RELIGI - Peresmian layanan transportasi kampus UTM Trans menjadi lebih dari sekadar penambahan fasilitas mobilitas mahasiswa.
Di balik hadirnya moda transportasi ini, tersimpan makna yang lebih dalam. Sebuah momentum untuk merefleksikan bagaimana Islam memandang transportasi sebagai bagian dari misi besar peradaban manusia.
Dalam perspektif Islam, transportasi bukan hanya alat berpindah tempat, melainkan juga simbol kemudahan yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl ayat 8:
“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. An-Nahl: 8)
Ayat ini tidak berhenti pada penyebutan alat transportasi tradisional, tetapi membuka ruang luas bagi perkembangan teknologi. Frasa “menciptakan apa yang tidak kamu ketahui” dipahami oleh para ulama sebagai isyarat akan lahirnya inovasi transportasi di masa depan. Dalam konteks kekinian, kehadiran bus kampus seperti UTM Trans dapat dilihat sebagai bagian dari sunatullah dalam perkembangan peradaban.
Penegasan tentang transportasi sebagai bentuk kemuliaan manusia juga terdapat dalam Surah Al-Isra ayat 70:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, serta Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra: 70)
Menurut tafsir klasik, seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir, kemampuan manusia untuk melakukan mobilitas di darat dan laut merupakan bagian dari karunia Ilahi. Oleh karena itu, fasilitas transportasi harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama, bukan sekadar kenyamanan pribadi.
Namun, Islam tidak hanya berbicara tentang kemudahan, tetapi juga menekankan aspek etika dalam penggunaannya. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan punggung hewan tunggangan kalian sebagai mimbar. Sesungguhnya Allah menundukkannya untuk kalian agar menyampaikan kalian ke suatu negeri yang tidak dapat kalian capai kecuali dengan susah payah.” (HR. Muslim)
Pesan hadis ini relevan hingga hari ini: kendaraan adalah amanah. Dalam konteks modern, termasuk penggunaan transportasi publik seperti UTM Trans, nilai ini menuntut sikap bijak, tidak merusak fasilitas, serta menggunakan layanan secara bertanggung jawab.
Etika di ruang publik juga menjadi bagian penting dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW mengingatkan tentang adab di jalan melalui hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim:
“Jauhilah duduk di jalan-jalan.” Para sahabat berkata, “Kami tidak bisa meninggalkannya.” Beliau bersabda, “Jika kalian tetap melakukannya, maka berikanlah hak jalan itu: menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, dan mencegah kemungkaran.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa ruang publik, termasuk transportasi, memiliki hak yang harus dijaga. Budaya antre, menghormati sesama penumpang, serta menjaga ketertiban merupakan implementasi nyata dari nilai-nilai tersebut.
Pemikiran para ulama turut memperkaya perspektif ini. Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya efisiensi waktu sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim. Sementara Ibnu Khaldun dalam konsep umran menjelaskan bahwa kemajuan peradaban sangat ditentukan oleh kualitas infrastruktur, termasuk sistem transportasi.
Dalam kerangka itu, kehadiran UTM Trans dapat dipandang sebagai langkah strategis menuju peradaban kampus yang lebih berorientasi pada kemaslahatan. Transportasi yang terintegrasi tidak hanya memudahkan mobilitas, tetapi juga berpotensi mengurangi kemacetan, menekan polusi, serta membangun budaya disiplin di lingkungan akademik.
Lebih jauh, pertanyaan yang muncul bukan sekadar bagaimana memanfaatkan fasilitas ini, tetapi bagaimana menjaga nilai di dalamnya. Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk mencapai tujuan, tetapi juga menekankan pentingnya adab dalam perjalanan.
Akhirnya, transportasi dalam Islam adalah cerminan bagaimana manusia mengelola amanah dan memanfaatkan nikmat dengan penuh tanggung jawab. UTM Trans, dalam hal ini, bukan hanya alat mobilitas, tetapi simbol langkah kecil menuju peradaban kampus yang lebih beradab—di mana teknologi, nilai, dan tanggung jawab berjalan seiring.
Dari sana, satu pelajaran penting dapat diambil: setiap perjalanan bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi tentang nilai apa yang dibawa sepanjang jalan.
Profil Penulis :
Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.EI,. Lahir di Banyuwangi, 15 Agustus 1974, ia menempuh pendidikan dari pesantren hingga meraih S1 di STID Al-Amien Prenduan, S2 Ekonomi Islam, dan S3 di UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia juga aktif di forum ekonomi syariah dan pernah menjabat Wakil Dekan sebelum menjadi dekan.
Saat ini , Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.EI,. merupakan Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang dikenal sebagai akademisi visioner dengan komitmen pada pengembangan pendidikan Islam yang moderat, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Editor : Amal Jaelani