Oleh: Tri Prakoso, SH., MHP
WKU Bidang Migas Kadin Jatim
KETIKA Moody’s menggeser prospek (outlook) kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, respons pemerintah cenderung seragam: defensif dan normatif.
Argumen bahwa kita masih dalam kategori investment grade dan tidak sedang krisis seolah menjadi titik henti diskusi. Padahal, di situlah letak kekeliruannya.
Dalam dunia pemeringkatan kredit, outlook negatif bukanlah sekadar catatan pinggir. Ia adalah peringatan dini.
Jika peringkat saat ini bicara tentang hari ini, outlook bicara tentang arah masa depan. Mengabaikannya demi menenangkan publik sama saja dengan menolak melihat awan mendung hanya karena saat ini hujan belum turun.
Retakan di Balik Angka Makro
Secara statistik, Indonesia tampak baik-baik saja: pertumbuhan ekonomi di level 5%, defisit terkendali, dan rasio utang yang aman. Namun, ekonomi tidak runtuh karena angka, melainkan karena logika kebijakan yang cacat.
Sejarah mencatat bahwa krisis sering kali mengintai di balik indikator makro yang terlihat sehat, namun menyimpan risiko struktural yang terabaikan.
Outlook negatif adalah tanda yang sedang diabaikan. Dalam ekonomi global, kepercayaan memiliki harga yang nyata:
- Negara terpercaya: Membayar bunga lebih rendah.
- Negara yang diragukan: Membayar premi risiko yang mahal.
Masalah Ketidaksinkronan Kebijakan (Policy Uncertainty)
Pasar membutuhkan keterbacaan. Ketika negara mulai berbicara dengan banyak suara dan mandat yang tumpang tindih, kepercayaan tersebut luntur.
Moody’s menyebutnya sebagai ketidakpastian kebijakan, sebuah bahasa halus untuk mengatakan bahwa negara sedang tidak sinkron dengan dirinya sendiri.
Ekspansi peran negara yang agresif, terutama melalui BUMN dan konsolidasi aset, memang tampak berani di atas kertas.
Namun, tanpa tata kelola dan akuntabilitas yang sepadan, risiko tersebut hanya dikemas ulang, bukan dihilangkan. Pasar mulai bertanya-tanya: Jika investasi gagal, siapa yang menanggung bebannya?
"Ketika jawaban tidak tertulis secara eksplisit, pasar akan berasumsi bahwa negaralah yang akan menanggungnya. Inilah beban utang tak tercatat yang masuk ke dalam penilaian harga pasar."
Risiko Korporasi Menjadi Risiko Negara
BUMN kini memikul beban ganda: sebagai mesin korporasi sekaligus instrumen kebijakan. Tanpa regulasi yang ketat, mandat non-komersial ini melemahkan neraca mereka.
Saat itulah risiko korporasi bertransformasi menjadi risiko negara, sebuah skenario yang dibaca dengan cermat oleh Moody’s.
Kondisi ini diperparah oleh isu transparansi dan penegakan hukum yang setengah hati. Di tengah iklim global yang ketat, toleransi pasar terhadap hal-hal tersebut telah menipis menjadi kehati-hatian, yang pada gilirannya bisa berubah menjadi penghindaran investasi.
Bahaya dari Sebuah Ilusi
Pemerintah sering menjadikan disiplin defisit di bawah 3% sebagai mantra pelindung. Padahal, yang lebih krusial adalah kualitas belanja dan kekuatan penerimaan.
Selama reformasi pajak berjalan lambat dan ketergantungan pada sumber daya tertentu masih tinggi, risiko jangka menengah akan terus membayangi.
Masalah utama Indonesia hari ini bukanlah kekurangan kebijakan, melainkan kelebihan ilusi:
- Ilusi bahwa stabilitas angka sudah cukup.
- Ilusi bahwa pasar akan selalu maklum.
- Ilusi bahwa pengalaman masa lalu adalah jaminan permanen.
Kesimpulan: Alarm untuk Koreksi
Outlook negatif bukanlah hukuman, melainkan kesempatan untuk koreksi. Dampaknya mungkin tidak dramatis seperti ledakan krisis, namun ia akan menggerus ekonomi secara perlahan melalui kenaikan suku bunga dan penyempitan ruang fiskal tanpa kita sadari.
Indonesia masih memiliki waktu, namun disiplin adalah kuncinya. Kedaulatan ekonomi modern diukur dari konsistensi menjaga logika kebijakan, bukan dari seberapa keras kita menolak penilaian pihak eksternal.
Jika sinyal ini terus dianggap sebagai gangguan teknis belaka, outlook negatif ini bisa menjadi prolog yang sangat mahal bagi masa depan ekonomi kita.
Editor : Alim Perdana