ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Nisfu Sya‘ban, Malam yang Mengajak Kita Berdamai dengan Diri

avatar Ulul Albab
  • URL berhasil dicopy
Nisfu Sya‘ban adalah “alarm lembut” yang mengingatkan kita: “sudah sejauh mana kita sudah berdamai dengan masa lalu, dengan sesama, dan dengan Allah SWT?” Foto/Gemini
Nisfu Sya‘ban adalah “alarm lembut” yang mengingatkan kita: “sudah sejauh mana kita sudah berdamai dengan masa lalu, dengan sesama, dan dengan Allah SWT?” Foto/Gemini

Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur

JANGAN lupa, saat ini kita sedang berada di bulan Sya’ban. Senin malam 2 Februari 2026 adalah “Malam Nisfu Sya’ban”. 

Kenapa perlu diingatkan? Karena di antara hiruk-pikuk kalender keagamaan umat Islam, bulan Sya‘ban sering kali dilupakan. 

Berada di antara Rajab yang sakral dan Ramadhan yang megah, Sya‘ban seolah hanyalah ruang tunggu tanpa makna. Padahal bulan Sya’ban memiliki keistimewaan yang sayang jika dilewatkan.

Rasulullah SAW menyebut Sya‘ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda bahwa Sya‘ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah, dan beliau senang jika amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa. Pesan ini bisa dimaknai bahwa: Sya‘ban adalah bulan evaluasi, bukan berdamai dengan diri sendiri.

Secara historis dan spiritual, Sya‘ban bukan bulan biasa. Para sejarawan Islam mencatat bahwa peristiwa besar yang terjadi di bulan ini yang layak dikenang adalah perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah. 

Peristiwa tersebut bukan sekadar perubahan arah fisik dalam shalat, tetapi juga peneguhan identitas dan kemandirian umat Islam. Maka Sya‘ban kemudian dimaknai sebagai bulan transisi, dari fase lama menuju fase baru.

Di bulan Sya‘ban, ada yang Istimewa, yaitu: Nisfu Sya‘ban. Malam pertengahan bulan ini kerap dimanfaatkan sebagian umat dengan doa, baca yasin, dzikir, dan shalat sunnah. 

Namun ada juga sebagian lainnya bersikap lebih hati-hati, bahkan cenderung menolak amalan-amalan khusus di malam “Nisfu Sya’ban” atas nama kehati-hatian terhadap bid‘ah. Perbedaan ini bukan hal baru dalam khazanah Islam. Kita pun wajib menghormatinya.

Sejumlah hadis menyebutkan bahwa pada malam Nisfu Sya‘ban, Allah melimpahkan ampunan kepada hamba-hamba-Nya, kecuali mereka yang masih terjerat syirik dan permusuhan. Para ulama hadis memang berbeda pendapat mengenai kekuatan sanad hadis-hadis tersebut. 

Namun banyak ulama besar seperti Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan Imam as-Suyuthi berkesimpulan bahwa secara keseluruhan, hadis-hadis itu saling menguatkan sehingga maknanya dapat diterima secara umum.

Yang menarik, pesan utama hadis Nisfu Sya‘ban bukanlah ritual, tetapi penyucian dan penguatan kondisi batin. Ampunan Allah terhalang bukan karena kurangnya bacaan atau jumlah rakaat sholat, tetapi karena penyakit hati: terutama kesyirikan dan permusuhan. 

Ini adalah pesan moral yang sangat relevan bagi masyarakat modern yang hidup di tengah polarisasi sosial, konflik identitas, dan kegaduhan publik.

Nisfu Sya‘ban, dengan demikian, lebih tepat dimaknai sebagai malam rekonsiliasi, bukan hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama dan dengan diri sendiri. 

Nisfu Sya’ban seolah mengajak manusia untuk istirahat sejenak, merenung, menurunkan ego, dan membersihkan hati sebelum memasuki Ramadhan. Tanpa proses ini, Ramadhan berisiko hanya menjadi rutinitas tahunan yang kering dari transformasi.

Rasulullah SAW sendiri mencontohkan amalan yang sangat membumi di bulan Sya‘ban: dengan memperbanyak puasa sunnah. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Nabi berpuasa di bulan Sya‘ban lebih banyak dibanding bulan lainnya selain Ramadhan. 

Tidak ada keterangan bahwa beliau mengkhususkan satu malam tertentu dengan ritual yang rumit. Yang beliau lakukan adalah konsistensi ibadah dan kejernihan niat.

Dalam konteks masyarakat hari ini, pesan Sya‘ban dan Nisfu Sya‘ban terasa semakin relevan. Bahwa, saat ini kita hidup di zaman yang ramai secara digital, tetapi sering hanpa secara spiritual. 

Mudah tersulut amarah, sulit memaafkan, dan gemar menghakimi. Padahal, hadis Nisfu Sya‘ban justru menempatkan perdamaian sosial sebagai syarat turunnya ampunan Ilahi.

Sya‘ban mengajari kita bahwa menuju Ramadhan bukan soal kalender, tetapi soal kesiapan hati. Jika Ramadhan adalah bulan perubahan, maka Sya‘ban adalah ruang persiapan. 

Dan Nisfu Sya‘ban adalah “alarm lembut” yang mengingatkan kita: “sudah sejauh mana kita sudah berdamai dengan masa lalu, dengan sesama, dan dengan Allah SWT?”

 

Editor :