ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Ramadan: Madrasah Pengendalian Diri dan Kejujuran Bangsa

avatar ayojatim.com
  • URL berhasil dicopy
Khoirun Nasik, Ketua Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Panceng, Gresik. Foto: Dok-pribadi/Ayojatim
Khoirun Nasik, Ketua Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Panceng, Gresik. Foto: Dok-pribadi/Ayojatim

Ditengah berbagai krisis moral yang menggurita kehidupan berbangsa dari korupsi, penyalahgunaan jabatan, hingga konflik sosial yang dipicu emosi dan ujaran kebencian, umat Islam kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan.

Pertanyaannya: apakah Ramadan hanya menjadi ritual tahunan, atau benar-benar menjadi madrasah pembentuk karakter bangsa?

Al-Qur’an menegaskan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa bukan sekadar simbol kesalehan, tetapi kualitas pengendalian diri yang melahirkan integritas. Di sinilah Ramadan menemukan relevansinya: ia bukan hanya ibadah personal, tetapi pendidikan moral kolektif.

Hadiah Agung: Lailatul Qadar

Di antara keistimewaan Ramadan adalah hadirnya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Sebuah anugerah luar biasa bagi umat Nabi Muhammad SAW. Jika usia umat ini relatif lebih singkat dibanding umat terdahulu, maka Allah menghadiahkan kualitas ibadah yang melampaui batas perhitungan manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila datang bulan Ramadlan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah setan-setan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini bukan sekadar informasi spiritual, tetapi pesan optimisme. Ramadan adalah momentum ketika peluang kebaikan terbuka lebar dan ruang keburukan dipersempit. Tinggal sejauh mana manusia memanfaatkannya.

Puasa: Latihan Besar Pengendalian Diri

Rasulullah SAW menegaskan:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perisai dari hawa nafsu, dari amarah, dari keputusan gegabah yang merusak diri dan orang lain.

Secara lahiriah, puasa adalah menahan makan dan minum. Namun secara hakikat, puasa adalah latihan besar menunda keinginan. Di era serba instan, ketika segala hal ingin diperoleh cepat dan mudah, kemampuan menahan diri menjadi keterampilan langka.

Banyak persoalan sosial lahir dari kegagalan mengendalikan hasrat: korupsi karena tak mampu menahan ambisi, kekerasan karena tak mampu menahan emosi, konflik keluarga karena tak mampu mengelola ego. Ramadan mendidik manusia bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi.

Ada nilai dalam menunggu. Ada kemuliaan dalam kesabaran.

Puasa dan Madrasah Kejujuran

Puasa adalah ibadah yang unik. Ia tersembunyi. Berbeda dengan salat yang tampak gerakannya atau zakat yang terlihat distribusinya, puasa berlangsung dalam sunyi.

Seseorang bisa saja terlihat berpuasa di hadapan orang lain, tetapi secara diam-diam membatalkannya—dan tak ada yang tahu kecuali Allah. Di sinilah puasa menjadi madrasah kejujuran.

Dalam hadis qudsi disebutkan:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan terdalam dari hadis ini adalah integritas. Puasa melatih manusia jujur meskipun tidak diawasi. Jika nilai ini hidup, maka akan lahir aparatur yang amanah, pedagang yang tidak curang, pemimpin yang tidak menyalahgunakan jabatan, dan warga yang bertanggung jawab.

Bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh regulasi, tetapi oleh karakter warganya.

Jangan Hanya Menunda Lapar

Sering kali puasa direduksi menjadi sekadar perubahan jadwal makan. Siang hari menahan lapar, malam hari berlebihan. Jika sepanjang hari kita menahan diri tetapi saat berbuka kita larut dalam konsumtivisme, maka pesan pengendalian diri menjadi tidak tersampaikan.

Puasa bukan sekadar menunda makan. Jika sepanjang hari kita menahan lapar, tetapi saat berbuka kita makan berlebihan dengan kuantitas yang sama atau bahkan lebih banyak dari hari biasa, maka esensi pendidikan puasa menjadi lemah.

Kesederhanaan adalah bagian dari pendidikan puasa. Lapar melembutkan hati dan menumbuhkan empati kepada fakir miskin. Namun kerakusan justru mengeraskan jiwa.

Lapar melemahkan nafsu. Namun ketika makan berlebihan, nafsu kembali menguat. Ibarat seseorang membangun singgasana megah, lalu ia sendiri yang menghancurkannya. Sepanjang hari kita membangun benteng kesabaran, tetapi saat berbuka kita meruntuhkannya dengan kerakusan.

Karena itu, makanlah secukupnya. Kendalikan porsi. Jangan hanya menunda waktu makan, tetapi juga jaga kuantitasnya.

Puasa Seluruh Anggota Tubuh

Ulama dalam berbagai karya tasawuf menjelaskan bahwa puasa yang sempurna adalah puasanya seluruh anggota tubuh: mata dari pandangan haram, lisan dari dusta dan ghibah, telinga dari gosip, tangan dari kezaliman, serta hati dari iri dan dengki.

Di era digital, puasa juga berarti mengendalikan jari-jemari dari komentar yang menyakiti, menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, serta tidak mudah terseret arus provokasi.

Ramadan mengajarkan literasi spiritual: tidak semua yang terlihat harus dikomentari, tidak semua yang viral harus dibagikan.

Ramadan sebagai Madrasah Bangsa

Ramadan sejatinya adalah proyek besar pembinaan karakter. Ia memperbaiki individu, lalu keluarga, kemudian masyarakat. Jika dijalani dengan kesadaran, ia melahirkan pribadi yang sabar, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.

Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Kecamatan Panceng mengajak seluruh masyarakat menjadikan Ramadan sebagai madrasah kehidupan: madrasah pengendalian diri, madrasah kejujuran, dan madrasah kesederhanaan.

Jika nilai-nilai ini benar-benar terinternalisasi, maka Ramadan tidak berhenti di penghujung Syawal. Ia menjelma menjadi etos hidup sepanjang tahun.

Ramadan bukan sekadar tentang lapar dan dahaga. Ia adalah pendidikan karakter. Ia adalah fondasi integritas. Ia adalah investasi moral bagi masa depan bangsa.
Semoga Ramadan benar-benar melahirkan generasi beriman, berakhlak, dan mampu menjaga kehormatan diri, keluarga, serta bangsa dan negara.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Khoirun Nasik, SHI, MHI, CRA, CIQaR 
Ketua Komisi Pendidikan dan Dakwah MUI Panceng, Gresik

Editor :