BAWEAN – Ekosistem pesisir Pulau Bawean kini berada di bawah mikroskop para peneliti muda. Tim mahasiswa Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya bersama siswa SDIT Al Huda Bawean melakukan investigasi lapangan untuk mendeteksi kontaminasi mikroplastik pada hutan mangrove di kawasan tersebut, Minggu (5/4/2026).
Langkah ini diambil guna memetakan sejauh mana partikel plastik tak kasat mata telah masuk ke dalam jaringan vegetasi pelindung pantai. Riset ini menyasar dua lokasi berbeda: kawasan dekat permukiman di Pantai Selayar dan zona konservasi di Desa Daun.
Baca juga: Fenomena Hujan Mikroplastik, Pakar ITS Ingatkan Pentingnya Pengelolaan Sampah
Elsa Pratiwi, peneliti dari UINSA, memfokuskan amatan pada bagian akar mangrove. Menurutnya, akar merupakan bagian paling rentan karena bersentuhan langsung dengan sedimen yang kerap membawa endapan sampah.
"Kami mendeteksi keberadaan mikroplastik di akar spesies Rhizophora sp. dan Sonneratia alba. Di lokasi yang dekat pemukiman, tumpukan sampah plastik masih terlihat, dan ini secara langsung memengaruhi kualitas pertumbuhan mangrove," ujar Elsa.
Namun, pemandangan kontras ditemukan di kawasan konservasi Desa Daun. Di sana, keanekaragaman hayati seperti Avicennia dan Acanthus masih tumbuh subur dalam lingkungan yang relatif bersih.
Elsa menilai kondisi alami di Desa Daun menjadi bukti bahwa perlindungan wilayah mampu menekan laju degradasi lingkungan.
Tak hanya akar, bagian daun pun tidak luput dari pemeriksaan. Dito Herdianto, peneliti lainnya, menjelaskan bahwa partikel plastik bisa menempel pada daun melalui udara maupun percikan air laut (sea spray).
Baca juga: BCA Lestarikan Songket Melayu Sumut! Gelar Pembinaan Pewarna Alam
"Kesehatan mangrove adalah kunci keberlangsungan biodiversitas laut. Jika daun dan akarnya terkontaminasi, fungsi mangrove sebagai penyaring alami dan penahan abrasi akan terganggu," tegas Dito.
Ia menambahkan bahwa hasil pengukuran kualitas air di lokasi yang tercemar menunjukkan kadar oksigen yang rendah, sebuah sinyal bahaya bagi organisme laut lainnya.
Pendidikan Berbasis Masalah Nyata Kegiatan ini melibatkan langsung empat siswa kelas 5 SDIT Al Huda. Mereka diajak mengambil sampel dan mengamati perbedaan fisik antar spesies tumbuhan payau tersebut.
Kinanti Safitrin Naja, guru pendamping, menilai praktik lapangan ini jauh lebih efektif dibanding teori di dalam kelas.
Baca juga: Green SM Hadir di Surabaya, Era Baru Transportasi Ramah Lingkungan Dimulai
"Anak-anak melihat sendiri bagaimana sampah yang dibuang sembarangan berdampak pada oksigen di dalam air. Ini membangun kesadaran lingkungan lewat bukti nyata, bukan sekadar kata-kata," kata Kinanti.
Senada dengan itu, Jamili, pengajar lainnya, berharap data dari riset ini tidak berhenti di laporan akademik. Ia mendorong adanya kebijakan lingkungan yang lebih ketat di Pulau Bawean untuk melindungi ekosistem yang masih tersisa.
"Kita butuh solusi konkret dan teknologi ramah lingkungan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa menjaga Bawean harus dimulai dari sinkronisasi antara data riset dan aksi masyarakat di lapangan," pungkasnya.
Editor : Alim Perdana