ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Masjid Harus Jadi Motor Ekonomi Umat, Bukan Sekadar Tempat Salat

avatar Ali Masduki
  • URL berhasil dicopy
Masjid harus kembali ke khitah sebagai pusat peradaban yang mencakup aspek sosial dan finansial, bukan sekadar tempat ibadah ritual. Foto: Ilustrasi/Gemini
Masjid harus kembali ke khitah sebagai pusat peradaban yang mencakup aspek sosial dan finansial, bukan sekadar tempat ibadah ritual. Foto: Ilustrasi/Gemini

SURABAYA – Perputaran ekonomi selama bulan Ramadan selalu melonjak tajam seiring meningkatnya konsumsi rumah tangga dan aktivitas filantropi Islam. 

Namun, fenomena tahunan ini seringkali hanya menjadi euforia sesaat tanpa dampak jangka panjang bagi kesejahteraan jemaah.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Tika Widiastuti, menilai masjid memegang kunci strategis untuk mengubah pola konsumtif tersebut menjadi kekuatan ekonomi produktif. 

Menurutnya, masjid harus kembali ke khitah sebagai pusat peradaban yang mencakup aspek sosial dan finansial, bukan sekadar tempat ibadah ritual.

"Sejak zaman Rasulullah, masjid adalah pusat pemerintahan sekaligus aktivitas ekonomi. Semangat itu yang harus kita hidupkan lagi sekarang," ujar Prof. Tika.

Lonjakan belanja masyarakat di bulan suci seringkali tidak dibarengi dengan pemahaman manajemen keuangan yang baik. 

Prof. Tika melihat celah ini sebagai peluang bagi pengurus masjid untuk menyisipkan edukasi ekonomi syariah di sela-sela agenda dakwah.

Masjid bisa memulai langkah sederhana dengan memfasilitasi diskusi mengenai etika konsumsi dan pengelolaan uang yang sehat. 

Pelibatan Generasi Z dan milenial menjadi krusial agar program pemberdayaan tetap relevan dengan tren digital masa kini. 

Dengan begitu, jemaah tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga pulang dengan kesadaran kolektif tentang kemandirian ekonomi.

Salah satu titik krusial yang disorot Prof. Tika adalah pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS). Ia menyadari tidak semua pengurus masjid memiliki kapasitas manajerial setara lembaga keuangan profesional.

Untuk menghindari risiko distribusi yang tidak tepat sasaran, ia menyarankan masjid berkolaborasi dengan lembaga amil resmi. 

"Masjid bertindak sebagai titik penghimpunan, namun pengelolaannya sebaiknya menggandeng lembaga ZISWAF yang berizin. Ini menjamin dana umat tersalurkan secara adil dan membawa manfaat nyata," tuturnya.

Ia menekankan agar dana yang terkumpul tidak habis untuk kegiatan seremonial atau santunan konsumtif sekali pakai. Alokasi dana idealnya mampu menyentuh penguatan ekonomi mikro masyarakat di sekitar masjid.

Melalui sinergi antara tokoh masyarakat, karang taruna, dan akademisi, momentum Ramadan tahun ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi kemandirian ekonomi umat. 

Transformasi ini memastikan bahwa keberkahan Ramadan tetap terasa manfaatnya, bahkan setelah bulan suci berlalu.

Editor :