ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Pentas Ludruk Besutan di Nganjuk, Anak-Anak Tampil Percaya Diri di Rumah Ilalang

avatar AM Lukman J
  • URL berhasil dicopy
Pentas Ludruk Besutan di Rumah Sanggar Ilalang,  desa Karangnongko, Kelutan, Kec. Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Sabtu malam (25/4/2026).
Pentas Ludruk Besutan di Rumah Sanggar Ilalang,  desa Karangnongko, Kelutan, Kec. Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Sabtu malam (25/4/2026).

NGANJUK - Pentas ludruk besutan seniman Surabaya Meimura (Meijono) kali ini terasa seperti halaman rumah yang tiba-tiba berubah menjadi panggung kenangan. Bukan sekadar tontonan, melainkan perjumpaan lintas usia yang hangat.

Itulah yang terjadi dalam pentas Ludruk Besutan di Rumah Sanggar Ilalang,  desa Karangnongko, Kelutan, Kec. Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Sabtu malam (25/4/2026).

Sejumlah anak-anak menyerbu ke tengah arena, lalu bergantian membaca puisi dengan suara yang  lantang, kadang sendiri, kadang bertiga. Malah ada yang berani tampil sendiri dalam monoplay.

Komunitas ini didirikan dan dipimpin oleh Agus R. Soebagyo yang di kalangan seniman akrab dipanggil Kang Rego. Ia membina ratusan anak usia SD, SMP, SMA, bahkan yang masih TK dan termasuk yang belum mengenyam bangku sekolah.

Sebagai pegiat teater, Rego mengajari anak-anak membaca puisi dan monolog, atau bermain teater. Hasilnya, mereka mampu tampil percaya diri, tidak malu-malu, dan mencetak prestasi bahkan di tingkat nasional.

“Ini yang paling kecil, masih digendong ibunya, malah sudah pernah diajak main ketika masih dalam kandungan," tutur Rego memperkenalkan seseibu.

Meimura, sebagai tokoh Besut, tak lagi sekadar aktor tunggal. Ia memosisikan diri sebagai kakek, figur yang merangkul, bukan mendominasi.

Anak-anak itu pun menjelma cucu-cucu yang riuh, polos, dan penuh rasa ingin tahu. Semua ini selaras dengan tema ludruk garingan malam itu. Besut Sambang Putu, yang bermakna sebuah kunjungan, sebuah pulang, sebuah pelukan yang lama dirindukan.

Ketika ia mengawali penampilannya dari arah jalanan desa dengan membawa obor yang menyala kecil dan daun pisang yang berdesir pelan, anak-anak langsung berlarian menjemput. Mereka mengawal langkahnya, seolah menjaga api kecil itu agar tak padam sebelum sampai ke panggung.

Dan benar, begitu Besut menapak arena, suasana berubah, bukan lagi batas antara pemain dan penonton, melainkan lingkaran keluarga.

Maka terjadilah perbincangan akrab antara Besut yang renta dalam peran, namun lincah dalam rasa, dengan anak-anak yang menjadi cermin masa depan.

Mereka bertanya dengan polos, ia menjawab dengan jenaka. Mereka membaca puisi, ia menyulamnya dengan guyonan dan petuah ringan tanpa menggurui, tanpa jarak.

Besut berbagi pengetahuan tentang apa itu ludruk, apa itu Besut, dan Mei malah mempraktekkan menari remo hanya dengan iringan musik mulutnya sendiri. 

Di sanalah ludruk menemukan denyut barunya. Bukan hanya tawa yang dipanen, tapi juga harapan, bahwa panggung tradisi masih bisa diwariskan, bukan lewat ceramah panjang, melainkan lewat keakraban yang sederhana.

Malam itu, Besut tidak sekadar tampil, tapi ia juga menanam benih, diam-diam, di hati anak-anak yang mungkin kelak akan menghidupkan kembali cerita-cerita dari tanah mereka sendiri.

Dan yang mengagumkan, puisi-puisi karya penyair ternama itu mampu dibawakan anak-anak dengan sangat bagus, tak kalah dengan seniman profesional. Mereka antara lain membacakan puisi karya Taufik Ismail (Membaca Tanda-tanda), karya Hartoyo Andangdjaja, Sutardji Calzoum Bachri (Jembatan), Sapardi Djoko Damono (Selamat Pagi Indonesia).

