ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Tiga Kali Gagal, Andrew Dwi Permana Akhirnya Raih Beasiswa Erasmus Mundus hingga Kuliah di Swedia

avatar AM Lukman J
  • URL berhasil dicopy
Andrew Dwi Permana, berhasil melanjutkan pendidikan melalui beasiswa Erasmus Mundus Joint Masters (EMJM) dari Uni Eropa. Foto: Ist/Ayojatim
Andrew Dwi Permana, berhasil melanjutkan pendidikan melalui beasiswa Erasmus Mundus Joint Masters (EMJM) dari Uni Eropa. Foto: Ist/Ayojatim

JAKARTA – Mewujudkan impian kuliah di Eropa tidak selalu berjalan mulus. Pengalaman itu dirasakan Andrew Dwi Permana yang harus mencoba hingga tiga kali sebelum akhirnya berhasil mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui beasiswa Erasmus Mundus Joint Masters (EMJM) dari Uni Eropa.

Ketertarikan Andrew untuk menempuh pendidikan di Eropa sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMA. Kesempatan mengenal lebih jauh sistem pendidikan tinggi Eropa datang ketika Pameran Pendidikan Tinggi Uni Eropa (European Higher Education Fair/EHEF) digelar di Bali pada 2015.

Saat itu, Andrew masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Elektro, Universitas Udayana. Melalui pameran tersebut, ia mulai mengumpulkan informasi mengenai pilihan universitas, sistem pendidikan, hingga peluang beasiswa untuk melanjutkan studi magister di Eropa, khususnya Swedia.

Namun, perjalanan menuju bangku kuliah di Eropa tidak langsung membuahkan hasil. Tiga kali mencoba mendaftar, Andrew belum berhasil mendapatkan kesempatan yang diharapkan. Meski demikian, kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti mengejar cita-cita.

Ia kemudian mencoba jalur beasiswa Erasmus Mundus Joint Masters, program Uni Eropa yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa internasional untuk menempuh satu program magister di beberapa universitas di Eropa.

“Enggak semuanya keberhasilan dalam satu shot. Ibarat kita melamar kerja, belum tentu sekali mengirim lalu mendapat panggilan. Daripada ngoyo, lebih baik fokus mempersiapkan diri. Jangan terlalu khawatir dengan pilihan studi walau ini memang harus dipikirkan serius yang sesuai minat,” ungkap Andrew.

Kesempatan tersebut akhirnya datang pada 2022. Andrew diterima dalam program EMJM Medical Imaging and Applications (MAIA). Melalui program ini, ia menjalani perkuliahan lintas negara di Prancis, Italia, dan Spanyol. Sementara itu, penelitian untuk tesis magisternya diselesaikan di Karolinska Institutet, Swedia.

Menurut Andrew, setiap semester dalam program tersebut memiliki fokus pembelajaran yang berbeda. Materi diawali dengan dasar-dasar medical imaging dan pengenalan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kemudian berkembang menuju bidang spesialisasi hingga persiapan tesis magister.

Lingkungan akademiknya juga mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang negara dan budaya. Terdapat 28 mahasiswa dari 21 negara yang mengikuti program tersebut, dengan bahasa Inggris sebagai bahasa utama perkuliahan.

Pengalaman berpindah negara memberikan tantangan tersendiri bagi Andrew. Adaptasi tidak hanya berkaitan dengan sistem pendidikan, tetapi juga kebiasaan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Salah satu pengalaman yang masih diingatnya terjadi ketika berada di Prancis. Saat itu, ia sempat tersenyum kepada seseorang yang lebih tua ketika berada di kereta. Namun, respons yang diterimanya berbeda dari kebiasaan yang biasa ditemui di Indonesia.

Pengalaman sederhana tersebut membuatnya memahami bahwa sikap ramah dan kebiasaan sosial yang berlaku di satu negara belum tentu dimaknai dengan cara serupa di negara lain.

“Harus mikir lagi kalau kita bukan di Indonesia, jadi harus beradaptasi. Lewat pengalaman kuliah ini, bukan hanya gelar yang didapatkan, tapi juga belajar hidup di lingkungan yang berbeda, bertemu orang dari berbagai negara, dan melihat langsung seperti apa pendidikan lintas negara,” tuturnya.

Kini, Andrew melanjutkan perjalanan akademiknya melalui studi doktoral di Department of Biomedical Engineering and Health Systems, KTH Royal Institute of Technology, Swedia.

Kisah Andrew menjadi gambaran bahwa kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri membutuhkan persiapan, ketekunan, dan keberanian untuk mencoba kembali setelah mengalami kegagalan.

Bagi generasi muda yang ingin mengikuti jejaknya, Pameran Pendidikan Tinggi Uni Eropa atau EHEF Indonesia 2026 dapat menjadi salah satu kesempatan untuk mengenal lebih dekat pendidikan tinggi di Eropa.

EHEF 2026 akan digelar di Yogyakarta pada 4 November 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (UGM), serta di Jakarta pada 7–8 November 2026 di Menara Astra, Jalan Jenderal Sudirman.

Pameran tersebut terbuka gratis untuk umum dan menghadirkan sekitar 80 institusi pendidikan tinggi Eropa. Pengunjung dapat memperoleh informasi langsung mengenai pilihan program studi, universitas, serta peluang melanjutkan pendidikan di Eropa.

Editor :

Runtuhnya Rezim Jokowi
Opini   

Runtuhnya Rezim Jokowi

Maka posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden juga tidak sah dan batal demi hukum pula.…