TANGERANG – Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) DPD Jawa Timur memanfaatkan pameran internasional KRISTAInterFOOD 2026 untuk memperluas jejaring bisnis sekaligus membuka akses kemitraan bagi pelaku usaha food and beverage (F&B).
Melalui ajang yang berlangsung di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, pada 4-7 November 2026 tersebut, Apkrindo Jatim mempertemukan para pengusaha kuliner dengan berbagai pemasok, vendor, penyedia teknologi, hingga pelaku industri pendukung restoran dan kafe.
Kehadiran Apkrindo Jatim dalam pameran yang diselenggarakan Krista Exhibitions Group ini bukan sekadar untuk berpartisipasi. Organisasi tersebut mengambil peran sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan pelaku usaha F&B dengan berbagai peluang bisnis dan inovasi industri kuliner.
Ketua Delegasi Indonesia Barat Apkrindo DPD Jawa Timur, Hamzah Umar, mengatakan KRISTAInterFOOD menjadi momentum strategis bagi anggota untuk mendapatkan informasi perkembangan industri, menemukan calon mitra usaha, serta menjajaki kerja sama dengan supplier.
"Apkrindo ada di sini untuk saling men-support. KRISTAInterFOOD merupakan acara bertaraf internasional yang mampu mendatangkan hampir 100.000 pengunjung selama empat hari, dengan ribuan exhibitor dari dalam dan luar negeri," ujarnya saat ditemui di booth Apkrindo Jawa Timur, Jumat (6/11/2026).
Menurut Hamzah, besarnya skala KRISTAInterFOOD menunjukkan bahwa industri makanan dan minuman Indonesia memiliki daya tarik di pasar internasional.
Hal itu terlihat dari kehadiran pengunjung dan pelaku bisnis dari berbagai negara, di antaranya Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, hingga China.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pengusaha F&B Indonesia untuk memperluas koneksi bisnis, sekaligus mengenal perkembangan produk, teknologi, dan kebutuhan industri kuliner yang semakin dinamis.
Terlebih, Apkrindo DPD Jawa Timur memiliki lebih dari 500 anggota dengan sekitar 1.500 brand dalam ekosistemnya. Potensi tersebut menjadi modal besar untuk membangun jaringan bisnis yang lebih luas, termasuk mempertemukan anggota dengan exhibitor yang menawarkan produk dan layanan penunjang operasional restoran maupun kafe.
"Rata-rata brand owner dan pengusaha tidak ingin melewatkan kesempatan seperti ini. Mereka bisa bertemu calon supplier, bertukar pikiran, sekaligus melihat perkembangan teknologi food service. Ini kesempatan yang mungkin hanya datang setahun sekali untuk pameran sebesar KRISTAInterFOOD," jelasnya.
Akses Supplier, Teknologi, hingga Solusi Operasional Bisnis
Bagi anggota Apkrindo, keikutsertaan dalam KRISTAInterFOOD 2026 tidak sekadar menjadi kesempatan melihat dan mengenal produk baru. Pameran ini juga menjadi ruang untuk mencari solusi atas berbagai kebutuhan operasional usaha, membandingkan penawaran vendor, hingga menjajaki kemitraan yang berpotensi meningkatkan efisiensi bisnis.
Sejumlah anggota Apkrindo Jatim turut mengambil bagian dalam pameran, baik sebagai exhibitor maupun pengunjung yang mencari peluang kerja sama.
Di antaranya PT Pangan Lestari (Finna) serta sejumlah anggota lain yang menghadirkan produk dan layanan pendukung industri F&B. Selain itu, terdapat pelaku usaha teknologi robot pelayanan untuk hotel dan restoran, sistem point of sales (POS), serta berbagai solusi digital untuk mendukung operasional bisnis kuliner.
Menurut Hamzah, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem industri F&B tidak hanya bertumpu pada makanan dan minuman. Ada banyak sektor pendukung yang memiliki peran penting, mulai dari teknologi pelayanan, perlengkapan usaha, sistem pembayaran, hingga kebutuhan operasional sehari-hari.
