SURABAYA - Akhir-akhir ini banyak bermunculan berita tentang para pendekar dari beberapa aliran perguruan silat adu kekuatan di jalanan. Namun hal itu masih perlu dipertanyakan, lantaran cara sparingnya gerudukan. Benarkah mereka yang suka tawuran itu benar-benar jagoan?
Jika pendekar-pendekar tersebut benar-benar jagoan, kira-kira berani gak ya sparing satu lawan satu di ring Rumble Training Camp seperti yang dilakukan oleh para fighter di laga Rumble Open Sparring (ROS).
Meskipun tidak terlihat layaknya pendekar yang plita-pliti, para fighter Rumble Open Sparring ini bertarung bebas satu lawan satu dalam pertandingan.
Energi dan adrelin bergulat. Gerakan menangkis, menghindar dan menahan pukulan cepat, mewarnai kompetisi.
Setiap serangan layaknya tarian para petarung andal mengundang komentator yang kian memanaskan suasana. Penguasaan pukulan dasar seperti jab, cross, hook dan uppercut dilakukan sempurna.
Adu kemampuan itu bukan sekadar unjuk kebolehan menguasai teknik yang telah diasah selama ini, namun juga latihan mengatur emosi saat berlaga hingga berhasil merebut medali.
Ketangguhan tidak soal fisik semata, tetapi juga buah kedisiplinan. Selama ini, para petarung telah berlatih keras sebelum pertandingan berlangsung.
Melewati serangkaian seleksi seperti cek fisik, timbang berat badan, face off dan hingga persiapan mental yang matang. Camp member non atlet mulai usia 15 tahun bebas ikut dalam pertandingan tersebut.
Rumble Open Sparring merupakan wadah bagi para atlet pemula yang dihelat oleh salah satu pusat pelatihan bela diri terkemuka di Surabaya, Rumble Training Camp.
ROS merupakan inisiatif unik dari Rumble Training Camp, menjadi yang pertama di Indonesia dengan model open sparring yang dimodifikasi. Acara ini bertujuan untuk memberikan pengalaman bertanding yang lebih nyata bagi para atlet pemula, meningkatkan kepercayaan diri mereka, serta mempersiapkan mereka untuk kompetisi yang lebih tinggi.
"Kami sangat bangga bisa terus konsisten menyelenggarakan ROS. Model open sparring ini adalah yang pertama di Indonesia dan kami berharap bisa terus menjadi pionir dalam pengembangan atlet bela diri di tanah air," ujar Jeffri Oktavian, founder Rumble Training Camp.
ROS kelima ini menampilkan 25 pertandingan menarik dari cabor boxing dan kickboxing. Para peserta akan bertanding dengan semangat sportivitas tinggi, menunjukkan kemampuan terbaik mereka di atas ring.
Febriansha, co-founder Rumble Training Camp yang juga akan ikut bertanding sebagai pembuka acara, menekankan pentingnya acara ini dalam meningkatkan prestasi bela diri Indonesia.
"ROS adalah wadah bagi para atlet muda untuk mengembangkan potensi mereka. Kami yakin, dengan terus memberikan kesempatan bertanding seperti ini, prestasi bela diri Indonesia akan semakin meningkat dan mampu bersaing di tingkat internasional," ujar Febriansha.
Rumble Training Camp memiliki visi untuk mendorong masyarakat untuk lebih sehat dan kuat secara fisik dan mental melalui seni bela diri. Melalui acara seperti ROS, Rumble Training Camp terus berkomitmen untuk memfasilitasi para petarung berbakat agar bisa naik ke tingkat pertandingan yang lebih bergengsi.
“Kita ingin masyarakat lebih menyukai olahraga, khususnya bela diri. Dengan eksibisi ini, meski skalanya lokal, kita ingin menyajikan pertandingan yang menarik untuk semua kalangan,” ucap Ferdinand K Dharsana, General Manager Rumble Training Camp sekaligus ketua pelaksana acara ROS.
Acara ROS kelima ini akan diselenggarakan di Rumble Training Camp Citraland, Surabaya Barat, pada tanggal 22 Juni 2024. Acara ini terbuka untuk umum dan diharapkan dapat menjadi tontonan yang menarik bagi para pecinta olahraga bela diri.
Editor : Alim Perdana