TULUNGAGUNG – Ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus memicu kekhawatiran global. Sejumlah analis menilai, eskalasi konflik berpotensi memicu krisis energi, gangguan logistik internasional, hingga tekanan terhadap sistem pangan dunia.
Di tengah ancaman tersebut, ketahanan pangan domestik menjadi isu strategis. Indonesia dituntut memperkuat fondasi produksi dalam negeri agar tidak rentan terhadap gejolak eksternal.
Dari Desa Bendiljati Kulon, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, sosok muda bernama Muhamad Yusuf, atau yang akrab disapa sebagai Yusuf Peternak, menunjukkan bahwa kontribusi nyata dapat dimulai dari desa.
Bangun Produksi Protein Lokal
Yusuf mengembangkan budidaya ikan patin skala besar sebagai bagian dari penguatan pangan berbasis komunitas.
Dalam satu siklus produksi, ia mampu mengelola ratusan ribu ekor ikan patin dengan sistem terintegrasi, mulai dari kontrol kualitas air, efisiensi pakan, hingga distribusi panen terjadwal.
Menurut Yusuf, menjaga konsistensi produksi adalah bentuk tanggung jawab jangka panjang.
“Kami tidak hanya mengejar panen, tetapi memastikan kualitas tetap terjaga. Dalam situasi global yang tidak menentu, produksi pangan lokal harus stabil agar masyarakat tetap tenang,” ujar Yusuf.
Ia menambahkan, budidaya yang dikelolanya dirancang untuk menjaga keberlanjutan.
“Kalau kita bisa mandiri dalam produksi protein, dampak gejolak luar negeri tidak akan terlalu terasa. Desa harus kuat, supaya negara juga kuat,” katanya.
Ikan patin sebagai sumber protein hewani yang terjangkau dinilai mampu membantu menjaga keseimbangan gizi masyarakat, terutama saat harga bahan pokok berpotensi terdampak situasi global.
Sejalan dengan Agenda Ketahanan Gizi
Upaya Yusuf sejalan dengan penekanan pemerintah terhadap pentingnya ketahanan gizi. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa ketahanan pangan dan ketahanan gizi harus berjalan beriringan.
“Produksi protein lokal yang stabil sangat penting untuk menjamin kualitas gizi masyarakat Indonesia ke depan,” kata Dadan.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa sektor perikanan air tawar, termasuk budidaya ikan patin, memiliki peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.
Desa sebagai Pilar Ketahanan Nasional
Dengan omset mencapai ratusan juta rupiah per bulan, usaha budidaya yang dijalankan Yusuf tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
“Harapan saya sederhana, usaha ini bisa terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Ketahanan pangan bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga tanggung jawab kami sebagai pelaku usaha,” tutur Yusuf.
Di tengah ancaman krisis global, langkah yang ditempuh Yusuf menjadi gambaran bahwa ketahanan pangan Indonesia tidak hanya bergantung pada kebijakan nasional, melainkan juga pada konsistensi dan inovasi para pelaku usaha muda di daerah.
Editor : Amal Jaelani