"Anggota kami datang bukan hanya untuk melihat-lihat. Mereka juga mencari vendor dan supplier. Jadi, ada hubungan yang saling menguntungkan. Pengusaha restoran mendapatkan akses terhadap kebutuhan bisnisnya, sementara exhibitor berkesempatan memperluas pasar," katanya.
Ia menambahkan, hubungan antarpelaku usaha yang terbangun melalui Apkrindo juga memungkinkan pengusaha berpengalaman berbagi pengetahuan dan jaringan dengan anggota yang baru memulai bisnis.
Dengan begitu, pelaku usaha tidak harus menghadapi sendiri berbagai tantangan operasional, termasuk ketika membutuhkan supplier atau solusi tertentu untuk mengembangkan usahanya.
Apkrindo Jadi Wadah Berbagi Informasi dan Mencari Solusi
Lebih jauh, Hamzah menegaskan bahwa salah satu nilai penting bergabung dengan Apkrindo adalah tersedianya wadah bagi pengusaha kafe dan restoran untuk berkomunikasi, berbagi pengalaman, serta mencari solusi atas berbagai persoalan bisnis.
Tantangan yang dihadapi pelaku usaha F&B cukup beragam. Mulai dari kebutuhan pemasok bahan baku, pengelolaan operasional, perizinan, hingga penyesuaian terhadap regulasi pemerintah.
"Apkrindo ini bisa dikatakan sebagai rumah bagi para pengusaha kafe dan restoran. Kenapa perlu rumah? Karena pengusaha membutuhkan tempat untuk bersosialisasi dan bertukar pikiran. Kalau ada permasalahan atau peraturan pemerintah terbaru, informasi bisa dibahas bersama sehingga teman-teman yang sebelumnya belum tahu akhirnya menjadi tahu," paparnya.
Ia mencontohkan, pengusaha restoran yang baru merintis bisnis sering kali menghadapi kesulitan dalam menemukan supplier untuk memenuhi kebutuhan operasional. Mulai dari peralatan makan, bahan baku sayuran, hingga perlengkapan kebersihan.
Melalui jaringan Apkrindo, berbagai kebutuhan tersebut dapat dikomunikasikan dengan anggota lain yang telah memiliki pengalaman dan jaringan pemasok.
Hal serupa berlaku ketika pengusaha menghadapi persoalan perizinan maupun kebijakan pemerintah daerah. Anggota dapat memperoleh informasi dan pendampingan melalui komunikasi antarpelaku usaha serta pihak yang memiliki kompetensi di bidang terkait.
Tidak hanya memfasilitasi komunikasi antaranggota, Apkrindo Jatim juga aktif menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyosialisasikan berbagai ketentuan yang berkaitan dengan operasional bisnis kuliner.
Salah satunya mengenai penerapan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) di Surabaya. Dalam hal ini, Apkrindo turut membantu pemerintah menyampaikan informasi dan memberikan edukasi kepada pelaku usaha agar memahami persyaratan yang harus dipenuhi.
"Kami juga sering melakukan penyuluhan bersama pemerintah daerah di Jawa Timur. Kegiatan tersebut gratis dan terbuka untuk anggota. Jadi, ketika ada kebijakan atau persyaratan baru, anggota bisa mendapatkan penjelasan dan mengetahui apa saja yang harus dipersiapkan," ungkap Hamzah.
Melalui partisipasi dalam KRISTAInterFOOD 2026, Apkrindo Jatim berharap semakin banyak anggota yang memperoleh akses terhadap peluang kemitraan, teknologi, serta jaringan pemasok untuk memperkuat daya saing bisnis kuliner.
Bagi Apkrindo, penguatan ekosistem F&B tidak hanya dilakukan melalui pertemuan bisnis, tetapi juga dengan membangun kolaborasi dan berbagi pengetahuan agar para pengusaha kafe dan restoran dapat berkembang bersama.
Editor : Amal Jaelani