OPINI - Ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual, melainkan ujian menyeluruh antara kekuatan iman dan ketahanan fisik. Dan, tulisan ini adalah belajar tentang bagaimana pentingnya kesehatan sebagai syarat istitha’ah dalam ibadah haji 2026.
Pada musim haji 2026, Indonesia kembali memberangkatkan lebih dari 221 ribu jamaah ke Tanah Suci, jumlah terbesar di dunia. Tentu karena perbedaan cuaca, mereka menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan kepadatan jutaan umat. Di tengah besarnya animo tersebut, satu pertanyaan mendasar kembali mengemuka, yaitu, sudahkah kesehatan menjadi prioritas utama dalam menunaikan rukun Islam kelima?
Dalam perspektif fikih, haji diwajibkan bagi umat Islam yang memenuhi syarat istitha’ah atau kemampuan. Namun, pemaknaan istitha’ah kerap direduksi hanya pada kemampuan finansial. Padahal, kesehatan fisik merupakan elemen fundamental yang tak terpisahkan dari kesiapan berhaji.
Kesehatan adalah amanah yang menentukan kualitas ibadah. Tanpa kondisi fisik yang prima, rangkaian ibadah dari miqat hingga tahallul berpotensi tidak berjalan optimal. Haji pada hakikatnya adalah ibadah badaniyah yang menuntut stamina tinggi.
Aktivitas seperti tawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah dilakukan dalam kondisi cuaca panas ekstrem yang dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius. Dalam konteks ini, menjaga kesehatan bukan sekadar anjuran, melainkan kebutuhan mendesak.
Persiapan yang Sering Terabaikan
Fenomena yang kerap terjadi di kalangan calon jamaah haji Indonesia adalah fokus berlebih pada aspek seremonial, mulai dari manasik hingga persiapan logistik, namun minim perhatian pada kesiapan fisik. Padahal, latihan sederhana seperti berjalan kaki rutin, menjaga pola makan, hingga pemeriksaan kesehatan berkala menjadi kunci menghadapi tekanan fisik di Tanah Suci.
Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa mayoritas jamaah haji Indonesia didominasi kelompok usia lanjut. Kondisi ini memperbesar risiko gangguan kesehatan selama pelaksanaan ibadah jika tidak diimbangi dengan persiapan matang.
Manajemen Energi di Tanah Suci
Setibanya di Arab Saudi, tantangan berikutnya adalah kemampuan mengelola energi. Euforia beribadah sering kali mendorong jamaah untuk memaksakan diri melakukan umrah berulang kali sebelum puncak haji. Akibatnya, kondisi fisik menurun justru saat memasuki fase krusial seperti wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan lempar jumrah di Mina.
Dalam kaidah fikih disebutkan, “al-masyaqqatu tajlibut taysir” (kesulitan mendatangkan kemudahan). Namun, prinsip ini tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan kesehatan. Justru, menjaga tubuh tetap bugar adalah bagian dari ikhtiar agar ibadah wajib terlaksana secara sempurna.
Disiplin hidrasi, istirahat cukup, serta pengendalian aktivitas menjadi strategi penting yang harus dipahami jamaah sejak awal.
Pasca-Haji, Ujian yang Sering Terlupakan
Tantangan kesehatan tidak berhenti setelah prosesi haji usai. Banyak jamaah mengalami penurunan kondisi fisik sepulang dari Tanah Suci akibat kelelahan dan perubahan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa haji bukan sekadar ritual temporer, melainkan proses berkelanjutan yang juga menyentuh aspek gaya hidup.
Haji mabrur, dalam makna yang lebih luas, tercermin dari perubahan perilaku, termasuk dalam menjaga kesehatan. Konsistensi pola hidup sehat pasca-haji menjadi indikator bahwa nilai-nilai ibadah benar-benar terinternalisasi.
Dengan jumlah jamaah yang besar setiap tahunnya, termasuk pada musim haji 2026, Indonesia menghadapi tantangan serius dalam memastikan kualitas ibadah warganya. Kesehatan harus ditempatkan sejajar dengan kesiapan finansial sebagai syarat utama istitha’ah.
Haji sejatinya adalah pertemuan antara kekuatan spiritual dan kesiapan jasmani. Mengabaikan salah satunya berarti mengurangi kesempurnaan ibadah itu sendiri. Maka, menjaga kesehatan bukan hanya kebutuhan pribadi, melainkan bagian dari upaya memuliakan panggilan suci ke Tanah Haram.
Ditulis oleh Ustadz Nafi Unnas, ia merupakan pembimbing umrah di Samira Travel Jawa Timur. Merupakan alumni Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo yang saat ini juga aktif sebagai dosen Bahasa Arab di UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA).
Ustadz Nafi Unnas juga dikenal fokus mengedukasi jamaah tentang pentingnya kesiapan fisik dan spiritual dalam ibadah haji dan umrah, dan rutin menggelar pengajian tentang edukasi Umrah bernama Majelis Ma'an Najah di Surabaya.
Editor : Amal Jaelani