ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Kisah dan Rihlah Mahasiswa Al-Azhar Indonesia di Pesisir Alexandria Kairo, Mesir

avatar ayojatim.com
  • URL berhasil dicopy
Ikatan Keluarga Besar Al-Amien (IKBAL) Kairo. Foto: Dok-Himmy Kanza Tsabita
Ikatan Keluarga Besar Al-Amien (IKBAL) Kairo. Foto: Dok-Himmy Kanza Tsabita

OPINI - Ada satu hal yang sering kita lupakan saat merantau untuk menuntut ilmu. Bahwa perjalanan itu bukan cuma soal buku, kelas, dan ujian. Kadang, justru yang paling membekas adalah momen-momen sunyi yang diam-diam mengisi ulang jiwa.

Itulah yang terasa dari kisah rihlah ruhaniyah yang dijalani para mahasiswa Indonesia di Al-Azhar University, Kairo, Mesir, pada 19 Syawal 1447 Hijriah atau bertepatan 7 April 2026. Bukan sekadar jalan-jalan atau “healing” ala anak muda, tapi lebih seperti pulang, pulang ke dalam diri sendiri.

Selasa pagi itu, rombongan IKBAL (Ikatan Keluarga Besar Al-Amien) yang berada di Kairo, yang akrab menyebut diri mereka “Elfasco” mulai berangkat dengan satu niat sederhana: yaitu rehat sejenak dari rutinitas, sambil mendekat lagi pada Allah. Kedengarannya sederhana, tapi di tengah padatnya hidup mahasiswa, ini justru jadi barang langka.

Sesampainya di Alexandria, suasana langsung berubah. Kota pesisir itu seperti punya cara sendiri untuk menenangkan. Angin laut, langit yang luas, dan ritme kota yang lebih pelan. Semuanya seperti mengajak untuk berhenti sebentar, menarik napas lebih dalam.

Tapi yang paling membekas justru datang saat senja.

Waktu Maghrib, mereka berkumpul dalam sebuah majelis ilmu bersama seorang ulama kharismatik, Syech Ala Muhammad Mustafa Na’imah. Di situ, suasana berubah jadi hening, tapi hangat. Bukan hening yang kosong, melainkan hening yang penuh makna.

Dars demi dars disampaikan, lalu disambung dengan lantunan Qasidah Burdah dan hadrah. Dzikir dan shalawat menggema, pelan tapi dalam. Momen seperti ini sulit dijelaskan dengan kata-kata, karena yang bergerak bukan cuma pikiran, tapi juga hati.

Di titik ini, saya jadi berpikir, bahwa mungkin memang benar, perjalanan fisik itu bisa berubah jadi perjalanan batin, asal diisi dengan hal yang tepat. Ilmu, dzikir, dan kebersamaan.

Dan bagi kami, rihlah ini jelas bukan sekadar kenangan manis untuk diceritakan ulang. Ini seperti “bekal sunyi” yang akan kami bawa pulang. Bekal yang mungkin tidak terlihat, tapi akan terasa saat langkah mulai goyah di kemudian hari.

Karena pada akhirnya, menuntut ilmu di negeri seperti Mesir bukan cuma soal seberapa banyak yang kita pelajari. Tapi juga, seberapa dalam kita mengenal diri sendiri di tengah perjalanan itu.

 

Penulis : 
Himmy Kanza Tsabita. 
Seorang kontributor media, dan merupakan alumni Ma’had Tahfidz Al-Qur’an Putra-Putri Al-Amien Prenduan Sumenep serta lulusan Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah Prenduan. Dan, saat ini sedang menempuh pendidikan sebagai Mahasiswi di Al Azhar Kairo, Mesir.

Editor :