ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Naba’, Khabar, dan Tabayyun: Menelusuri Etika Kewartawanan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist

avatar ayojatim.com
  • URL berhasil dicopy
Dr. Abdur Rohman - Dekan Fakultas keislaman UTM. Foto: Dok-AyoJatim
Dr. Abdur Rohman - Dekan Fakultas keislaman UTM. Foto: Dok-AyoJatim

Tulisan ini diilhami dari sebuah pertemuan hangat antara pimpinan kampus dan para insan media ketika Rektor Universitas Trunojoyo Madura mengundang para wartawan se-Madura dalam sebuah forum silaturahmi beberapa hari lalu. Pertemuan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, tetapi juga ruang refleksi tentang pentingnya peran media dalam menjaga kesehatan informasi di tengah masyarakat.

Di era digital saat ini, berita bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital, sementara kebenarannya sering kali tertinggal di belakang.

Dalam situasi seperti ini, wartawan tidak hanya berperan sebagai penyampai berita, tetapi juga sebagai penjaga integritas kebenaran di ruang publik.

Menariknya, jika kita menelusuri sumber ajaran Islam, konsep tentang berita dan informasi sesungguhnya telah dibahas sejak awal dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi.

Al-Qur’an menggunakan sejumlah istilah yang berkaitan dengan berita dan komunikasi informasi, di antaranya naba’, khabar, dan tabayyun. Ketiga konsep ini tidak hanya memiliki makna linguistik, tetapi juga mengandung prinsip etika yang sangat relevan dengan praktik kewartawanan modern.

Dalam Al-Qur’an, istilah naba’ merujuk pada berita besar yang memiliki dampak penting bagi kehidupan manusia. Allah berfirman:

 عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ , عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ 

“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita besar (an-naba’ al-‘azhim).” (QS. An-Naba’: 1–2)

Ayat ini menunjukkan bahwa naba’ bukan sekadar informasi biasa. Ia adalah berita yang memiliki bobot dan konsekuensi bagi kehidupan manusia.

Dalam perspektif ini, seorang wartawan tidak hanya menyampaikan peristiwa, tetapi juga menyadari nilai dan dampak dari berita yang ia publikasikan.

Sementara itu, istilah khabar berarti informasi atau laporan yang disampaikan dari satu pihak kepada pihak lain. Dalam tradisi intelektual Islam, istilah ini berkembang dalam disiplin ilmu hadis sebagai akhbār, yaitu riwayat tentang sabda, tindakan, dan persetujuan Nabi yang disampaikan dari generasi ke generasi.

Para ulama hadis mengembangkan metodologi ilmiah yang sangat ketat dalam menilai keabsahan suatu khabar, melalui penelitian sanad dan kritik terhadap matan.

Tradisi ini menunjukkan bahwa dalam peradaban Islam, verifikasi informasi telah menjadi bagian penting dari proses keilmuan sejak masa awal.

Prinsip verifikasi berita ini ditegaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an melalui konsep tabayyun. Allah berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita (naba’), maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatan itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap naba’ yang datang kepada masyarakat tidak boleh langsung diterima sebagai khabar yang benar tanpa melalui proses tabayyun. Dengan kata lain, Al-Qur’an telah meletakkan dasar etika komunikasi yang sangat penting: verifikasi sebelum publikasi.

Pemikir Muslim besar seperti Ibn Khaldun dalam karya monumentalnya Muqaddimah bahkan mengingatkan bahwa banyak kesalahan dalam penulisan sejarah terjadi karena manusia menerima berita tanpa melakukan kritik yang memadai.

Menurutnya, sebuah khabar harus diuji melalui akal, konteks sosial, dan kemungkinan realitasnya. Tanpa kritik tersebut, sejarah dapat berubah menjadi kumpulan cerita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Pandangan yang sejalan juga dapat ditemukan dalam pemikiran Al-Ghazali yang menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Bagi Al-Ghazali, kata-kata manusia dapat menjadi sumber kebaikan, tetapi juga dapat menjadi sumber kerusakan sosial apabila tidak dijaga dengan kejujuran dan tanggung jawab moral.

Menariknya, praktik penyampaian informasi juga dapat ditemukan dalam kehidupan para sahabat Nabi. Beberapa sahabat memiliki peran yang menyerupai fungsi wartawan modern, yaitu bagaimana mengamati peristiwa, membawa berita, dan menyampaikannya kepada Rasulullah.

Di antaranya adalah Hudzaifah ibn al-Yaman yang dipercaya Rasulullah untuk mengetahui informasi penting terkait kelompok munafik di Madinah.

Amanah informasi ini menunjukkan bahwa berita memiliki nilai strategis dalam menjaga stabilitas sosial masyarakat.

Demikian pula Abdullah bin Rawahah yang dalam beberapa kesempatan diutus Rasulullah untuk memantau kondisi suatu wilayah dan menyampaikan laporan tentang situasi masyarakat.

Dalam perspektif komunikasi modern, peran ini dapat dipahami sebagai bentuk awal praktik pelaporan informasi dalam masyarakat Islam.

Dari sinilah kita dapat memahami bahwa dalam pandangan Islam, berita bukan sekadar komoditas informasi. Ia adalah amanah moral yang memiliki konsekuensi sosial dan spiritual.

Setiap kata yang ditulis atau disampaikan kepada publik mengandung tanggung jawab terhadap kebenaran.

Pada akhirnya, menelusuri konsep naba’, khabar, dan tabayyun dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis membawa kita pada satu kesadaran penting: bahwa etika kewartawanan bukan sekadar produk modernitas, tetapi juga memiliki akar nilai yang kuat dalam tradisi Islam.

Konsep naba’ mengingatkan bahwa tidak semua berita memiliki bobot yang sama; ada berita yang membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat.

Istilah khabar menegaskan bahwa setiap informasi yang disampaikan kepada publik memiliki konsekuensi sosial. Sementara prinsip tabayyun mengajarkan bahwa setiap berita harus diverifikasi sebelum disebarkan.

Dalam bahasa yang lebih reflektif, wartawan adalah mereka yang menjaga agar naba’ tetap menjadi berita yang benar, khabar tetap menjadi informasi yang jujur, dan tabayyun tetap menjadi jalan menuju kebenaran.

Ditengah derasnya arus informasi di zaman modern, nilai-nilai naba’, khabar, dan tabayyun bukan hanya relevan, tetapi justru menjadi kompas moral bagi dunia kewartawanan dalam menjaga kebenaran dan membangun peradaban informasi yang lebih beradab.

 

Ditulis oleh :

Dr. Abdur Rohman - Dekan Fakultas keislaman UTM

Editor :