ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Rekor Baru, Alvira Nur Azizah Lolos Farmasi UNAIR Usia 14 Tahun

avatar Ali Masduki
  • URL berhasil dicopy
Alvira Nur Azizah resmi menjadi mahasiswa termuda UNAIR 2026 di usia 14 tahun. Foto/Humas Unair
Alvira Nur Azizah resmi menjadi mahasiswa termuda UNAIR 2026 di usia 14 tahun. Foto/Humas Unair

SURABAYA – Alvira Nur Azizah membuktikan bahwa usia bukan hambatan untuk menembus ketatnya persaingan perguruan tinggi negeri. Di usianya yang baru menyentuh 14 tahun 7 bulan, remaja asal Surabaya ini resmi menyandang status sebagai mahasiswa program studi S1 Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.

Keberhasilan Alvira mengukir nama sebagai salah satu mahasiswa termuda tahun ini bermula dari langkah yang tidak lazim. Berbeda dengan mayoritas pelajar berprestasi lainnya, ia tidak menempuh jalur kelas akselerasi. Alvira mengawali pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) jauh lebih awal dari anak seusianya.

"Dulu ibu saya sempat berencana menyuruh saya mengulang TK karena sadar usia saya terlalu muda untuk masuk Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tapi guru TK melarang karena saya dianggap sudah mampu mengikuti pelajaran," ujar Alvira saat berbagi ceritanya, Senin (6/4/2026).

Keraguan sempat muncul dari pihak sekolah saat ia mendaftar jenjang dasar. Kepala sekolah bahkan sempat memberi syarat bahwa Alvira mungkin harus tinggal kelas saat menginjak kelas 4 atau 5 untuk menyesuaikan umur. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain.

Kecerdasan Alvira justru membawanya melenggang hingga lulus tanpa hambatan, bahkan sempat menjadi wakil sekolah dalam ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) bidang Matematika.

Lulusan SMK jurusan Farmasi Industri ini memilih UNAIR bukan tanpa alasan. Ia ingin memperdalam keilmuan yang telah ia dapatkan di sekolah menengah kejuruan. Baginya, kampus berlambang Garuda Mukti tersebut merupakan institusi terbaik untuk mencetak tenaga kesehatan profesional di bidang obat-obatan.

Mengenai metode belajarnya, anak tunggal ini menerapkan disiplin waktu yang ketat namun sederhana. Alvira memanfaatkan waktu "emas" antara selepas magrib hingga pukul delapan malam untuk membedah materi sekolah.

"Saya rutin mengambil poin-poin inti dari setiap materi untuk dipelajari. Waktu terbaik bagi otak untuk menyerap informasi adalah sesaat sebelum tidur malam dan pagi hari setelah bangun tidur," ungkapnya memberikan tip.

Meski sempat merasa cemas menghadapi transisi dari seragam sekolah ke dunia kampus yang lebih dewasa, Alvira memilih untuk bersikap optimis. Motivasi terbesarnya bersumber dari statusnya sebagai anak semata wayang yang memikul harapan keluarga.

"Saya menanamkan prinsip bahwa saya harus berjuang sampai sukses. Sebagai anak tunggal, sayalah satu-satunya tumpuan harapan yang bisa membanggakan orang tua," kata remaja yang bercita-cita menjadi apoteker andal ini.

Kini, Alvira siap memulai lembaran baru di laboratorium farmasi. Ia berpesan kepada sesama pejuang kasta pendidikan agar tetap konsisten dan tidak gentar mengejar target setinggi apa pun.

"Jangan pernah menyerah mengejar impian. Teruslah belajar dan iringi usaha dengan doa agar setiap langkah mendapat kemudahan," tutupnya.

Editor :

Republik yang Disuapi
Opini   

Republik yang Disuapi

Pertanyaan yang lebih penting: dalam republik yang sedang disuapi ini, siapa yang akhirnya paling kenyang—rakyat, atau kekuasaan?…