ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Menata Hati dan Harta: Literasi Keuangan Menjelang Ramadhan

avatar ayojatim.com
  • URL berhasil dicopy
Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura. Foto: Dok-pribadi
Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura. Foto: Dok-pribadi

Menjelang bulan suci Ramadhan menjadi  momentum strategis untuk menata banyak hal. Salah satunya adalah bagaimana menata pengeluaran, seperti menyisihkan harta untuk zakat, atau merencanakan sedekah produktif, agar harta yang kita dimiliki bisa menjadi sumber kebermanfaatan yang maksimal bagi diri sendiri maupun orang lain.

Karena, biasanya menjelang Ramadhan, perhatian masyarakat seringkali hanya tertuju pada persiapan jasmaniah saja seperti mempersiapkan menu sahur, berburu takjil untuk berbuka puasa, serta berbelanja untuk kebutuhan pokok untuk puasa. Namun, salah satu aspek yang tidak kalah penting juga, tapi jarang sekali diperhatikan adalah bagaimana mengatur literasi keuangan, seperti perencanaan zakat, infak, serta sedekah dibulan suci Ramadhan yang penuh berkah.

Dalam Islam dengan perspektif ekonominya, harta sebenarnya bukan hanya sekadar milik pribadi, namun juga merupakan sebuah amanah yang harus dikelola dengan prinsip keadilan, keseimbangan, dan kebermanfaatan.

Dalam karyanya, Ihya’ Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa :

 وَالْمَالُ عِمَادُ الْحَيَاةِ وَأَسَاسُ الْمَعِيشَةِ، وَيَجِبُ تَنْمِيَتُهُ وَإِفَادَتُهُ لِلْمُسْلِمِينَ

“Harta adalah fondasi kehidupan dan sumber penghidupan, ia harus dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat Muslim.”

Apa yang bisa kita tangkap sebagai pesan dari kutipan tersebut?

Maknanya adalah, Imam Al-Ghazali  ingin menekankan bahwa literasi keuangan tidak hanya soal menabung atau investasi, tetapi juga mengelola harta agar berdampak sosial. 

Menjelang Ramadhan, kita semua yang memahami prinsip tersebut, harusnya akan jauh lebih siap. Misalnya, bagaimana menyalurkan zakat produktif, seperti untuk modal usaha mikro, pendidikan, atau bantuan sosial bagi yang membutuhkan.

Praktik sederhana seperti menyusun anggaran Ramadhan, menghitung zakat, dan menentukan strategi sedekah memungkinkan ibadah puasa dan pengelolaan harta berjalan selaras.

Menjelang bulan suci Ramadhan adalah waktu strategis untuk menyiapkan perencanaan ini, sehingga konsumsi lebih efisien, harta digunakan untuk keberkahan, dan solidaritas sosial diperkuat.

Dengan kesadaran finansial dan literasi ekonomi, Ramadlan menjadi lebih dari sekadar bulan ritual. Bulan suci Ramadhan akan menjadi bulan transformasi ekonomi umat, sehingga kedepan akan mampu menumbuhkan budaya berbagi, juga menguatkan solidaritas sosial, serta juga akan meningkatkan kebermanfaatan harta secara maksimal.

Ramadhan yang dipersiapkan dengan literasi finansial yang matang tentu juga akan mampu memberi keberkahan tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat luas.

Dan, tentunya hal tersebut juga sebagai sebuah penegasan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menata hidup dan harta secara berkeadaban.

Ditulis oleh:
Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I
Dekan Fakultas Keislaman
Universitas Trunojoyo Madura

Editor :