Tarian THR : Antara Keceriaan Lebaran dan Kontroversi

Ketua ICMI Jawa Timur, Ulul Albab bersama keluarga. Foto/Dok.Pribadi
Ketua ICMI Jawa Timur, Ulul Albab bersama keluarga. Foto/Dok.Pribadi

Bagi-bagi Tunjangan Hari Raya (THR) pada momentum Hari Raya Idul Fitri tahun ini, ternyata menghadirkan tren yang luar biasa seru di dunia maya. Bukan hanya soal uang yang diberikan dalam amplop, tetapi juga soal gerakan tubuh, sebuah tarian yang cukup menyita perhatian saat berbagi THR yang langsung viral di beberapa platform media sosial.

Dalam tren ini, untuk bisa menerima THR, seseorang harus melantunkan gerakan tari yang enerjik terlebih dahulu. Dari anak-anak hingga orang dewasa, semuanya ikut terlibat. Ada yang menari dengan semangat, ada pula yang mengembalikan suasana dengan sedikit kesalahan yang justru menambah tawa.

Munculnya video-video keluarga yang berjoget-joget seru, dengan imbalan THR di ujungnya, menambah semarak suasana Lebaran. Namun, siapa sangka, tarian yang semula hanya dianggap hiburan ini justru mengundang perdebatan. Dibalik tawa dan canda sukacita Hari Raya Idul Fitri, ada sesuatu yang cukup mengganggu beberapa orang. Yaitu tentang klaim bahwa tarian tersebut memiliki kaitan dengan tradisi Yahudi.

Benarkah demikian? Ataukah ini hanya gerakan tersebut sekadar kebetulan mirip dengan gerakan tarian yang pernah ada yang menurut sebagian orang identik dengan tradisi Yahudi?

Tapi, bagaimana bisa tarian sederhana ini menjadi kontroversial? Ternyata, seiring dengan viralnya video-video tersebut, muncullah klaim yang mengatakan bahwa gerakan tarian ini serupa dengan yang dilakukan dalam tradisi Yahudi. Tentu saja, seperti halnya tren di media sosial, berita tersebut langsung tersebar luas. Semua orang berbicara tentangnya. Bahkan ada yang menyebut bahwa tarian ini adalah simbol dari budaya yang tidak sesuai dengan ajaran tertentu.

Salah satu pegiat sosial media atau Influencer, Bunda Corla juga ikut angkat bicara akan hal tersebut. Menurutnya, munculnya klaim tersebut tak bisa dibiarkan begitu saja. Bunda Corla, yang saat ini tinggal dan menetap di Jerman, melalui akun Instagram-nya, juga menegaskan bahwa tarian yang viral tersebut bukan berasal dari tradisi Yahudi, melainkan asal Finlandia.

Ia juga menambahkan bahwa tarian ini lebih merupakan bagian dari pesta remaja tahun 1960-an di Finlandia, yang disertai musik riang.

"Ini adalah joget yang tidak ada kaitannya dengan agama atau tradisi apa pun," jelasnya.

Tentu saja, penjelasan dari Bunda Corla menimbulkan reaksi beragam dari para netizen. Sebagian besar mendukung, karena menurut mereka sudah terlalu sering dunia sosial media melahirkan sebuah fenomena, bagaimana tren yang terjadi di media sosial sering kali dihubungkan dengan hal-hal yang tidak relevan, hanya karena kesamaan gerakan atau irama.

Beberapa netizen juga berpendapat bahwa mereka masih perlu mengklarifikasi hal tersebut. Menurut beberapa netizen, budaya dan seni adalah hal yang luas yang bisa datang dari berbagai tempat dan tradisi tanpa harus terikat pada satu kelompok atau agama.

*Sebuah Tarian, Jadi Tren atau Kontroversi?*

Kembali pada inti dari fenomena tersebut. Apakah kita sedang melihat sebuah hiburan ringan ataukah sebuah masalah yang bisa berkembang menjadi polemik panjang? Jawabannya mungkin ada di tengah-tengah. Antara hiburan yang berpotensi menjadi masalah dan polemik yang berkepanjangan.

Memang benar, tren tarian bagi-bagi THR ini memberikan warna baru dalam cara orang merayakan Lebaran. Dulu, pemberian THR hanya dilakukan dengan tatapan serius. Kini, ada kegembiraan yang mewarnai setiap gerakan tari yang disertai tawa. Semua menjadi lebih ringan dan menyenangkan.

Namun, klaim bahwa tarian ini memiliki akar dalam tradisi tertentu mengingatkan kita akan betapa rentannya persepsi masyarakat terhadap hal-hal yang tidak kita pahami sepenuhnya. Jika tidak hati-hati, isu ini bisa berkembang menjadi masalah yang lebih besar, apalagi jika ada yang memanfaatkan momen tersebut untuk memperkeruh suasana.

Maka kesimpulannya adalah, mari kita lebih bijaksana dalam mengikuti tren yang hadir.

Jadi, apapun asal-usul tarian ini, mungkin sudah saatnya kita menikmati keceriaan Lebaran ini tanpa harus terjebak dalam kontroversi yang tak perlu. Tarian THR ini jelas menghadirkan kebahagiaan. Tak ada salahnya menikmati hiburan yang ada, selama itu tidak merugikan siapapun. Namun, kita juga perlu bijak dalam menyikapi berbagai isu yang muncul di media sosial, agar jangan sampai perayaan ini berubah menjadi bahan perdebatan yang justru merusak suasana.

Mari kita rayakan Lebaran dengan senyuman, tawa, dan mungkin sedikit joget. Karena pada akhirnya, Lebaran adalah tentang kebersamaan, bukan kontroversi.

 

Ditulis oleh :

Ulul Albab - Ketua ICMI Jawa Timur

Editor : Ayo Jatim