Kontroversi Pemecatan Dekan FK Unair, Prof Bus dan Prof Nasih Akhirnya Berpelukan

Lewat akun Intagram pribadinya, @khofifah.ip membagikan foto kemesraan Prof Bus dan Prof Nasih.
Lewat akun Intagram pribadinya, @khofifah.ip membagikan foto kemesraan Prof Bus dan Prof Nasih.

SURABAYA - Kabar pemecatan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Prof Budi Santoso menimbulkan kontroversi dan memicu reaksi besar-besaran.

Bahkan beberapa hari lalu para fokter, dosen, tenaga pendidikan, hingga para Guru Besar bergabung bersama mahasiswa sempat melakukan aksi solidaritas. Pendukung Prof Budi ini menuntut agar jabatan dekan dikembalikan kepadanya.

Mereka juga mengancam mogok mengajar jika tuntutan ini tidak dipenuhi. Pencopotan Dekan FK Unair tersebut dinilai sebagai tindakan sepihak yang merampas kebebasan berpendapat dan menghormati pengabdian Prof. Budi selama ini.

Namun kabar bahagia baru saja diumumkan oleh Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Airlangga Khofifah Indar Parawansa.

Lewat akun Intagram pribadinya, @khofifah.ip membagikan foto kemesraan Prof Bus dan Prof Nasih.

"Alhamdulillah Prof. Nasih dan Prof Bus sudah berangkulan. Terimakasih ya Allah. Engkau memberikan siraman kedamaian dan ketentraman bagi kami semua terutama keluarga besar Universitas Airlangga," tulis Khofifah, Senin (09/7).

Perlu diketahui, kasus ini mulai mencuat ketika Prof. Budi menyampaikan pamitan di WhatsApp Group (WAG) Dosen FK Unair pada Rabu (3/7), yang beranggotakan sekitar 300 orang. Dalam pesannya, ia mengungkapkan keputusan rektorat yang memberhentikannya.

"Per hari ini saya diberhentikan sebagai Dekan FK Unair. Saya menerima dengan lapang dada dan ikhlas. Mohon maaf jika selama memimpin ada kesalahan. Mari kita terus perjuangkan FK Unair tercinta," tulisnya.

Banyak yang menduga, pemecatan Prof Bus diduga akibat penolakannya terhadap rencana Menteri Kesehatan yang bakal mendatangkan dokter naturalisasi untuk membantu dunia kesehatan Indonesia. Alasannya, dokter di Indonesia masih cukup berkualitas.

Penolakan tersebut disampaikan secara tegas oleh Profesor Budi Santoso, pada Rabu sore seusai melantik dokter spesialis dan sub spesialis di FK UNAIR.

Ia dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia masih mampu memproduksi dokter yang berkualitas. Selain itu, pihaknya meyakini para dokter Indonesia tidak rela jika dokter asing didatangkan.

Pasalnya, 92 fakultas kedokteran lain di Indonesia masih mampu memproduksi dokter yang berkualitas. Terlebih, rumah sakit yang berada di kota besar memiliki jumlah dokter spesialis yang sangat banyak.

Budi Santoso juga menyebut bahwa FK UNAIR dan fakultas kesehatan kedokteran lain siap untuk menjadi tuan rumah dalam menyiapkan dokter spesialis di Indonesia.

Profesor Budi Santoso, Dekan Fakultas Kedokteran UNAIR, menambahkan bahwa Fakultas Kedokteran UNAIR akan terus memperjuangkan penolakan agar Kementerian Kesehatan tidak mendatangkan dokter asing.

Namun setelah menolak rencana dokter naturalisasi Profesor Budi Santoso diberhentikan dari jabatannya.

Sementara itu Ketua Pusat Komunikasi dan Informasi Publik (PKIP) Unair, Martha Kurnia Kusumawardani, mengonfirmasi berita yang beredar di media sosial mengenai pemberhentian ini.

"Alasan pemberhentian ini adalah bagian dari kebijakan internal untuk meningkatkan tata kelola dan memperkuat kelembagaan di lingkungan FK Unair," ujarnya.

Editor : Alim Perdana