ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Momentum Syawal dan Idul Fitri, Menjaga Makna Silaturahmi di Tengah Tradisi Halal Bihalal

avatar ayojatim.com
  • URL berhasil dicopy
Kegiatan halal bihalal warga Sememi Jaya Selatan di kawasan Benowo, Surabaya, Jumat (3/4/2026). Foto: Ayojatim
Kegiatan halal bihalal warga Sememi Jaya Selatan di kawasan Benowo, Surabaya, Jumat (3/4/2026). Foto: Ayojatim

RELIGI - Halal bihalal kerap dipahami sebagai tradisi tahunan pasca-Idulfitri yang identik dengan saling bersalaman dan bermaafan. Namun di tengah dinamika kehidupan perkotaan yang serba cepat, makna mendalam dari silaturahmi sering kali tereduksi menjadi sekadar formalitas. Momentum yang seharusnya menjadi ruang rekonsiliasi batin justru berisiko kehilangan esensinya jika tidak dihidupkan dengan kesadaran spiritual.

Kegiatan halal bihalal warga Sememi Jaya Selatan di kawasan Benowo, Surabaya, menjadi potret bagaimana tradisi ini masih dirawat dengan nilai yang utuh. Ratusan warga berkumpul bukan hanya untuk bertemu, tetapi juga untuk menghidupkan kembali jalinan sosial yang mungkin sempat renggang. Dalam suasana sederhana namun khidmat, silaturahmi hadir sebagai ruang untuk menyatukan hati, bukan sekadar mempertemukan fisik.

Silaturahmi dalam konteks ini tidak berhenti pada interaksi sosial, melainkan menjadi jalan untuk memperluas makna keberkahan hidup. Hubungan antarindividu yang harmonis menciptakan ekosistem sosial yang sehat, di mana rasa saling percaya dan empati tumbuh secara alami. Dari sinilah muncul ketenangan batin yang berdampak pada produktivitas, kesejahteraan, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

Lebih dari itu, halal bihalal juga menjadi medium refleksi kolektif. Setiap jabat tangan yang terulur menyimpan pesan tentang kerendahan hati dan kesiapan untuk memperbaiki diri. Dalam ruang seperti ini, ego perlahan diluruhkan, digantikan dengan kesadaran bahwa kehidupan sosial tidak dapat dibangun tanpa keikhlasan untuk saling memahami dan memaafkan.

Kehadiran tokoh yang mampu menjembatani nilai-nilai spiritual dengan realitas keseharian memberikan dimensi tambahan dalam kegiatan semacam ini. Penyampaian pesan yang ringan namun mendalam menjadikan silaturahmi tidak hanya terasa hangat, tetapi juga bermakna. Hal ini penting, terutama di tengah masyarakat urban yang membutuhkan pendekatan komunikatif agar nilai-nilai keagamaan tetap relevan dan membumi.

Antusiasme warga yang datang dari berbagai wilayah menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang silaturahmi masih sangat tinggi. Di tengah arus digitalisasi yang kian masif, pertemuan tatap muka tetap memiliki peran penting dalam menjaga kohesi sosial. Halal bihalal menjadi salah satu medium yang efektif untuk menjawab kebutuhan tersebut, sekaligus memperkuat identitas kolektif masyarakat.

Pada akhirnya, esensi halal bihalal bukan terletak pada seremoninya, melainkan pada niat untuk memperbaiki hubungan dan membuka lembaran baru. Ketika silaturahmi dijalankan dengan kesadaran penuh, ia tidak hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi hadirnya keberkahan dalam kehidupan.

Profil Penulis:
Ustadz Nafi’ Unnas, S.Ag., M.Pd., adalah akademisi dan pendakwah yang aktif menyampaikan nilai-nilai keislaman secara kontekstual. Ia merupakan dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya dan dikenal dengan gaya dakwah yang komunikatif serta mudah dipahami. Selain itu, ia juga menjadi pesyiar Baitullah Samira Travel, dengan fokus menguatkan nilai silaturahmi dalam kehidupan sehari-hari.

Editor :