Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Orwil Jawa Timur
FENOMENA ini sesungguhnya bukan semata soal turun ke jalan. Ada makna yang lebih dalam: pergeseran ruang aspirasi publik.
Di tengah dunia digital yang serba cepat, mahasiswa masih percaya bahwa jalanan adalah ruang komunikasi politik paling murni.
Spanduk, orasi, dan aksi duduk bersama di depan gedung wakil rakyat bukan hanya ritual simbolis, tapi bahasa tubuh yang sulit ditawar.
Namun, setiap gelombang aksi selalu meninggalkan pertanyaan penting: apakah pesan mahasiswa tersampaikan, atau justru tenggelam dalam hiruk-pikuk media sosial, framing politik, dan kepentingan elite? Disinilah kualitas demokrasi kita diuji.
Sejarah memberi kita banyak pelajaran. Tahun 1966, 1998, hingga 2019, mahasiswa selalu tampil sebagai garda moral bangsa.
Mereka bukan hanya penekan kebijakan, tetapi juga pengingat bahwa demokrasi harus tumbuh dari keberanian mendengar suara rakyat.
Kini, saat mereka kembali berdiri di depan DPR, bangsa ini dipaksa bercermin: sejauh mana pemerintah dan parlemen benar-benar mau mendengar?
Dampak aksi ini jelas terasa. Pertama, secara politik, publik kembali menyoroti jarak yang makin melebar antara rakyat dan wakilnya. Kredibilitas DPR dipertaruhkan, bukan hanya karena isu yang diperdebatkan, tetapi juga karena cara mereka merespons kritik.
Kedua, secara sosial, gelombang demonstrasi menciptakan resonansi luas di kalangan masyarakat sipil. Diskusi-diskusi kecil di warung kopi, ruang kelas, hingga media sosial, kembali hangat membicarakan nasib bangsa.
Ketiga, secara moral, mahasiswa menegaskan bahwa idealisme belum mati. Masih ada generasi muda yang berani melawan arus pragmatisme.
Tentu kita juga harus paham dan menyadari: bahwa demonstrasi tidak boleh berhenti pada romantisme jalanan. Harus berlanjut menjadi advokasi yang cerdas, riset kebijakan yang matang, dan komunikasi publik yang berkesinambungan.
Jalanan adalah pintu awal, tapi ruang-ruang intelektual, meja dialog, dan kanal formal harus menjadi tahap lanjutan. Jika tidak, maka aksi hanya akan jadi siklus yang berulang tanpa hasil nyata.
Di hadapan kita, demo mahasiswa kali ini adalah teguran keras. Teguran kepada parlemen yang sering kali larut dalam agenda politik jangka pendek. Teguran kepada pemerintah yang kadang lupa mengukur dampak sosial kebijakan.
Teguran pula kepada kita semua, masyarakat sipil, agar tidak pasif dan menyerahkan seluruh urusan bangsa hanya kepada elite politik.
Bangsa ini lahir dari keberanian kolektif. Sejarahnya penuh dengan jejak orang-orang muda yang tidak pernah diam melihat ketidakadilan.
Karena itu, jangan pernah sepelekan suara mahasiswa yang berteriak dari balik pagar DPR. Mereka mungkin tidak sempurna, mungkin emosional, namun di sanalah nurani bangsa masih berdenyut.
Pertanyaannya kini sederhana tapi mendasar: apakah suara mereka akan kita dengar, atau kembali kita biarkan hilang ditelan riuh kepentingan politik?
Editor : Alim Perdana