SURABAYA — Kementerian Kebudayaan Mesir kembali menggelar Cairo International Book Fair (CIBF) 2026, pameran buku internasional terbesar dan tertua di Timur Tengah. Memasuki edisi ke-57, ajang literasi bergengsi ini berlangsung pada 22 Januari hingga 3 Februari 2026 di Egypt International Exhibition Center (EIEC), Kairo.
Pameran ini menyedot perhatian luas, tidak hanya dari masyarakat Mesir, tetapi juga komunitas internasional. Sejumlah media global turut memberitakan acara ini sejak jauh hari. Sejak pertama kali digagas pada 1969 oleh Dr. Suhair Al-Qalamawy, CIBF konsisten menjadi magnet jutaan pengunjung setiap tahunnya.
Bagi Himmy Kanza Tsabita, salah satu mahasiswi Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Mesir, Cairo International Book Fair (CIBF) 2026 bukan sekadar pameran buku, melainkan ruang penting dalam perjalanan intelektualnya sebagai penuntut ilmu di negeri para ulama.
Alumni Ma’had Tahfidh Al-Qur’an Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura ini menilai CIBF sebagai “surga literasi” bagi mahasiswa Al-Azhar. Pameran buku internasional yang digelar Kementerian Kebudayaan Mesir tersebut berlangsung pada 22 Januari hingga 3 Februari 2026 di Egypt International Exhibition Center (EIEC), Kairo, dan memasuki edisi ke-57.
“Bagi mahasiswa Al-Azhar, Book Fair ini bukan hanya tempat membeli buku, tetapi ruang belajar yang sangat hidup. Kitab-kitab turats, buku rujukan perkuliahan, hingga karya ulama besar tersedia lengkap dengan harga terjangkau,” ujar Himmy dari Kairo, saat ditemui di Surabaya, Minggu (1/2/2026).
Menurut Himmy, keberadaan CIBF sangat membantu mahasiswa internasional, termasuk dirinya yang saat ini sedang menempuh pendidikan Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Mesir.
Para mahasiswa di Mesir dapat mengakses kitab-kitab klasik dan referensi akademik yang selama ini menjadi tulang punggung kajian keislaman di Al-Azhar.
"Kitab tafsir, hadis, fikih empat mazhab, ushul fikih, hingga literatur resmi perkuliahan menjadi koleksi yang paling diburu," tambahnya.
CIBF 2026 sendiri tercatat sebagai pameran buku terbesar di Afrika dan terbesar kedua di dunia setelah Jerman. Tahun ini, sebanyak 749 penerbit turut ambil bagian, terdiri dari 579 penerbit dalam negeri dan ratusan penerbit internasional dari berbagai negara, seperti Yordania, Suriah, Lebanon, Aljazair, Maroko, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, hingga Yunani.
Tak hanya pameran buku, Himmy juga menyoroti rangkaian kegiatan ilmiah yang digelar selama CIBF, mulai dari diskusi akademik, seminar, hingga bedah buku yang menghadirkan cendekiawan dan penulis lintas negara.
Menurutnya, forum-forum tersebut memperkaya wawasan dan memperkuat tradisi intelektual mahasiswa Al-Azhar sebagai pusat keilmuan dunia Islam.
“Dengan banyaknya diskon, ketersediaan kitab langka, dan kesempatan bertemu langsung dengan penulis serta ulama, Book Fair ini memberi pengalaman belajar yang sangat berharga,” ungkap Himmy antusias.
Bagi Himmy Kanza Tsabita, Cairo International Book Fair 2026 bukan hanya agenda tahunan, tetapi bagian dari proses panjang menuntut ilmu.
“Ini bukan sekadar tentang buku, tetapi tentang perjalanan intelektual yang penuh makna,” pungkasnya.
Editor : Amal Jaelani