ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Hebat! Mahasiswa Semester Awal ISTS Lolos Program Google Student Ambassador

avatar Muhammad Iffan Maulana
  • URL berhasil dicopy
Innani Fiddinillah, terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2025. Foto/Muhammad Iffan Maulana
Innani Fiddinillah, terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2025. Foto/Muhammad Iffan Maulana

SURABAYA - Mahasiswa semester awal kian menunjukkan peran aktifnya dalam ekosistem digital. Innani Fiddinillah (Diny), mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis Digital Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (Institut STTS), tercatat sebagai salah satu peserta yang lolos dalam program Google Student Ambassador (GSA) batch pertama tingkat nasional, meskipun saat itu baru memasuki semester 1 perkuliahan.

Ketertarikan Diny mengikuti program tersebut berawal dari dorongan akademik di lingkungan kampus. Ketua Program Studi Manajemen Bisnis Digital, Prof. Esther, saat itu mendorong mahasiswa untuk mencoba berbagai peluang pengembangan diri di tingkat nasional, salah satunya melalui program GSA.

“Waktu itu kami diarahkan untuk mencoba mendaftar GSA sebagai bentuk pengembangan diri dan menambah pengalaman. Saya masih semester 1, sekitar bulan Agustus, dan akhirnya memberanikan diri untuk ikut,” ujar Diny saat diwawancarai, Sabtu (21/02/2025).

Program Google Student Ambassador merupakan inisiatif dari Google yang ditujukan bagi mahasiswa terpilih untuk berperan sebagai agen edukasi teknologi digital dan kecerdasan buatan di lingkungan kampus. 

Melalui program ini, peserta mendapatkan pembekalan terkait pemanfaatan teknologi berbasis AI, khususnya melalui platform Gemini, termasuk penggunaan fitur Canvas, Nano Banana, hingga Gemini API.

Menurut Diny, proses seleksi tidak menitikberatkan pada karya tertentu, melainkan pada motivasi dan kesiapan peserta dalam beradaptasi dengan teknologi. 

“Di awal kami lebih diuji dari sisi keberanian, motivasi, dan alasan kenapa ingin menjadi GSA. Bukan soal karya, tapi tentang visi dan komitmen,” katanya.

Setelah dinyatakan lolos, peserta langsung mengikuti rangkaian pelatihan dan penugasan yang berlangsung selama satu semester penuh. Para mahasiswa juga diberi target untuk memahami serta menguasai berbagai fitur teknologi yang diperkenalkan.

“Kami benar-benar dituntut untuk belajar. Mau tidak mau harus bisa beradaptasi dengan teknologi Google dan Gemini, karena nantinya kami juga bertugas mengedukasi mahasiswa lain,” ujar Diny.

Di lingkungan ISTS, tercatat empat mahasiswa yang berhasil lolos sebagai Google Student Ambassador. Secara nasional, jumlah peserta terpilih mencapai sekitar 800 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. 

Program ini juga mencakup kegiatan nasional yang sebagian diselenggarakan secara luring di Jakarta dengan melibatkan perwakilan dari sejumlah kampus.

Selain pengalaman dan jejaring, peserta memperoleh fasilitas berupa akses Gemini Pro selama satu tahun serta paket perlengkapan pendukung. Namun, bagi Diny, manfaat utama program ini terletak pada pemahaman yang lebih luas mengenai peran kecerdasan buatan dalam kehidupan akademik dan profesional.

“Sekarang hampir 80 sampai 90 persen aktivitas kami sudah memanfaatkan AI, mulai dari tugas kuliah sampai proyek. Tapi tetap harus bijak, jangan sampai kita sepenuhnya bergantung,” tuturnya.

Ia menambahkan, teknologi kecerdasan buatan seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat kreativitas dan pemikiran manusia. 

“AI itu sangat kuat dan dampaknya besar, tapi kita tetap yang mengendalikan. Bukan sebaliknya,” katanya.

Editor :