ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

MDKA Bidik Produksi Emas Perdana dari Tambang Pani di Tahun 2026

avatar Ali Masduki
  • URL berhasil dicopy
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membukukan pendapatan US$1,895 miliar pada 2025 berkat lonjakan harga emas 32?n kenaikan produksi nikel yang masif. Foto/MDKA
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membukukan pendapatan US$1,895 miliar pada 2025 berkat lonjakan harga emas 32?n kenaikan produksi nikel yang masif. Foto/MDKA

JAKARTA - Raksasa pertambangan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menutup tahun buku 2025 dengan capaian finansial yang kokoh. 

Emiten bersandi saham MDKA ini berhasil mengantongi pendapatan sebesar US$1,895 miliar, sebuah angka yang mencerminkan perluasan skala operasional perusahaan di tengah dinamika pasar komoditas global yang menguntungkan.

Keberhasilan ini tidak lepas dari keberuntungan harga pasar dan strategi operasional yang presisi. Perusahaan menikmati kenaikan harga jual rata-rata (ASP) emas yang melesat hingga 32% secara tahunan (YoY). 

Di saat yang sama, lini bisnis nikel menunjukkan taringnya dengan pertumbuhan volume produksi bijih mencapai 44% YoY. Kombinasi kedua faktor tersebut mendorong EBITDA perseroan bertengger di angka US$373 juta pada akhir Desember 2025.

Struktur pendapatan MDKA kini kian bervariasi, tidak lagi hanya mengandalkan satu jenis mineral. Tambang Emas Tujuh Bukit di Banyuwangi masih menjadi tulang punggung dengan sumbangsih 103.156 ounces emas sepanjang tahun lalu.

Namun, perhatian pasar kini tertuju pada unit usahanya, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), yang mengelola Tambang Emas Pani di Gorontalo. 

Proyek ini telah merealisasikan penjualan emas pertamanya kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada pertengahan Maret 2026. Langkah ini menjadi tonggak sejarah bagi perseroan dalam memulai fase monetisasi aset baru yang lebih besar.

"Kami terus memperkuat fondasi bisnis melalui perluasan skala operasi dan penuntasan berbagai proyek strategis di seluruh lini," ujar Presiden Direktur Merdeka, Albert Saputro. 

Ia menyatakan keyakinannya bahwa kontribusi dari anak-anak usaha akan mempercepat momentum pertumbuhan nilai bagi para pemegang saham dalam jangka panjang.

Di sektor nikel, melalui PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), perusahaan mencatatkan lompatan produksi yang signifikan dari tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Produksi saprolit menembus angka 7 juta wet metric tonnes (wmt), sementara limonit mencapai 14,7 juta wmt.

Untuk tahun 2026, manajemen mematok target yang lebih agresif. Produksi saprolit membidik angka 8 hingga 10 juta wmt. Produksi limonit ditargetkan menyentuh kisaran 20 sampai 25 juta wmt.

Sementara untuk efisiensi biaya mencapai swasembada bijih saprolit 100% untuk menyuplai tiga pabrik RKEF milik perseroan.

Langkah hilirisasi juga diperkuat dengan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) yang dirancang memiliki kapasitas 90.000 ton nikel per tahun dalam bentuk MHP. 

Jika berjalan sesuai jadwal, uji coba lini produksi pertama akan berlangsung pada pertengahan 2026 mendatang.

Sementara itu, pada segmen tembaga, Tambang Wetar terus menyuplai arus kas yang stabil bagi grup.

Perseroan juga tengah mematangkan Proyek Tembaga Tujuh Bukit, yang digadang-gadang sebagai salah satu deposit porfiri tembaga-emas terbesar di dunia yang belum dikembangkan. 

Dengan total sumber daya mencapai 8,2 juta ton tembaga dan 27,9 juta ons emas, proyek ini akan menjadi kartu as MDKA dalam peta persaingan mineral global di masa depan.

Editor :