Oleh Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur
ADA yang beda pekan ini. Biasanya kalau orang marah ke DPR, ekspresinya ya standar: demo. Jalanan macet, spanduk warna-warni, orasi pakai toa. Tapi kali ini beda.
Yang bikin rame justru seorang perempuan muda yang tinggal jauh di Denmark: Salsa Erwina Hutagalung. Alumni UGM, juara debat internasional, influencer yang aktif bikin konten edukatif. Bukan anggota partai, bukan pejabat, apalagi anggota DPR.
Hanya rakyat biasa tapi punya peran dan kedudukan di Perusahaan internasional yang luar biasa. Tapi justru dari situ letupan muncul.
Salsa menantang salah satu wakil rakyat, Ahmad Sahroni, untuk debat terbuka. Isunya: tunjangan DPR. Sebelumnya Sahroni sempat menyebut seruan bubarkan DPR sebagai “tolol sedunia.” Salsa tak terima. Ia jawab dengan tantangan yang elegan: ayo kita debat, dengan juri profesional.
Keren? Jelas. Berani? Lebih dari itu.
DPR dan Rakyat yang Geram
Harus diakui, DPR sedang dalam titik rendah kepercayaan publik. Isu tunjangan Rp50 juta untuk rumah dinas bikin amarah rakyat meledak. Mahasiswa, buruh, ojek online, semua turun ke jalan. Data survei juga tidak menolong. Kepercayaan ke DPR hampir mentok di dasar.
Kalau dulu orang hanya bisa marah lewat demo, sekarang ada cara lain: panggil wakil rakyat masuk arena debat. Suruh mereka adu argumen, bukan adu janji.
Fenomena Salsa ini seperti kisah klasik: rakyat kecil melawan mesin besar kekuasaan. Bedanya, senjatanya bukan batu, melainkan logika dan keberanian.
Sahroni sendiri memilih mundur teratur. Katanya masih “bego” dan harus “bertapa” dulu biar pinter. Publik tentu membaca itu bukan sebagai kerendahan hati, tapi sebagai alasan untuk menghindar.
Inilah jurang yang makin jelas: rakyat menuntut wakilnya kompeten. DPR ingin aman dengan fasilitas.
Dari Demo Fisik ke Debat Publik
Yang menarik, Salsa tak mengajak demo. Ia mengajak debat. Dari jalanan ke layar. Dari spanduk ke argumentasi. Dari teriak-teriak ke logika.
Ini tren baru. Generasi muda sudah lelah dengan keributan fisik. Mereka ingin cara lebih berkelas: kritik berbasis data, adu pikiran terbuka, adu gagasan.
“Demonstrasi intelektual,” begitu istilah kerennya.
Kalau pola ini berlanjut, bisa jadi politik kita akan naik kelas. Bukan lagi soal siapa paling populer, tapi siapa paling kuat argumennya.
Apa Pesannya?
Pertama, rakyat tidak bodoh. Jangan lagi meremehkan suara publik dengan kata-kata kasar. Sekali salah bicara, rakyat sekarang bisa balas dengan debat terbuka di ruang publik digital.
Kedua, diaspora bisa jadi cermin moral. Dari Denmark, Salsa bisa bikin DPR panas dingin. Artinya suara rakyat bisa datang dari mana saja, tidak kenal batas negara.
Ketiga, generasi muda harus percaya diri. Aspirasi tidak harus lewat ribut-ribut. Bisa lewat riset, lewat podcast, lewat ruang diskusi. Lebih berkelas, lebih elegan.
Penutup
Fenomena Salsa ini tanda zaman berubah. Demokrasi kita memang sedang krisis kepercayaan, tapi bukan berarti rakyat diam. Mereka cari cara baru.
Pesan untuk DPR jelas: jangan alergi kritik, jangan lari dari debat. Demokrasi hanya tumbuh kalau wakil rakyat berani diuji di depan publik.
Dan pesan Salsa sederhana: jangan takut bersuara. Satu suara kritis bisa lebih keras dari ribuan toa di jalanan.
Editor : Alim Perdana