Ratusan pengemudi ojek online di Kota Pahlawan menerima bantuan bahan bakar minyak gratis sebagai jaringan pengaman sosial memperingati Hari Jadi Kota Surabaya ke-733.
Sinergi dua kelompok relawan, Komunitas Sahabat Surga dan Komunitas Tolong Menolong, mengucurkan bantuan berupa dua liter Pertalite untuk 150 peroda dua yang jamak menghabiskan waktu di aspal jalanan, Sabtu (16/5/2026).
Langkah nyata tersebut menyasar kelompok rentan, terutama para pengemudi lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Skema penyaluran menyasar dua titik pergerakan. Sebanyak 110 pengemudi langsung mengisi tangki kendaraan di SPBU Pertamina 51.601.77 kawasan Jalan Diponegoro. Sementara 40 paket sisa didistribusikan dalam wujud uang tunai Rp20 ribu menyisir titik-titik pangkalan strategis.
Ketua Komunitas Tolong Menolong, Daniel Lukas Rorong menyampaikan bahwa aksi nyata tersebut berangkat dari rasa cinta pada kota kelahiran sekaligus empati mendalam terhadap rekan seprofesi.
"Kami bergerak demi mewujudkan Surabaya yang lebih merangkul warganya. Sebagai sesama pengemudi taksi online, saya paham betul beratnya perjuangan mencari nafkah di jalanan saat ini. Donasi dua liter Pertalite setidaknya memotong biaya operasional harian mereka," tutur Daniel yang aktif dalam gerakan kemanusiaan sejak 16 tahun lalu.
Fokus sasaran bantuan kali ini terbilang spesifik. Inisiator gerakan menyaring penerima manfaat dari kelompok Generasi X berumur 47 hingga 61 tahun serta para pengemudi berkebutuhan khusus seperti tuna daksa, rungu, dan wicara.
Ketua Komunitas Sahabat Surga, Nur Ufia Prihandini mengutarakan bahwa kelompok pengemudi senior dan difabel patut mendapat apresiasi lebih tinggi atas kegigihan mereka.
"Keterbatasan fisik maupun usia tidak menyurutkan langkah mereka melayani pelanggan, bahkan di bawah guyuran hujan lebat. Dedikasi penuh hati dalam menafkahi keluarga itulah yang menggerakkan kami," kata perempuan yang akrab disapa Bunda Dini.
Bunda Dini menambahkan, kolaborasi sosial serupa tidak berhenti di sini. Pihaknya konsisten mengelola Warung Makan Berkah di sekitar Terminal Joyoboyo setiap Selasa pekan kedua dan keempat.
Lewat program tersebut, warga kurang mampu dan pengemudi ojek cukup membayar Rp2.000 untuk menikmati satu porsi makanan bergizi lengkap.
Suntikan modal operasional berupa BBM gratis memicu kelegaaan mendalam bagi para pekerja lapangan. Beban hidup yang kian menjepit pasca-pandemi dirasakan langsung oleh Peni Handajani, perempuan 56 tahun yang harus mengasuh anak-anaknya seorang diri sejak sang suami berpulang pada 2012.
"Bantuan gratisan seperti ini sangat menyelamatkan dapur kami. Saya terpaksa turun ke jalan sejak 2017 setelah usaha warung makan gulung tikar akibat modal habis. Menjadi pengemudi ojek adalah opsi paling fleksibel agar saya tetap bisa mengawasi anak yang masih sekolah," ujar Peni.
Keluh kesah senada meluncur dari mulut Sutarmi. Perempuan berusia 55 tahun yang sudah hampir satu dekade mengandalkan pendapatan dari aplikasi transportasi daring tersebut harus menghidupi tiga anak, dua di antaranya berkebutuhan khusus. Pendapatan sang suami sebagai penjaga warung tidak mampu menutup seluruh beban domestik.
"Kami sangat bersyukur atas perhatian komunitas. Saya berharap program semacam ini bisa berjalan rutin. Potongan komisi dari pihak aplikator saat ini masih sangat besar dan mencekik. Kebijakan pemotongan delapan persen yang sempat disampaikan Presiden Prabowo Subianto sampai detik ini belum terealisasi di lapangan," pungkas Sutarmi.
Editor : Alim Perdana