Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur
TAHUN baru biasanya kita sambut dengan resolusi. Ada yang ingin diet. Ada yang ingin menikah. Ada yang ingin berhenti merokok tapi gagal sejak dini hari. Namun di New York, pergantian tahun itu bukan lagi sekadar hitungan kalender. 1 Januari 2026, kota yang sering disebut pusat dunia itu membuka babak sejarah baru.
Di tangga balai kota, seorang anak muda 34 tahun berdiri tegak. Namanya Zohran Mamdani. Kulitnya kecokelatan. Nama belakangnya tak lazim bagi telinga Barat. Dan yang paling menarik: ia dilantik sebagai Walikota New York sambil bersumpah di atas Al-Qur’an.
Sesuatu yang mungkin dulu hanya jadi cerita fiksi, kini nyata, disiarkan media global tanpa sensasi berlebihan. Biasa saja. Wajar saja. Itulah justru luar biasa.
Mamdani bukan politisi karbitan. Ia tumbuh dari keluarga imigran Uganda, besar di Queens, merasakan harga sewa rumah yang mencekik kelas pekerja. Ia aktivis, bukan pemilik perusahaan raksasa. Ia mengetuk pintu warga kampung demi kampung.
Kampanye berbasis isu, bukan citra. Ia bicara rumah yang terjangkau. Transportasi yang manusiawi. Kota yang tidak hanya indah dilihat turis, tapi layak dihuni warganya. Rupanya itu menyentuh hati publik.
Yang lebih menyentuh adalah caranya merawat identitas. Bukan dengan slogan keagamaan. Tetapi dengan tenang, percaya diri, dan sederhana. Ia membawa tiga mushaf Qur’an: satu dari kakeknya, satu dari neneknya, satu lagi mushaf tua dari Schomburg Center.
“Saya ingin ingat dari mana saya berasal,” ujarnya. Kalimat pendek tapi dalam. Orang boleh lahir di negara mana saja, tapi nilai hidup selalu punya akar.
Bagi kita di Indonesia, terutama kaum cendekia Muslim, peristiwa ini seperti membuka jendela besar. Ternyata minoritas bisa memimpin mayoritas: bila kompeten, bila dipercaya, bila hadir sebagai solusi.
Dan ternyata Islam bisa tampil di ruang publik Barat bukan sebagai ancaman, tapi sebagai bagian dari mozaik peradaban.
Momen ini patut dirayakan. ICMI Jawa Timur menyampaikan selamat kepada Zohran Mamdani, sambil menitip harapan: jangan sia-siakan kesempatan ini. Tunjukkan bahwa Islam benar-benar Rahmatan lil ‘Alamin: rahmat yang menyejukkan, merangkul, menguatkan.
Semoga sejarah hari ini bukan hanya headline. Tapi awal bab yang lebih panjang: bab ketika Islam tersenyum dari jantung kota dunia.
Editor : Alim Perdana