Gelombang protes yang merebak di berbagai kota beberapa hari terakhir menunjukkan satu hal: suara rakyat masih nyaring, dan tak ada kekuasaan yang bisa menutupinya.
Para wakil rakyat kerap lupa, bahwa kursi yang mereka duduki hanyalah mandat. Ketika mandat itu dijalankan dengan semena-mena, rakyat berhak mengingatkan. Sayangnya, perilaku sebagian pejabat justru menunjukkan arogansi: alokasi anggaran yang ugal-ugalan, kompromi antara pejabat dan penjahat, serta tontonan vulgar korupsi yang kian merajalela. Seolah mereka ingin menegaskan, “Kami pemegang kuasa, rakyat bukan siapa-siapa.”
Ironi itu semakin terasa saat kenaikan tunjangan anggota dewan diputuskan di tengah beban ekonomi rakyat. Sementara masyarakat dipaksa bekerja keras menanggung pajak dan harga kebutuhan yang terus melambung, para wakil rakyat justru menari riang merayakan keputusan yang mencederai hati nurani publik.
Bagi rakyat, itu bukan pesta, melainkan penghinaan. Sebuah tarian perang yang membangkitkan kembali suara-suara yang selama ini diabaikan.
Tragedi pun menambah bara. Seorang pengemudi ojek online tewas terlindas mobil aparat saat demonstrasi. Nyawa melayang di tengah jeritan aspirasi yang selama ini dibiarkan menggantung. Pesan yang terbaca jelas: negara seakan ingin menegaskan bahwa rakyat tak berdaya di hadapan kekuasaan.
Namun rakyat membuktikan sebaliknya. Jumat, 29 Agustus 2025, gelombang protes meletus serentak di Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar, hingga berbagai kota lainnya. Rakyat datang bukan lagi dengan sekadar aspirasi, melainkan dengan amarah yang menumpuk bertahun-tahun.
Hingga hari ini, demonstrasi masih bergulir. Tidak ada yang tahu kapan akan mereda. Tetapi satu hal pasti: demokrasi belum mati. Demokrasi sedang mencari jalannya sendiri, lewat suara rakyat yang kembali menggema di jalanan.
Kini pertanyaan mendasar muncul: apakah para pejabat mau membuka mata, telinga, dan hati mereka? Ataukah mereka akan terus melawan arus sejarah dengan mengabaikan rakyat?
Suara rakyat masih nyaring—dan sejarah berulang kali membuktikan, kekuasaan yang melawan rakyat tak pernah bertahan lama.
Salam Demokrasi. Hidup Rakyat!
Surabaya, 30 Agustus 2025
Penulis : Lukman
Editor : Amal Jaelani