ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Uzbekistan dan Diplomasi Pariwisata Ziarah Dunia Islam

avatar Ulul Albab
  • URL berhasil dicopy
Kedutaan Besar Uzbekistan memaparkan strategi besar pembangunan pariwisata Uzbekistan. Foto/Ulul Albab
Kedutaan Besar Uzbekistan memaparkan strategi besar pembangunan pariwisata Uzbekistan. Foto/Ulul Albab

Oleh: Ulul Albab
Ketua Litbang DPP Amphuri
Ketua ICMI Jawa Timur

Jumat, 12 Februari 2026 kemarin, saya merasa terhormat mendapat kesempatan bersilaturrahmi dengan Kedutaan Besar Uzbekistan bersama teman-teman penyelenggara perjalanan wisata yang tergabung dalam asosiasi AMPHURI DPD Jawa Timur. 

Dalam suasana hangat di Hotel Grand Mercure Surabaya, pihak kedubes memaparkan strategi besar pembangunan pariwisata Uzbekistan. 

Berikut catatan reflektif saya untuk anda para pelaku dan pecinta wisata dunia Islam dalam gaya naratif, bukan sebagai laporan kegiatan acara, tetapi pembacaan atas arah baru diplomasi pariwisata dunia Islam.

Uzbekistan hari ini sedang membangun identitasnya sebagai simpul baru wisata ziarah global. Negara yang sejak lama berada di jantung Jalur Sutra itu memanfaatkan warisan sejarahnya sebagai pusat peradaban Islam untuk membangun citra yang lebih luas dari sekadar destinasi wisata. 

Kota-kota seperti Samarkand, Bukhara, dan Tashkent dihadirkan kembali sebagai ruang spiritual yang menghubungkan masa lalu dengan kebutuhan dunia modern. 

Menariknya, strategi ini tidak hanya bernuansa religius, tetapi juga ekonomis dan diplomatis. Pemerintah Uzbekistan menempatkan wisata ziarah sebagai bagian dari soft power: mempertemukan spiritualitas, investasi, dan promosi budaya dalam satu ekosistem. 

Pertumbuhan jumlah wisatawan serta pembangunan pusat wisata modern menunjukkan bahwa narasi sejarah dipadukan dengan perencanaan yang sistematis dan visioner. 

Dalam presentasi tersebut terlihat jelas bahwa Uzbekistan ingin memperluas peta ziarah dunia Islam yang selama ini berpusat di Timur Tengah. 

Kompleks Hast-Imam di Tashkent, makam Imam al-Bukhari di Samarkand, hingga jejak ulama besar di Bukhara dan Termez dipromosikan sebagai ruang spiritual alternatif yang tetap otentik. 

Di sinilah diplomasi pariwisata bekerja secara elegan: menghadirkan warisan Islam klasik sebagai identitas nasional sekaligus daya tarik global.

Yang patut dicatat, modernisasi berjalan seiring dengan pelestarian tradisi. Infrastruktur hotel internasional, pusat wisata terpadu, hingga pengembangan resor empat musim memperlihatkan upaya Uzbekistan menjangkau wisatawan lintas segmen tanpa meninggalkan karakter historisnya. 

Spiritualitas tidak ditinggalkan, tetapi justru dijadikan fondasi bagi pembangunan ekonomi pariwisata.

Bagi Indonesia, pengalaman ini memberikan pelajaran berharga. Industri perjalanan religius kita masih sangat terfokus pada haji dan umrah, sementara potensi wisata ziarah berbasis sejarah Islam Nusantara belum sepenuhnya dikembangkan sebagai diplomasi budaya. 

Uzbekistan menunjukkan bahwa identitas sejarah, jika dikemas secara profesional, dapat menjadi kekuatan strategis yang menghubungkan peradaban sekaligus membuka peluang ekonomi.

Bagi saya, diplomasi pariwisata Uzbekistan mengingatkan kita bahwa perjalanan spiritual bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang bagaimana sebuah bangsa menuturkan kembali sejarahnya kepada dunia. 

Jalur Sutra seolah bangkit dalam wajah baru: sebagai ruang dialog, ruang ziarah, dan ruang harapan bagi peradaban Islam yang lebih inklusif dan berdaya saing. 

Pertanyaanya: Bagaimana Indonesia? Sepertinya ini PR besar buat Amphuri dan seluruh pelaku industri wisata halal, wisata Islam

Editor :