Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur
MENJADI wali kota New York ternyata tidak cukup hanya berpidato indah di hari pelantikan. Hari kedua justru lebih menentukan. Di situlah Zohran Mamdani diuji: apakah ia sekadar simbol, atau benar-benar pemimpin dengan nyali.
Pada 2 Januari 2026, Mamdani langsung meneken keputusan yang membuat banyak orang terkejut. Ia mencabut sejumlah perintah eksekutif wali kota sebelumnya yang secara tegas mengikat pemerintah kota New York pada kebijakan pro Israel tertentu. Termasuk di dalamnya aturan yang melarang boikot dan definisi antisemitisme yang dianggap terlalu luas.
Keputusan ini langsung menuai reaksi. Keras. Bahkan sangat keras. Ada yang menuduhnya anti-Yahudi. Ada yang menyebutnya berbahaya. Ada pula yang menyatakan Mamdani “terlalu ideologis” untuk kota sebesar New York.
Padahal Mamdani tidak sedang berbicara soal agama. Ia berbicara soal kebebasan sipil dan ruang demokrasi. Ia ingin pemerintah kota tidak menjadi alat satu kepentingan geopolitik tertentu. Kritik boleh. Perbedaan pendapat sah. Negara tidak boleh membungkam suara warganya.
Di sinilah menariknya.
Mamdani adalah Muslim. Tapi keputusannya bukan keputusan “Islamis”. Ia justru sedang menguji satu hal penting: apakah demokrasi Amerika benar-benar siap menerima pemimpin yang berpikir berbeda, tetapi tetap konstitusional.
Bagi kita di Indonesia, khususnya para cendekia Muslim, ini pelajaran mahal. Kepemimpinan bukan soal identitas, tapi keberanian mengambil risiko demi prinsip. Risiko disalahpahami. Risiko diserang. Risiko kehilangan simpati.
Kita semua patut mencermati ini sebagai inspirasi. Islam yang hadir di ruang publik bukan Islam yang berteriak, tetapi Islam yang tenang, rasional, dan adil. Islam yang membela kemanusiaan tanpa harus memusuhi siapa pun.
Mamdani baru memulai. Jalannya akan terjal. Tapi justru di situlah maknanya. Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang hanya memilih aman.
Dan mungkin, dari New York, dunia sedang belajar: Islam bisa memimpin tanpa menakutkan.
Editor : Alim Perdana