Salah satu di antara mereka, Sabrina namanya, selain membaca puisi juga tampil memerankan tokoh Rusmini dan berdialog dengan Besut dalam percakapan spontan yang lancar.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap anak-anak yang berani tampil dan bagus itu, masing-masing mendapatkan hadiah buku karya Henri Nurcahyo yang diserahkan sendiri oleh penulisnya.

Dalam kesempatan diskusi, Kang Rego menjelaskan, pada mulanya sanggarnya memang membina anak-anak jalanan sebanyak 300-an, berbasis di Malang. Tahun 2007 Rego kembali ke desanya di Nganjuk, sempat stress selama 2 tahun, hingga akhirnya bangkit tahun 2009 dengan Komunitas Rumah Ilalang.

Rego menyediakan tempat penampungan anak-anak berbakat seni yang tidak tersalurkan di sekolah. Tempat kreativitas dan mengaktualisasikan diri bagi anak-anak.

Berbagai acara sudah digelarnya, seperti: Festival Teater pelajar, Nyadran Puisi yang sudah berlangsung 6 kali, Pagelaran Musim Tandur yang ke 11 kalinya, Festival Sastra Anak dua kali, dan Pentas Ngeluruk Dulur (PND) yang sudah berlangsung 69 kali sejak diawali tahun 2022.

Bahkan kalau dihitung sejak pertama kali diluncurkan, PND ini sudah sekitar 500 kali digelar di berbagai lokasi. Kesemua acara itu nyaris dilakukan secara swadaya.

“Sponsor kami adalah emak-emak yang dengan senang hati memercayakan anak-anak mereka belajar di sanggar ini,” kata Rego.


Dan ternyata, sebagian emak-emak itu adalah mantan pegiat teater semasa mahasiswa maupun sesudahnya, di Nganjuk, Kediri, Jombang, juga di Surabaya. Tak heran, potensi mereka kini menurun ke anak-anaknya. Nampaknya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Sementara Autar Abdillah yang juga tampil sebagai narasumber, sangat mengapresiasi acara ini karena telah mampu menciptakan ajang srawung sedulur, untuk menepis kebiasaan anak-anak yang kecanduan gawai. 

Ludruk adalah sarana untuk membawakan persoalan-persoalan masyarakat dengan cara-cara yang menghibur. Ludruk mengangkat sejarah lokal yang bisa jadi berbeda dengan sejarah yang ada di buku-buku.

“Supaya anak-anak, dan bahkan kita sendiri, jangan hanya sibuk srawung melalui WA,” tegas Doktor Ludruk alumnus ISI Yogyakarta dan Unair ini.

Ditambahkan, ludruk menghadirkan hiburan setelah masyarakat penat dengan persoalan keseharian. Masyarakat bisa berbagi pengalaman ketika secara bersama-sama menonton ludruk. Dan ludruk, sejak masih bernama Lerok dan Besutan, sudah biasa tampil improvisatoris tanpa terikat pakem yang kaku.

Meskipun, secara konvensional, elemen-elemen ludruk terdiri dari tari Remo, Kidungan, Lawak, dan Lakon Utama. Tidak ada sesi Bedayan. Itu pengaruh dari Dardanella, menirukan None-none Belanda. Bahkan dulu ludruk malah digunakan untuk merayakan ulang tahun. Dan ternyata itu masih terjadi sekarang ini.

Dan akhirnya, pentas Ludruk Besutan di Rumah Ilalang ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang pendidikan dan pembinaan generasi muda.

Keterlibatan aktif anak-anak, dukungan komunitas, serta pendekatan ludruk yang cair dan komunikatif menunjukkan bahwa kesenian tradisi tetap relevan sebagai media ekspresi, pembelajaran, dan penguatan kebersamaan di tengah masyarakat.

Program “Jajah Deso Milangkori” oleh Meimura (Meijono) ini adalah program Pemberdayaan Ruang Publik Kementerian Kebudayaan RI di 10 kota di Jatim. Setelah Surabaya, Sidoarjo, Jombang, dan Nganjuk, segera menyusul kota Mojokerto, dan akan dijadwal kota-kota Kediri, Madiun, Blitar, Malang, dan Jember.

Editor :