ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Ada Apa dengan Pasar Saham Kita

avatar Ulul Albab
  • URL berhasil dicopy
Foto Ilustrasi/Gemini
Foto Ilustrasi/Gemini

Oleh: Ulul Albab
Akademisi, Pengamat Kebijakan Publik
Ketua ICMI Jawa Timur

GEJOLAK pasar saham yang terjadi belakangan ini mengingatkan kita bahwa pasar keuangan tidak semata-mata digerakan oleh angka, tetapi oleh kepercayaan. 

Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, transaksi menurun, dan investor asing melakukan penjualan bersih (net sell), maka seharusnya kita dengan cepat menangkap hal itu sebagai sinyal bahwa ada sesuatu terhadap “kepercayaan” investor kepada negeri kita. 

Penting untuk ditegaskan di sini, bahwa gejolak ini bukan merupakan indikasi krisis ekonomi. Faktanya fondasi ekonomi Indonesia relatif terjaga. Konsumsi domestik masih berjalan, aktivitas produksi tidak berhenti, dan roda pemerintahan terus berputar. 

Namun yang perlu diingat adalah bahwa pasar saham itu memang memiliki logika tersendiri. Ia sangat sensitif terhadap persepsi, terutama persepsi mengenai kepastian kebijakan dan kualitas tata kelola.

Dalam konteks inilah, maka berita tentang mundurnya pejabat OJK dan BEI menjadi sorotan dan faktor penting. OJK dan BEI adalah simbol kehadiran negara dalam menjaga integritas pasar. 

Ketika figur-figur kunci di lembaga ini memilih mundur, pasar memang tidak serta-merta menilai bahwa ada kesalahan fatal, tetapi pasar sedang membaca adanya tekanan internal dan ketidakpastian arah pengelolaan. 

Sesuatu yang tidak jelas bagi pasar. Bagi investor, ketidakjelasan semacam ini jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan masalah yang diakui secara terbuka dan ditangani secara sistematis.
Gejolak pasar saham saat ini juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika global. 

Suku bunga dunia yang masih tinggi (global high interest rate) mendorong investor global bersikap lebih konservatif. Ketegangan geopolitik yang belum mereda memperbesar rasa waswas. 

Akibatnya, dana internasional cenderung berpindah ke aset aman (safe haven, yaitu aset lindung nilai) yang dianggap lebih stabil. Negara-negara dengan pasar modal yang dinilai rapuh akan lebih cepat merasakan dampaknya.

Namun akan keliru jika seluruh persoalan ini diletakkan semata pada faktor global. Dari sisi domestik, pasar menangkap adanya tantangan dalam komunikasi kebijakan dan konsistensi regulasi. 

Persepsi mengenai lemahnya tata kelola (governance, yakni cara mengelola institusi) menjadi faktor yang memperbesar tekanan. 

Dalam kondisi pasar yang sensitif, isu kecil dapat berkembang menjadi sentimen besar karena dipicu oleh faktor psikologis, termasuk perilaku ikut-ikutan (herd behavior) di kalangan pelaku pasar.

Isu yang juga mengemuka adalah potensi penurunan klasifikasi pasar Indonesia dari “emerging market” (pasar berkembang) ke “frontier market” (pasar perintis dengan risiko lebih tinggi). 

Bagi publik yang awam, istilah ini mungkin terdengar teknis, tetapi dampaknya nyata. Status “emerging market” yang disandang Indonesai selama ini membuat Indonesia menjadi tujuan utama dana besar global. 

Tetapi jika turun kelas, maka sebagian dana institusional dapat keluar secara otomatis karena terikat mandat investasi. Biaya modal berpotensi meningkat, dan pasar menjadi lebih sensitif terhadap guncangan.

Dampak situasi ini tidak dirasakan secara seragam. Investor institusional, seperti dana pensiun dan manajer investasi besar, sangat bergantung pada stabilitas dan kepastian regulasi. Mereka cenderung bergerak cepat ketika kepercayaan terganggu. 

Sebaliknya, investor ritel—masyarakat umum—tidak terikat oleh indeks global. Bagi mereka, volatilitas memang meningkatkan risiko, tetapi juga dapat membuka peluang, asalkan dihadapi dengan rasionalitas dan kesabaran, bukan kepanikan.

Di titik ini, yang paling dibutuhkan adalah pemulihan kepercayaan. Pengunduran diri pejabat patut dihormati sebagai bentuk tanggung jawab moral. Namun pasar menunggu langkah konkret: transparansi, komunikasi kebijakan yang konsisten, dan penguatan tata kelola pasar. Negara perlu hadir sebagai penjamin kepastian.

Karena Pasar saham adalah cermin. Ia memantulkan seberapa jauh kepercayaan publik dan investor terhadap arah pengelolaan ekonomi. Ketika cermin itu menunjukkan kegelisahan, respons terbaik bukanlah menepis pantulan, tetapi memperbaiki apa yang direfleksikan. 

Dalam dunia pasar modal, kepercayaan adalah mata uang paling berharga. Tanpanya, angka setinggi apa pun akan kehilangan makna.

Dengan kata lain, fenomena gejolak yang terjadi di pasar saham Indonesia saat ini menunjukkan dengan gamblang bahwa Indonesia sedang “kurang dipercaya” oleh investor.

Ini menuntut negara segera mengumumkan dan menunjukkan keseriusanya dalam memperbaiki tata kelola yang benar, yang dibutuhkan oleh investor. Pemerintah perlu introspeksi mendalam, lalu sesegera mungkin melakukan perbaikan.

 

Editor :