Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur
SEHARI menjelang Ramadhan, mari kita menepi untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk persiapan yang seringkali hanya berputar pada urusan fisik. Kita perlu tekankan bahwa Ramadhan sesungguhnya adalah perjalanan hati.
Perjalanan untuk kembali mengenal Allah dengan lebih dekat. Karena itu, mari kita membuka awal langkah ini dengan merenungi ayat-ayat Al-Quran.
Kali ini saya ingin mengajak kita merenungi Surat Al-Hadid ayat 1–6, ayat-ayat yang mengajak kita memahami siapa Rabb yang akan kita tuju sepanjang bulan suci nanti.
Di surat Al-Hadid ini Allah memulai dengan menggambarkan bahwa seluruh langit dan bumi bertasbih kepada-Nya.
Seakan-akan Al-Qur’an ingin mengingatkan bahwa sebelum manusia beribadah, alam semesta telah lebih dahulu tunduk dalam kepatuhan dan kepasrahan penuh.
Di bulan Ramadhan ini kita tidak hanya perlu memperbanyak amal, tetapi juga perlu, bahkan sangat perlu, menyelaraskan diri dengan harmoni tasbih alam semesta.
Pada ayat berikutnya, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Dhohir dan Yang Bathin. Ini kalimat teologis untuk fondasi ketenangan jiwa.
Ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu bermula dan berakhir pada-Nya, maka segala tentang kegelisahan dunia perlahan menemukan tempatnya.
Puasa kita harus menjadi latihan untuk menyadari kehadiran Allah, betapa Allah selalu hadir membersamai kita kapanpun dan dimanapun.
Ayat-ayat ini juga menegaskan bahwa kekuasaan langit dan bumi berada dalam genggaman-Nya. Bagi kita yang sering sibuk menyiapkan target ibadah, pesan ini terasa sangat menenangkan: yang Allah lihat bukan hanya banyaknya amal, tetapi kesungguhan hati yang berserah diri hanya kepada Allah.
Dan pada ayat keenam, Allah mengingatkan tentang pergantian malam dan siang. Sebuah siklus yang terus berulang setiap hari tanpa henti secara otomatis, sebagai tanda betapa besar dan luas kasih sayang-Nya kepada kita dan seluruh alam semesta.
Setiap pergantian waktu adalah kesempatan baru untuk memperbaiki niat. Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada.
Maka menjelang Ramadhan, mungkin yang paling perlu kita rapikan bukan jadwal kegiatan, tetapi kejujuran hati: untuk siapa sebenarnya semua ibadah ini kita lakukan.
Sahabat, rasa-rasanya kita harus menjadikan hubungan kita dengan Allah sebagai hubungan romantis. Romantisme dengan Allah bukanlah istilah yang berlebihan.
Romantisme dengan Allah adalah keadaan ketika hati merasa dekat, diawasi, sekaligus dicintai oleh-Nya.
Surat Al-Hadid mengajarkan bahwa sebelum kita sibuk memperbanyak amalan, kita perlu memperdalam ma’rifat: mengenal Allah dengan kesadaran yang lebih utuh. Dari situlah Ramadhan akan terasa hidup, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Mari kita memasuki Ramadhan dengan hati yang lebih hening, pikiran yang lebih jernih, dan niat yang lebih tulus.
Ya Allah, lembutkan hati kami untuk kembali kepada-Mu. Jadikan Ramadhan ini bukan hanya pergantian waktu, tetapi momentum perjumpaan cinta antara kami (hambaMu) dengan Engkau (Rabb kami).
Selamat menyiapkan diri dan hati memasuki Ramadhan dengan membangun romantisme hubungan kita dengan Allah. Marhaban yaa Ramadhan.
Dan, jika ada salah serta khilaf saya kepada anda semua, dengan rendah hati saya memohon untuk dimaafkan. Dan insyaalloh saya pun telah memaafkan siapapun andai pernah ada salah dan khilaf.
#RamadhanBackToQuran
Editor : Alim Perdana