SURABAYA - Perubahan cara anak muda Surabaya menikmati audio tak lagi hitam-putih. Di satu sisi, platform seperti Spotify dan YouTube Music menjadi pilihan utama. Namun, radio belum benar-benar ditinggalkan.
Riset terbaru garapan Dekan Fikom Unitomo Surabaya, Harliantara, bertajuk "Transisi dari Radio Terestrial ke Audio-On-Demand: Analisis Otonomi Audiens dan Keterhubungan Emosional pada Anak Muda Perkotaan di Surabaya" menunjukkan bahwa Gen Z di Surabaya justru menjalani dua kebiasaan sekaligus: menikmati kebebasan audio digital, tetapi tetap kembali ke radio dalam situasi tertentu.
Penelitian yang melibatkan 20 mahasiswa usia 19–25 tahun itu menemukan pola menarik. Saat ingin kontrol penuh memilih lagu, melewati iklan, atau menyesuaikan suasana hati anak muda lebih memilih layanan audio-on-demand. Mereka ingin pengalaman mendengarkan yang cepat, personal, dan bebas gangguan.
“Di Spotify saya yang pegang kendali. Kalau tidak suka lagu, langsung skip,” ujar salah satu responden dalam penelitian tersebut, seperti dikutip dari www.frontiersin.org.
Namun, kebebasan itu tidak selalu jadi keunggulan. Saat terjebak macet atau dalam perjalanan, banyak anak muda justru kembali menyalakan radio.
“Kalau lagi capek di jalan, saya tidak mau mikir pilih lagu. Tinggal dengar saja radio,” kata responden lain.
Fenomena tersebut memperlihatkan paradoks. Teknologi memberi kontrol penuh, tetapi dalam kondisi tertentu, terlalu banyak pilihan justru terasa melelahkan.
Radio kemudian mengambil peran sebagai “teman perjalanan” yang praktis. Tanpa perlu memilih, tanpa perlu menyentuh layar, suara tetap mengalir.
Yang menarik, alasan bertahannya radio bukan sekadar kemudahan. Ada faktor emosional yang tidak bisa digantikan algoritma.
Pendengar masih mencari suara manusia. Penyiar yang berbicara langsung, membahas kondisi kota, hingga menggunakan dialek khas Suroboyoan. Kedekatan tersebut menciptakan rasa kebersamaan yang tidak ditemukan dalam playlist digital.
“Spotify tahu selera saya, tapi tidak tahu Surabaya lagi hujan atau macet. Penyiar radio tahu itu,” ungkap responden.
Peneliti menyebut kondisi ini sebagai “paradoks emosional”. Di tengah kecanggihan algoritma, anak muda tetap membutuhkan sentuhan manusia.
Radio bukan lagi sekadar pemutar lagu, melainkan ruang interaksi sosial. Penyiar berperan sebagai teman yang hadir di waktu yang sama, membicarakan realitas yang sama.
Temuan tersebut memunculkan konsep “mutasi digital”. Radio dinilai tidak harus bersaing langsung dengan platform digital, tetapi beradaptasi dengan menggabungkan teknologi dan kedekatan emosional.
Artinya, radio perlu menyediakan konten yang bisa diakses kapan saja, sekaligus mempertahankan kekuatan utama: spontanitas, empati, dan konteks lokal.
Di tengah dominasi algoritma, satu hal belum tergantikan kehadiran manusia. Bagi anak muda Surabaya, suara penyiar masih punya tempat, terutama ketika kota terasa padat dan hari berjalan panjang.
Editor : Alim Perdana