ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Didanai UNDP, Tiga Akademisi UNAIR Teliti Tanaman Obat di Thailand

avatar Alim Perdana
  • URL berhasil dicopy
Tiga akademisi UNAIR terlibat riset tanaman obat di Thailand yang didanai UNDP, mengkaji pengembangan herbal dan budidaya berkelanjutan. Foto/Ayojatim
Tiga akademisi UNAIR terlibat riset tanaman obat di Thailand yang didanai UNDP, mengkaji pengembangan herbal dan budidaya berkelanjutan. Foto/Ayojatim

SURABAYA - Tiga akademisi Universitas Airlangga (UNAIR) terlibat dalam penelitian internasional pengembangan tanaman obat di Thailand. Riset yang didanai United Nations Development Programme (UNDP) itu mempertemukan peneliti dari Indonesia, Thailand, dan Tanzania untuk mengkaji pemanfaatan herbal bagi kesehatan sekaligus mengembangkan sistem budidaya yang berkelanjutan.

Keterlibatan akademisi UNAIR berlangsung melalui program International Workshop and Fieldwork pada 25–30 Oktober 2026. Ketiganya adalah Prof. Dr. apt. Wiwied Ekasari, M.Si. dari Fakultas Farmasi, Assoc. Prof. Lina Puryanti dari Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads (AIIOC), serta Dr. apt. Neny Purwitasari, M.Sc. dari Fakultas Farmasi.

Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (FFUA) periode 2025–2030, Prof. apt. Dewi Melani Hariyadi, S.Si., M.Phil., Ph.D., menilai kolaborasi internasional tersebut membuka peluang pengembangan penelitian tanaman obat berbasis potensi sumber daya lokal.

“Pengembangan tanaman obat tidak cukup hanya mengandalkan potensi sumber daya alam. Diperlukan penelitian, pendampingan masyarakat, serta kolaborasi antara akademisi, petani, dan pemangku kepentingan agar pemanfaatannya dapat berkembang secara berkelanjutan,” ujar Prof. Dewi.

Lina Puryanti selaku Direktur Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads (AIIOC) menyampaikan bahwa program ini adalah salah satu bentuk nyata kolaborasi internasional untuk memperkuat jaringan kerjasama negara negara Global South yang selama ini telah dilakukan oleh AIIOC bersama dengan mitra internasional yang bekerjasama secara multidisplin dengan berbagai fakultas terkait di Universitas Airlangga. Ini menjadi bentuk pemerolehan ilmu pengetahuan bersama (knowledge production sharing) yang bersifat sangat organik antara para ilmuwan dan komunitas lokal di berbagai negara belahan selatan. 

Program tersebut merupakan bagian dari proyek penelitian bertajuk Management, Social Practice and Improved Cultivation of Medicinal Plant against COVID-19 in Thailand, Indonesia and Tanzania.

Pendanaan melibatkan UNDP, Thailand International Cooperation Agency (TICA), dan Kementerian Luar Negeri Thailand. Kasetsart University menjadi koordinator proyek dengan Asst. Prof. Dr. Lalita Hanwong sebagai penyelenggara sekaligus pemimpin penelitian.

Selama kegiatan, para peserta mengunjungi dua provinsi di Thailand, yakni Sakon Nakhon dan Nan. Kedua wilayah tersebut memperlihatkan pendekatan berbeda dalam pengembangan tanaman obat.

Di Sakon Nakhon, para peneliti mengamati praktik budidaya tanaman obat yang dilakukan petani lokal dengan pendampingan peneliti Kasetsart University.

Rombongan juga mengunjungi fasilitas pengolahan herbal untuk mempelajari proses ekstraksi, pengolahan, hingga pengendalian mutu produk. Diskusi bersama pemangku kepentingan setempat turut membahas integrasi antara petani, akademisi, dan layanan kesehatan.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah dukungan kebijakan pemerintah Thailand terhadap penggunaan obat herbal dan pelayanan pengobatan tradisional. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia dan Tanzania.

“Pengalaman Thailand dalam mengintegrasikan budidaya tanaman obat, pengolahan produk herbal, dan layanan pengobatan tradisional menjadi pembelajaran yang menarik. Praktik tersebut dapat dikaji lebih lanjut untuk melihat peluang penerapannya di Indonesia dengan menyesuaikan kondisi dan potensi sumber daya lokal,” jelas Prof. Dewi.

Pembahasan juga mencakup potensi tanaman herbal seperti sambiloto dan jahe, serta berbagai bentuk aromaterapi. Bahan-bahan tersebut menjadi bagian dari kajian mengenai pemanfaatan sumber daya lokal untuk mendukung kesehatan masyarakat, termasuk dalam menghadapi infeksi virus seperti influenza musiman.

Berbeda dengan Sakon Nakhon, kunjungan ke Provinsi Nan memperkenalkan peserta pada YAYA Medicinal Grass Project.

Program yang dikembangkan Nan Sandbox Initiative bersama Kasikornthai Foundation tersebut mengintegrasikan budidaya tanaman obat dengan ekosistem hutan. 

Pendekatan ini menjadi salah satu upaya mengatasi deforestasi melalui pemberdayaan masyarakat untuk membudidayakan tanaman obat secara berkelanjutan.

Dua lokasi kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai model pengembangan tanaman obat, mulai dari budidaya pertanian berbasis penelitian akademik hingga sistem yang menggabungkan pemanfaatan tanaman herbal dan konservasi hutan.

Penelitian internasional tersebut juga berkaitan dengan tiga tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Pertama, SDG 3 atau Good Health and Well-being, melalui pengembangan penelitian tanaman obat untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Kedua, SDG 15 atau Life on Land, melalui praktik budidaya yang memperhatikan kelestarian hutan, keanekaragaman hayati, dan upaya mengatasi deforestasi.

Ketiga, SDG 17 atau Partnerships for the Goals, melalui kerja sama penelitian lintas negara yang melibatkan perguruan tinggi, akademisi, lembaga internasional, dan masyarakat.

Keterkaitan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan tanaman obat tidak hanya menyangkut aspek kesehatan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penguatan kemitraan global.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan International Synthesis Roundtable di Bangkok pada 30 Oktober 2026.

Forum tersebut menjadi ruang bagi akademisi dari Indonesia, Thailand, dan Tanzania untuk membandingkan hasil pengamatan lapangan, membahas praktik sosial masyarakat dalam budidaya tanaman obat, serta merumuskan rekomendasi kebijakan dan peluang penelitian bersama.

Prof. Dewi berharap keterlibatan akademisi UNAIR dalam proyek tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi pengembangan riset tanaman obat di Indonesia.

“Kolaborasi lintas negara memberikan kesempatan bagi peneliti untuk bertukar pengetahuan dan mengembangkan kajian berbasis potensi tanaman obat di masing-masing negara. Kami berharap pengalaman ini dapat memperkuat jejaring akademik, memperkaya perspektif penelitian, serta mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Partisipasi tiga akademisi UNAIR dalam proyek yang didukung UNDP dan TICA tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik internasional, khususnya di bidang farmasi, pengembangan herbal, dan keberlanjutan lingkungan.

Melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas negara, hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya pengembangan tanaman obat Indonesia, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta mendorong pemanfaatan sumber daya alam yang memberikan manfaat bagi kesehatan dan lingkungan.

Editor :

Runtuhnya Rezim Jokowi
Opini   

Runtuhnya Rezim Jokowi

Maka posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden juga tidak sah dan batal demi hukum pula.…