ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Perang Bandeng vs Udang, Ludruk Besutan Sidoarjo Angkat Konflik Lokal dengan Gaya Segar

avatar AM Lukman J
  • URL berhasil dicopy
Pentas Ludruk bertema “Perang Bandeng dan Urang”, yang digelar di Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) pada Jumat (10/4/2026). Foto: Julian for Ayojatim
Pentas Ludruk bertema “Perang Bandeng dan Urang”, yang digelar di Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) pada Jumat (10/4/2026). Foto: Julian for Ayojatim

SIDOARJO - Perseteruan tak biasa tersaji di panggung ludruk. Bukan soal cinta atau kekuasaan, melainkan “perang” antara juragan bandeng dan juragan udang yang dikemas ringan dan menggelitik di Sidoarjo.

Malam itu, suasana di Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda), Jalan Erlangga 67 Sidoarjo, terasa berbeda. Gelak tawa penonton pecah sejak awal pementasan ludruk Besutan bertajuk “Perang Bandeng dan Urang”, Jumat (10/4/2026) pukul 19.00 WIB. Lakon sederhana, tapi dekat dengan keseharian masyarakat pesisir Sidoarjo.

Di tangan Meimura, nama panggung dari Meijono, konflik antarjuragan ini disulap menjadi tontonan segar yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentil realitas sosial. Ia tampil sebagai tokoh Besut, karakter ikonik dalam kesenian rakyat yang menjadi cikal bakal ludruk.

Pementasan ini merupakan bagian dari tur “Besut Jajah Deso Milangkori” yang akan menyambangi 10 kota di Jawa Timur. Menariknya, setiap kota disuguhi cerita berbeda, disesuaikan dengan isu lokal yang sedang hangat.

“Setiap daerah punya ceritanya sendiri. Kami mencoba menangkap itu, lalu mengolahnya jadi pertunjukan yang ringan tapi tetap punya pesan,” ujar Meimura.

Sebelumnya, pada pentas perdana di kawasan Gunung Anyar, Surabaya (4/4/2026), rombongan ini mengangkat isu pencemaran sampah di kawasan pantai. Kala itu, panggung dihidupkan oleh aktor Hengki Kusuma dan Puryadi.

Sementara di Sidoarjo, Meimura berkolaborasi dengan Robet Bayonet dan Didik Jogoyudo yang sukses mengundang tawa lewat gaya khas ludruk garingan.

Program pentas keliling ini menjadi bagian dari inisiatif Pemberdayaan Ruang Publik oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Tak sekadar pertunjukan, kegiatan ini juga menjadi upaya menghidupkan kembali denyut kesenian tradisional di tengah gempuran hiburan modern.

Bagi Meimura, Besutan memiliki keunggulan karena fleksibel. Ia bisa dipentaskan tanpa harus bergantung pada panggung megah atau kelompok besar. Justru kesederhanaannya itulah yang menjadi kekuatan.

“Ludruk itu tidak harus selalu besar. Dengan format seperti ini, kita ingin menunjukkan bahwa seni ini bisa tetap hidup, dekat dengan masyarakat,” tegasnya.

Seperti tradisi yang dijaga, pementasan ditutup dengan sarasehan yang menghadirkan budayawan Arif Rofiq dan Ribut Wijoyo. Diskusi santai ini menjadi ruang refleksi sekaligus ajang berbagi gagasan tentang masa depan ludruk.

Sebelum lakon utama dimulai, penonton juga disuguhi penampilan kelompok karawitan yang menambah kental nuansa tradisional malam itu.

Perjalanan “Besut Jajah Deso Milangkori” masih panjang. Setelah Sidoarjo, rombongan dijadwalkan tampil di Jombang pada 18 April 2026 mendatang, dan di Kabupaten Nganjuk pada 25 April 2026. Setelahnya, mereka juga akan melanjutkan panggung berikutnya ke Mojokerto, Kediri, Madiun, Malang, hingga Jember.

Di tengah arus modernisasi, panggung sederhana ini seolah menjadi pengingat: bahwa cerita-cerita lokal, dengan segala kelucuannya, tetap punya tempat di hati penonton.

Editor :