Fakultas Keislaman Gandeng IARFC, Perkuat Kurikulum Ekonomi Syariah Menuju Prodi Unggul 2026
BANGKALAN - Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melaksanakan kerja sama strategis bersama IARFC (International Association of Registered Financial Consultants) Indonesia, yang dirangkai dengan kegiatan review kurikulum Program Studi Ekonomi Syariah.
Kegiatan tersebut menghadirkan langsung Direktur Syariah IARFC Indonesia, Dea Aryandhana Mulyana Haris, S.AB., M.E., RIFA, sebagai bentuk penguatan sinergi antara dunia akademik dan lembaga profesi, Kamis, (12/02/26).
Dekan Fakultas Keislaman Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I. mengapresiasi kehadiran Direktur Syariah IARFC Indonesia, ke Fakultas Keislaman UTM, dan menyampaikan bahwa kolaborasi tersebut menjadi langkah nyata Fakultas Keislaman UTM dalam meningkatkan mutu pendidikan sekaligus menjawab tantangan perkembangan industri keuangan syariah yang semakin dinamis.
“Perguruan tinggi tidak boleh berjalan sendiri. Sinergi dengan IARFC menjadi ikhtiar kami agar lulusan Ekonomi Syariah tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga siap praktik, khususnya dalam perencanaan keuangan syariah yang amanah dan profesional,” ujar Dr. Abdur Rohman, kepada Ayojaatim.com.
Lebih lanjut, Dr. Abdur Rohman juga menambahkan, kerja sama tersebut merupakan momentum penting untuk menghadirkan kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Alumnus Pondok Pesantren Al Amien, Preduan, Sumenep, tersebut juga menegaskan tentang harapannya yang besar pada Fakultas Keislaman UTM agar melalui kolaborasi berbagai upaaya, yang salah satunya adalah dengan adanya kolaborasi dengan IARFC Indonesia.
"Semoga Program Studi Ekonomi Syariah UTM dapat meraih predikat unggul pada tahun 2026, sekaligus melahirkan sumber daya insani yang berkarakter islami, kompeten, dan berdaya saing," tegasnya.
Sementara itu, dalam sesi review kurikulum, Direktur Syariah IARFC Indonesia, Dea Aryandhana Mulyana Haris, S.AB., M.E., RIFA, menekankan pentingnya pemahaman peta kurikulum, khususnya keterkaitan antar mata kuliah dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Ekonomi Syariah.
Pada kesempatan tersebut, perwakilan IARFC menyampaikan bahwa penguatan kurikulum harus dimulai dari pemetaan CPL yang jelas, sehingga setiap mata kuliah memiliki kontribusi nyata terhadap capaian lulusan, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional.
“Kurikulum yang kuat dimulai dari pemetaan CPL yang jelas. Setiap mata kuliah harus berkontribusi langsung terhadap CPL Ekonomi Syariah. Di saat yang sama, prodi perlu fokus, mampu memetakan pola pikir, mendorong lahirnya novelty berupa ide dan gagasan baru, serta menghidupkan kembali ghirah ekonomi syariah agar lulusan benar-benar siap masuk ekosistem industri syariah,” jelasnya.
Direktur Syariah IARFC juga menegaskan empat syarat utama penguatan kurikulum Ekonomi Syariah, yaitu bagaimana fokus pada arah dan kekhasan program studi, serta bagaimana memetakan pola pikir sivitas akademika agar pembelajaran terstruktur.
Pihak Fakultas Atap kampus juga diharapakan bisa mendorong novelty berupa ide dan gagasan baru para sivitas akademika untuk menggerakkan kembali ghirah ekonomi syariah di lingkungan akademik.
Melalui kerja sama tersebut diharapkan bisa melahirkan sinergi berkelanjutan antara kampus dan IARFC, sekaligus mempertegas peran Fakultas Keislaman sebagai pusat pengembangan keilmuan dan praktik ekonomi syariah.
"Semoga ikhtiar hari ini menjadi bagian dari jihad intelektual dalam membangun ekonomi umat yang halal, adil, dan berkelanjutan, serta membawa berkah pada prodi ekonomi syariah terakresitasi Unggul," tutup Dr. Abdur Rohman.
Editor : Amal Jaelani