JEMBER - Meski tengah berada di Tanah Suci Makkah, Bupati Jember, Muhammad Fawait tetap memimpin arah kebijakan daerah dengan menghadiri rapat koordinasi Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (MBG), bersama para SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) se-Kabupaten Jember secara daring Senin (2/3/2026).
Kehadiran pria yang akrab disapa Gus Fawait itu dari Makkah menjadi simbol komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Jember dalam memastikan program nasional ini berjalan optimal dan terjaga kualitasnya.
Dalam arahannya, Gus Fawait menekankan bahwa program MBG bukan sekadar agenda penyediaan makanan bagi peserta didik.
"Program MBG ini sebagai fondasi strategis dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045," kata Gus Fawait.
Menurutnya, kekuatan bangsa tidak hanya dibangun melalui infrastruktur fisik, melainkan melalui kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Ia menegaskan, generasi yang sehat, cerdas, dan bergizi baik akan menjadi penopang kemandirian bangsa di masa depan.
"Pembangunan kualitas anak-anak hari ini adalah bagian dari strategi jangka panjang yang menentukan posisi Indonesia dalam percaturan global," tegasnya.
Di sisi lain, Bupati juga melihat MBG sebagai program yang membawa dampak ekonomi luar biasa bagi daerah.
Dengan estimasi sekitar 270 dapur SPPG yang akan beroperasi di Kabupaten Jember, ia memperkirakan potensi pembukaan lapangan kerja dapat mencapai kurang lebih 15 ribu orang.
"Angka tersebut belum termasuk efek berganda yang muncul dari rantai pasok bahan pangan, mulai dari petani, pelaku UMKM, hingga sektor distribusi," terangnya.
Menurutnya, kehadiran dapur-dapur SPPG akan mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal.
Produk petani dibeli dengan harga yang lebih layak, UMKM tumbuh karena permintaan meningkat, dan kebutuhan tenaga kerja bertambah.
"Rantai ekonomi yang bergerak ini pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat dan penurunan angka kemiskinan," tandanya.
Gus Fawait juga memaparkan bahwa estimasi perputaran dana MBG di Kabupaten Jember dapat mencapai kurang lebih Rp4 triliun.
"Angka ini hampir setara dengan APBD Jember tahun 2026 yang berada di kisaran Rp4,3 triliun," ujarnya.
Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif versi Forkom Jurnalis Nahdliyin itu menilai, tambahan perputaran dana tersebut akan menjadi pendorong kuat bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
"Pengeluaran pemerintah, baik dari APBD maupun dukungan program nasional, menjadi motor penting dalam menggerakkan sektor riil," imbuhnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa besarnya manfaat program harus diimbangi dengan tata kelola yang baik.
Ia menyoroti masih adanya SPPG yang belum melengkapi perizinan seperti SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi) dan persyaratan teknis lainnya.
"Saya meminta agar seluruh pengelola dapur segera mengurus kelengkapan tersebut demi menjamin keamanan dan kelayakan layanan," katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya transparansi dan pengawasan.
Ke depan, Pemkab Jember akan memperkuat koordinasi melalui forum rutin bulanan antara Satgas, SPPG, Korwil, Korcam, Camat, serta pihak puskesmas.
Selain itu, sistem pelaporan harian menu akan diberlakukan, baik dari pihak dapur maupun sekolah penerima, sebagai bentuk pengawasan silang.
"CCTV di setiap dapur direncanakan terintegrasi dengan sistem pemantauan pemerintah daerah untuk memastikan standar pelayanan tetap terjaga," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Fawait secara tegas mengingatkan agar tidak ada pengurangan anggaran menu yang telah ditetapkan.
Ia menekankan bahwa alokasi Rp10 ribu untuk siswa SMP maupun Rp8 ribu untuk jenjang lainnya adalah hak penerima manfaat yang tidak boleh dikurangi sedikit pun.
"Integritas menjadi kunci keberlanjutan program. Saya tidak ingin ada dapur yang harus disuspensi karena kelalaian atau pelanggaran," ujarnya.
Sementara itu, Pj Sekda Kabupaten Jember sekaligus Ketua Satgas MBG, Ahmad Helmi Luqman, menyampaikan bahwa hasil evaluasi lapangan menunjukkan masih ada sekitar 50 SPPG yang belum memiliki SLHS.
"Beberapa dapur bahkan harus melakukan perbaikan kualitas air dan infrastruktur agar memenuhi standar kelayakan," terang Helmi.
Ia menegaskan bahwa kontrol kualitas menjadi aspek yang tidak bisa ditawar, termasuk kewajiban penyimpanan sampel makanan sebagai bagian dari pengawasan mutu.
Helmi menambahkan, kewenangan penjatuhan sanksi atau suspensi berada pada Badan Gizi Nasional, sedangkan Satgas di daerah bertugas melakukan pengendalian, pengawasan, dan percepatan perbaikan.
"Saya berharap seluruh SPPG dapat menjaga standar layanan dan terus meningkatkan kualitas demi mendukung cita-cita besar program ini," tegas Helmi.
Di akhir rapat, Bupati Jember menyampaikan apresiasi kepada mayoritas SPPG yang telah bekerja dengan baik dan penuh dedikasi.
Ia berkomitmen memberikan penghargaan kepada SPPG terbaik di akhir tahun sebagai bentuk motivasi dan penguatan semangat berkompetisi dalam kebaikan.
Editor : Diday Rosadi