OPINI - Pernahkah kita merasa menjadi “paling tahu” hanya karena membaca satu judul berita? Atau ikut berdebat panjang di media sosial tanpa benar-benar memahami isu yang dibicarakan?
Inilah ironi zaman kita: informasi berlimpah, tapi pemahaman sering kali kering.
Indonesia hari ini seperti berada di persimpangan. Disatu sisi, akses pengetahuan semakin luas. Disisi lain, kebiasaan membaca justru melemah.
Kita hidup dalam era di mana jempol bekerja lebih cepat daripada pikiran, dan opini lahir lebih cepat dari pada refleksi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, pertanyaan yang muncul bukan lagi “apakah literasi kita menurun?”, melainkan “seberapa dekat kita dengan kiamat literasi itu sendiri?”.
Data yang Tidak Bisa Kita Abaikan
Mari memulai pembahasan bukan dari asumsi, melainkan dari data sebab literasi tanpa pijakan data tak ubahnya perdebatan di media sosial: riuh, tetapi miskin makna.
Berdasarkan hasil olahan data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat tahun 2025 yang mencakup 38 provinsi di Indonesia, terlihat bahwa kondisi literasi nasional masih menunjukkan ketimpangan yang cukup signifikan. Sejumlah provinsi telah mencapai kategori sedang hingga tinggi, tetapi tidak sedikit yang masih berada pada level rendah.
Temuan ini diperkuat oleh berbagai laporan lembaga pendidikan dan pemerintah yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia belum berkembang secara merata.
Ketersediaan bahan bacaan memang mengalami peningkatan, tetapi distribusi kualitas dan pemanfaatannya masih belum optimal di berbagai wilayah.
Data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat tahun 2025 yang mencakup 38 provinsi menunjukkan realitas yang tidak bisa diabaikan. Liiterasi Indonesia masih berada pada tingkat yang belum menggembirakan. Rata-rata nasional hanya berada pada angka 40,06, dengan ketimpangan yang sangat mencolok antarwilayah.
Jawa Timur mencapai indeks 56,29, sementara Papua hanya berada di angka 2,74. Kesenjangan ini tidak sekadar menunjukkan perbedaan kemampuan membaca, tetapi mencerminkan ketidakmerataan akses, kebiasaan, dan efektivitas literasi dalam kehidupan masyarakat.
Dimensi kepatuhan dan kinerja juga memperlihatkan bahwa literasi bukan hanya soal membaca, tetapi juga tentang konsistensi dan kemampuan memahami.
Fakta ini menegaskan bahwa persoalan literasi di Indonesia telah memasuki tahap yang lebih kompleks. Bukan sekadar kekurangan bahan bacaan, melainkan krisis kebiasaan dan kualitas berpikir. Fenomena tersebut menjadi semakin kontras ketika dibandingkan dengan tingginya aktivitas digital masyarakat.
Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia termasuk pengguna media sosial yang sangat aktif. Intensitas interaksi digital yang tinggi ini, sayangnya, tidak diiringi dengan kebiasaan membaca yang mendalam. Aktivitas berkomentar, berbagi opini, dan merespons isu berlangsung dengan cepat, sementara proses memahami informasi sering kali diabaikan. Kondisi ini menghadirkan ironi yang cukup tajam bagaimana akses terhadap informasi semakin luas, tetapi kualitas pemahaman tidak berkembang secara seimbang.
Paradoks ini semakin terlihat dalam data literasi yang menunjukkan bahwa peningkatan akses terhadap bahan bacaan tidak secara otomatis diikuti oleh peningkatan minat dan kemampuan memahami.
Banyak individu memiliki akses terhadap buku dan sumber digital, tetapi belum menjadikannya sebagai bagian dari kebiasaan hidup. Situasi ini menegaskan bahwa persoalan literasi di Indonesia telah bergeser dari sekadar isu ketersediaan menuju persoalan kesadaran dan kebiasaan.
Buku tidak lagi menjadi masalah utama yang menjadi persoalan adalah kemauan untuk membuka dan memaknainya.
Realitas tersebut mengarah pada kesimpulan yang cukup menggelitik sekaligus mengkhawatirkan. "Sumber pengetahuan tersedia dalam jumlah besar, tetapi dorongan untuk membacanya belum tumbuh secara kuat".
Literasi akhirnya tidak hanya ditentukan oleh keberadaan bahan bacaan, melainkan oleh sejauh mana masyarakat memiliki kesadaran untuk berinteraksi dengan pengetahuan secara mendalam.
Tanpa perubahan pada aspek tersebut, peningkatan fasilitas literasi hanya akan menjadi angka statistik yang tampak menjanjikan, tetapi belum mampu mengubah kualitas berpikir masyarakat secara nyata.
Bersambung.. ...
Penulis adalah : Muhammad Zahrudin Afnan (Guru Biologi SMA Nation Star Academy Surabaya dan Mahasiswa S2 Pendidikan Biologi UNESA)
Editor : Amal Jaelani