ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Dekan Fakultas Keislaman UTM Ajak Generasi Muda Refleksikan Nilai Idul Adha

avatar AM Lukman J
  • URL berhasil dicopy
Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Dr. Abdur Rohman. Foto: AbdurRohman/Ayojatim
Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Dr. Abdur Rohman. Foto: AbdurRohman/Ayojatim

SURABAYA - Hari Raya Idul Adha dinilai bukan sekadar momentum ibadah tahunan umat Islam, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang makna pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial di tengah budaya konsumtif modern.

Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I., menilai perkembangan media sosial dan gaya hidup digital saat ini membawa tantangan tersendiri bagi generasi muda dalam memahami esensi Idul Adha.

Fenomena “flexing” atau pamer kekayaan di berbagai platform digital dinilai perlahan menggeser nilai spiritual menuju pencitraan sosial.

“Idul Adha seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan kesadaran generasi muda tentang pentingnya keikhlasan dan kepedulian sosial. Di tengah budaya konsumtif dan fenomena pencitraan di media sosial, semangat pengorbanan harus dimaknai sebagai kemampuan menahan ego, mengurangi sikap berlebihan, serta memperkuat empati terhadap masyarakat yang membutuhkan,” ujar Abdur Rohman, Kamis (28/5/2026).

Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengandung pesan mendalam tentang ketundukan kepada Allah SWT serta pentingnya mengendalikan kecintaan berlebihan terhadap dunia. Nilai tersebut dinilai masih sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

Ia menjelaskan bahwa esensi kurban bukan terletak pada mahalnya hewan yang disembelih atau besarnya kemampuan ekonomi seseorang, melainkan pada ketulusan hati dalam berbagi kepada sesama.

“Esensi Idul Adha bukan pada seberapa besar yang ditampilkan, tetapi seberapa tulus seseorang mampu berbagi dan memberi manfaat bagi sesama. Inilah nilai yang perlu terus ditanamkan kepada generasi muda,” tambahnya.

Pesan sosial Idul Adha, lanjut Abdur Rohman, juga masih sangat relevan di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2025 mencapai 23,85 juta orang atau sekitar 8,47 persen dari total populasi nasional. Kondisi tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian dan solidaritas sosial.

Menurutnya, distribusi daging kurban menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian sosial dalam Islam. Melalui pembagian kurban kepada masyarakat kurang mampu, nilai kemanusiaan dan kebersamaan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Di sisi lain, ia menilai media sosial sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai positif Idul Adha. Generasi muda dinilai memiliki peran penting dalam menghadirkan konten yang mengedukasi tentang empati, kesederhanaan, dan semangat berbagi.

Namun, ia mengingatkan agar momen keagamaan tidak dijadikan sekadar ajang pencitraan di ruang digital. Dokumentasi kemewahan perayaan maupun simbol-simbol sosial yang berlebihan dinilai dapat mengaburkan makna spiritual Idul Adha itu sendiri.

Karena itu, Abdur Rohman mengajak generasi muda menjadikan Idul Adha sebagai momentum introspeksi diri. Pengorbanan di era modern, menurutnya, dapat diwujudkan melalui sikap sederhana, mengurangi gaya hidup berlebihan, serta meningkatkan kepedulian terhadap kondisi sosial di lingkungan sekitar.

“Idul Adha mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang dimiliki dan dipamerkan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain,” pungkasnya.

Editor :