SURABAYA - Suara musik hits yang mengudara dari frekuensi radio pernah menjadi teman setia generasi muda di era 1980 hingga 2000-an. Di antara deretan stasiun radio yang mewarnai masa itu, Istara FM Surabaya hadir sebagai salah satu ikon anak muda yang tak lekang oleh waktu.
Didirikan pada 16 Agustus 1983, Istara FM lahir dari semangat menghadirkan hiburan segar sekaligus ruang ekspresi bagi generasi muda di Kota Pahlawan. Sejak awal, radio ini dikenal konsisten mengusung format Contemporary Hit Radio (CHR) atau Top 40, memutar lagu-lagu populer yang tengah digandrungi pasar global.
Pada masanya, Istara FM bukan sekadar media hiburan. Ia menjadi bagian dari gaya hidup anak muda Surabaya—tempat mengikuti tren musik, berinteraksi lewat siaran, hingga menemukan identitas generasi.
Perjalanan panjang itu membawa Istara FM pada berbagai fase penting. Salah satunya terjadi pada 2004, ketika radio ini berpindah frekuensi menjadi 101.1 FM. Perubahan tersebut bukan sekadar teknis, tetapi juga momentum penguatan identitas sebagai radio anak muda dengan slogan “Surabaya’s No. 1 Youth Teen Contemporary Hit Music Station.”
Jangkauan siarannya pun meluas, mencakup wilayah Surabaya dan sekitarnya seperti Sidoarjo, Gresik, hingga Madura.
Program-program unggulan yang dekat dengan selera anak muda menjadikan Istara FM tetap relevan di tengah persaingan radio lokal.
Namun, tantangan terbesar datang saat era digital mulai menggeser kebiasaan mendengarkan radio. Platform streaming musik dan media sosial mengubah pola konsumsi hiburan, memaksa banyak radio untuk beradaptasi—atau perlahan ditinggalkan.
Ditengah Generasi Digital, Istara FM Menolak Mati dan Memilih Bertransformasi
Memasuki babak baru, radio ini tak hanya hadir melalui gelombang udara, tetapi juga merambah platform streaming digital agar dapat diakses lebih luas. Langkah ini menjadi bukti bahwa radio tetap bisa hidup berdampingan dengan teknologi.
Transformasi paling signifikan terjadi ketika Istara FM berkolaborasi dengan dunia pendidikan. Bersama Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, radio ini beralih fungsi menjadi laboratorium penyiaran.
Kini, studio siaran Istara FM bukan hanya tempat memutar lagu, tetapi juga ruang belajar. Mahasiswa terlibat langsung dalam proses produksi siaran—mulai dari menjadi penyiar, penulis naskah, hingga mengelola program. Pengalaman ini menjadi bekal nyata sebelum terjun ke industri media profesional.
Meski sempat mengalami masa vakum, Istara FM kembali mengudara pada 26 November 2024 dengan semangat baru. Kebangkitan ini menandai babak baru sebagai radio yang menggabungkan unsur edukasi dan hiburan.
Kembalinya Istara FM bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk adaptasi. Di tengah perubahan zaman, radio ini menunjukkan bahwa eksistensi tidak selalu soal bertahan dalam bentuk lama, tetapi berani berubah tanpa kehilangan jati diri.
Lebih dari empat dekade sejak pertama kali mengudara, Istara FM telah menjelma menjadi lebih dari sekadar stasiun radio. Ia adalah saksi perjalanan generasi, sekaligus ruang tumbuh bagi calon penyiar masa depan.
Di tengah gempuran platform digital, tak banyak radio yang mampu bertahan lintas generasi. Namun di Surabaya, Istara FM justru menunjukkan sebaliknya. Radio Istara terus bertransformasi dari radio hits anak muda menjadi ruang belajar penyiaran bagi mahasiswa, tanpa kehilangan identitasnya.
Di tengah derasnya arus digital, Istara FM membuktikan satu hal bahwa, suara radio mungkin tak lagi dominan, tetapi ia belum benar-benar hilang.
Editor : Amal Jaelani