ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Kreativitas di Balik Teknologi: Kisah Lexi, Mahasiswi Institut STTS yang Direkrut Google

avatar Muhammad Iffan Maulana
  • URL berhasil dicopy
Alexia Valerie Wibowo atau akrab disapa Lexi, terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2025. Foto/Muhammad Iffan Maulana
Alexia Valerie Wibowo atau akrab disapa Lexi, terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2025. Foto/Muhammad Iffan Maulana

SURABAYA - Mahasiswi Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (Institut STTS), Alexia Valerie Wibowo atau akrab disapa Lexi, terpilih sebagai Google Student Ambassador meski tidak berlatar belakang pemrograman. 

Mahasiswi semester 4 ini justru direkrut karena kompetensinya di bidang desain, konten kreatif, dan pemasaran digital.

Lexi mengungkapkan, awal keterlibatannya bermula dari rekomendasi dosen yang melihat minat dan pengalamannya dalam mengelola konten kampus. Selain sebagai mahasiswa DKV, Lexi juga aktif sebagai asisten digital marketing di Institut STTS. 

“Saya dihubungi bukan karena coding, tapi karena fokus saya di desain dan konten. Kebetulan tugas-tugas di program ini juga banyak berkaitan dengan pembuatan konten,” ujar Lexi saat diwawancarai, Sabtu (21/02/2025).

Program Google Student Ambassador merupakan wadah bagi mahasiswa terpilih untuk menjadi perpanjangan tangan Google di lingkungan kampus. 

Para ambassador bertugas mengedukasi mahasiswa mengenai produk, teknologi, dan inovasi Google, khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).

Setelah melalui proses pendaftaran dan seleksi daring, Lexi mendapat kesempatan mengikuti pertemuan perdana secara langsung dalam acara inaugurasi di kantor Google Jakarta. Seluruh biaya perjalanan dan akomodasi ditanggung penuh oleh Google, termasuk uang saku selama kegiatan berlangsung. 

“Di sana kami bertemu banyak ambassador lain, ada sesi pelatihan, diskusi, dan pembicara dari berbagai latar belakang,” katanya.

Dalam kesehariannya sebagai ambassador, Lexi memiliki tanggung jawab membuat konten mingguan bertema AI. Topik konten biasanya disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa generasi Z dan kehidupan nyata. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan Gemini untuk mengatur jadwal kegiatan secara efisien. 

“Saya mahasiswa, asisten pengajar piano dan biola, juga punya kegiatan Google. AI saya gunakan untuk bantu manajemen waktu,” ujar Lexi.

Sebagai mahasiswa DKV, Lexi juga mengangkat pemanfaatan AI visual seperti fitur Nano Banana dalam dunia desain. 

Di Institut STTS, ia menempuh mata kuliah AI for Design yang mengajarkan penggunaan AI sebagai asisten kreatif. 

“Misalnya menghapus objek yang mengganggu di foto. Dengan Nano Banana, cukup blok area tertentu dan beri prompt. Lebih efisien dibandingkan edit manual di Photoshop,” jelasnya.

Lexi menekankan, penggunaan AI tetap memerlukan keterampilan manusia, terutama dalam penyusunan prompting yang tepat. 

Menurut dia, AI bukan pengganti kreativitas manusia, melainkan alat bantu. “Ide dan kreativitas tetap dari kita. AI hanya membantu memperluas kemungkinan,” katanya.

Terpilih sebagai Google Student Ambassador menjadi pengalaman membanggakan sekaligus menantang bagi Lexi. Selain membawa nama Institut STTS, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk terus belajar agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi. 

“Ada rasa bangga, tapi juga harus terus menggali ilmu,” ujarnya.

Menariknya, peran ini juga menjadi pengalaman pertama Lexi tampil sebagai pembicara di depan publik. Ia mengaku sempat merasa gugup, terutama saat harus berbicara di hadapan audiens yang sebagian besar berlatar belakang teknologi. 

“Takut salah bicara, tapi itu jadi motivasi untuk belajar lebih dalam dan eksplor lebih luas,” tutur Lexi.

Melalui perannya sebagai Google Student Ambassador, Lexi berharap dapat menjadi jembatan antara teknologi AI dan mahasiswa, khususnya dari bidang non-teknologi, agar dapat memanfaatkan inovasi digital secara relevan dan bertanggung jawab.

Editor :