ALHAMDULILLAH, kita telah memasuki hari ke-25 Ramadhan. Dalam catatan saya, sudah ada 27 seri kajian ringan tentang Ramadhan yang saya sampaikan, untuk maksud mengedukasi dan menginspirasi siapa saja yang berkenan membacanya.
Namun, ada satu topik penting yang sering menjadi perdebatan, terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan, yaitu: Benarkah malam Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke-27?
Banyak di antara umat muslim dunia yang meyakini bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27 Ramadhan, terutama di Mekkah dan Madinah, di mana tradisi ini begitu kental. Karena itu, pada malam tersebut, masjid-masjid dipenuhi oleh jamaah yang beribadah dengan harapan meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan tersebut.
Tetapi, bagaimana pandangan hadis tentang hal ini? Apakah benar malam ke-27 adalah malam yang dimaksudkan?
Apa Itu Lailatul Qadar?
Sebelum kita membahas lebih lanjut, mari kita ingat kembali apa itu Lailatul Qadar. Dalam Surah Al-Qadr (97), Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 1-3)
Malam ini adalah malam diturunnya Al-Qur'an dari “lauchmahfud” ke langit dunia. Sebagian umat meyakini sebagai malam diwahyukannya Al-Quran pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW. Wallohu a’lam, saya tidak punya ilmu untuk menentukan pendapat mana yang benar. Yang jelas dengan diturunkannya al-quran pada malam tersebut maka malam tersebut menjadi sangat istimewa.
Ibadah pada malam ini memiliki keutamaan yang luar biasa, lebih baik dari seribu bulan, yang artinya keberkahan malam ini jauh melebihi banyaknya malam dalam setahun. Oleh karena itu, umat Islam berusaha memaksimalkan ibadah mereka untuk meraih keutamaan tersebut.
Keyakinan Bahwa Lailatul Qadar Jatuh pada Malam ke-27
Di banyak tempat, khususnya di Mekkah dan Madinah, malam ke-27 Ramadhan sering diyakini sebagai Lailatul Qadar. Jamaah memadati masjid untuk shalat tarawih dan berdoa, berharap malam itu adalah malam yang penuh berkah. Tradisi ini sangat kuat, terutama di kedua kota suci tersebut.
Namun, apakah benar Lailatul Qadar hanya terjadi pada malam ke-27?. Apa Kata Hadis tentang Lailatul Qadar?. Terkait dengan malam Lailatul Qadar, Rasulullah SAW bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengindikasikan bahwa Lailatul Qadar bisa terjadi pada salah satu malam di sepuluh malam terakhir Ramadhan, tetapi tidak ada penegasan bahwa malam itu pasti jatuh pada malam ke-27. Bahkan dalam beberapa hadis lainnya, Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa Lailatul Qadar mungkin terjadi pada malam-malam ganjil, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.
Hadis yang Mengaitkan Malam ke-27 dengan Lailatul Qadar
Meskipun banyak hadis yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar dapat terjadi pada malam ganjil, terdapat juga beberapa riwayat yang mengaitkan malam ke-27 dengan Lailatul Qadar.
Salah satunya adalah riwayat dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan yang mengatakan: "Lailatul Qadar pada malam kedua puluh tujuh." (HR. Abu Dawud)
Namun, hadis ini masih diperdebatkan oleh ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa hadis ini bersifat mauquf (perkataan sahabat) dan tidak dapat dianggap sebagai hadits yang bersumber langsung dari Nabi SAW. Ini berarti bahwa meskipun Mu'awiyah bin Abu Sufyan berpendapat demikian, tidak ada kepastian bahwa Nabi Muhammad SAW menyebut malam ke-27 sebagai malam Lailatul Qadar.
Pendapat Ulama dan Tradisi di Mekkah dan Madinah
Di sisi lain, keyakinan bahwa malam ke-27 adalah Lailatul Qadar memiliki dasar yang cukup kuat dalam tradisi masyarakat, khususnya di Mekkah dan Madinah. Ubay bin Ka'ab, seorang sahabat yang dikenal dengan kecerdasannya, bahkan menyatakan: "Demi Allah aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintahkan oleh Rasulullah untuk menghidupkannya, yaitu malam kedua puluh tujuh." (HR. Muslim)
Pernyataan ini sering menjadi dasar bagi banyak orang untuk mempercayai bahwa malam ke-27 adalah malam Lailatul Qadar. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa ini bukanlah penetapan dari Nabi Muhammad SAW, melainkan persepsi sahabat yang merasakan keberkahan khusus pada malam tersebut.
Apa yang Harus Kita Lakukan di Malam Lailatul Qadar?
Meskipun kita tidak bisa memastikan malam ke-27 adalah Lailatul Qadar, kita tetap diajarkan untuk memperbanyak ibadah di malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk memperbanyak membaca: "Allohumma Innaka ‘Afuwun Karimun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Anni” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, lagi Maha Mulia, maka ampunilah aku." (HR. Tirmidzi)
Menjaga keikhlasan dalam beribadah, memperbanyak shalat tahajud, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan berdoa adalah amalan yang sangat dianjurkan. Keberkahan Lailatul Qadar tidak hanya bergantung pada malam tertentu, tetapi juga pada kualitas ibadah yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan.
Penutup
Walaupun ada keyakinan yang kuat di kalangan umat tentang malam ke-27 sebagai Lailatul Qadar, tidak ada penetapan pasti dalam hadis yang mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam yang dimaksud.
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk mencari malam yang penuh berkah ini pada sepuluh malam terakhir dengan memperbanyak ibadah dan doa.
Jadi, mari kita perbanyak ibadah di seluruh sepuluh malam terakhir Ramadhan. Jangan hanya fokus pada malam ke-27, tetapi juga jangan berlaku biasa-biasa sja di malam 27. Juga di sisa malam Ramadhan yang tinggal beberapa hari ini.
Penting untuk diingat bahwa kita harus memaksakan diri untuk memaksimalkan sisa malam-malam di sepuluh hari terakhir ini, setiap malam, termasuk malam genapnya, dengan amal ibadah yang tulus, sehingga apapun malamnya, kita bisa meraih keberkahan yang luar biasa dari Allah SWT. Amin.
Oleh : Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur, Ketua Litbang DPP Asosiasi Muslim
Penyelenggara Haji dan Umroh Republik Indonesia (AMPHURI),
Pembina Yayasan Masjid Subulussalam Sidoarjo.
Editor : Alim Perdana