ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Masjid Sudah Terlanjur Dibongkar Rata Dengan Tanah, Tapi Janji Donatur Tak Kunjung Tiba

avatar Ulul Albab
  • URL berhasil dicopy
Masjid Al-Huda, satu-satunya masjid di Pedukuhan Gari, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, dibongkar. Foto/Instagram
Masjid Al-Huda, satu-satunya masjid di Pedukuhan Gari, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, dibongkar. Foto/Instagram

Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur

SAYA terhenyak ketika membaca berita ini: Masjid dibongkar. Dengan sukacita. Oleh warganya sendiri. Bukan karena roboh. Bukan karena digusur. Tetapi karena janji.

Beritanya singkat, tapi menghentak. Sebuah masjid di Gunungkidul, Masjid Al-Huda, dibongkar secara gotong royong setelah ada janji bantuan renovasi hingga sekitar Rp1,8 miliar. Syaratnya: bangunan lama harus diratakan lebih dulu.

Warga percaya. Masjid dibongkar. Setelah itu, janjinya tidak pernah datang. Bantuan tak kunjung ada. Yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan dan salat berjamaah terpaksa harus di tempat sementara.

Saya membaca ulang. Memastikan. Ternyata benar. Bukan hoaks. Bukan kabar simpang siur. Media nasional mengonfirmasi: bahwa bantuan itu belum pernah disetujui secara resmi oleh yayasan yang disebut-sebut sebagai donator (sumber dana). Artinya, tidak ada kepastian. Tidak ada dana. Tapi bangunan masjid sudah terlanjur rata dengan tanah.

Ini bukan cerita tentang intoleransi. Bukan pula soal penggusuran rumah ibadah. Ini cerita tentang kepercayaan yang diberikan terlalu cepat, dan kehati-hatian yang tidak dipersiapkan sehingga datang terlambat.

Dalam Islam, masjid bukan sekadar bangunan. Masjid adalah simbol amanah. Pusat ibadah, pendidikan, dan persaudaraan umat. Maka setiap keputusan besar atasnya seharusnya lahir dari musyawarah yang matang dan pertimbangan yang jernih, bukan semata euforia janji besar yang belum berpijak di kenyataan.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk curiga berlebihan. Tapi juga tidak mengajarkan untuk mudah terbuai. Kita diajarkan tawakal, benar. Tetapi tawakal selalu didahului ikhtiar. Bahkan Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas, “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu.” Janji, dalam Islam, bukan sekadar kata. Tapi harus bisa diuji dan dipertanggungjawabkan.

Kasus Gunungkidul mengajarkan pelajaran penting: bahwa iman yang tulus harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang sehat. Terlalu sering urusan masjid dipahami cukup dengan niat baik dan keikhlasan. Padahal justru karena masjid itu suci, pengelolaannya harus lebih tertib, lebih profesional, dan lebih transparan.

Janji bantuan, apalagi dalam jumlah besar, semestinya diverifikasi. Harus ada dokumen tertulis. Harus ada mekanisme pencairan yang jelas.

Idealnya, dana sudah masuk ke rekening resmi sebelum satu bata pun dibongkar dan dipindahkan. Ini bukan soal tidak percaya kepada sesama Muslim, tetapi soal menjaga amanah umat agar tidak berakhir dengan penyesalan kolektif.

Saya khawatir, bila peristiwa seperti ini tidak dijelaskan secara jernih, ia bisa menjadi bibit kegaduhan. Narasi yang tidak utuh mudah digiring ke emosi keagamaan, padahal masalahnya bukan pada iman, tapi pada tata kelola dan kehati-hatian.

Di sinilah peran takmir masjid, tokoh agama, dan organisasi keumatan menjadi penting. Masjid-masjid di tingkat akar rumput perlu pendampingan, bukan hanya dalam urusan ibadah, tetapi juga dalam perencanaan, administrasi, dan pengelolaan donasi. Amanah itu bukan hanya soal niat, tetapi juga soal sistem.

Yang patut kita hormati, warga Gunungkidul memilih jalan yang damai. Mereka tidak gaduh. Tidak saling menyalahkan. Mereka bangkit kembali, membangun masjid dengan kemampuan sendiri, setahap demi setahap. Dan anda para pembaca bisa berdonasi, bukan saja sebagai infaq finansial, tetapi sebagai ukhuwah Islamiyah. Itulah iman yang dewasa. Namun umat tidak boleh terus-menerus belajar melalui luka yang sama.

Masjid harus kita jaga, bukan hanya dari niat buruk, tetapi juga dari kecerobohan. Keikhlasan tidak boleh dipertaruhkan oleh ketidakcermatan. Dan janji, seindah apa pun bunyinya, tetap harus diuji sebelum dipercaya.

Editor :