Ramai Isu Child Grooming, Dosen Psikologi Ubaya Ungkap Alur Manipulasi Pelaku

Reporter : Alim Perdana
Dosen Fakultas Psikologi Ubaya, Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog. Foto/Humas Ubaya

SURABAYA - Media sosial tengah ramai membahas kasus child grooming dan manipulasi yang diceritakan oleh salah satu artis di Indonesia. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Yuan Yovita Setiawan, M.Psi., Psikolog. menguraikan alur yang digunakan pelaku dalam memanipulasi korban. 

Yuan memaparkan tahap manipulasi pelaku menggunakan Sexual Grooming Mode (SGM) yang dicetuskan oleh peneliti bernama Georgia M. Winters dan Elizabeth L. Jeglic. Pelaku memulai aksinya dengan memilih korban yang memiliki karakteristik tertentu.

Baca juga: Springville Residence Luncurkan Tipe Heather, Hunian Hemat Energi yang Elegan

“Pelaku akan memilih individu yang rentan dan lemah secara psikologis. Misalnya, penurut, kurang pengawasan dan perhatian orang tua, membutuhkan kasih sayang, mengalami masalah perilaku, dan kesepian,” tuturnya. 

Setelah itu, pelaku akan memperoleh akses dan mengisolasi korban melalui interaksi intens yang menarik korban dari lingkungannya. Pelaku lalu membangun kepercayaan korban terhadap dirinya untuk mendapat akses yang lebih leluasa melalui sikap dan tindakan yang sangat baik. 

Setelah pelaku merasa memegang kendali atas korban, dilakukan pembiasaan terhadap konten seksual dan kontak fisik terhadap korban. Dalam tahap ini, pelaku membuat korban berpikir seolah paparan dan kekerasan seksual merupakan hal normal. 

Terakhir, pelaku melakukan pemeliharaan hubungan setelah terjadinya kekerasan seksual melalui pembungkaman, baik dengan pemberian kompensasi, maupun ancaman. 

Dosen yang fokus meneliti tumbuh kembang dan adverse childhood experience ini menambahkan, tahapan-tahapan tersebut membuat relasi manipulatif mampu bertahan, apalagi sampai pada tahapan terakhir. 

Baca juga: Mahasiswa Ubaya Usung Inovasi Berkelanjutan di Pameran Grade X Vol. 6

Korban akan sangat sulit melepaskan diri dari pelaku karena sepenuhnya bergantung dan mengandalkan pelaku dalam segala hal. Pelaku juga kerap menggunakan pola komunikasi yang manipulatif dengan memunculkan rasa bersalah pada korban. 

“Akhirnya, korban mengalami kebingungan dan merasa tidak berhak untuk mempertanyakan atau mengkritisi pengalaman buruk yang ia terima. Korban mengalami keraguan, lebih jauh merasa tidak benar, namun tidak mampu melakukan apa-apa,” ucap Yuan. 

Child grooming sendiri merupakan sebuah pendekatan manipulatif yang dilakukan individu dengan tujuan melakukan kejahatan seksual kepada anak atau remaja dibawah umur untuk kepuasan pribadi. 

Hal ini dipandang tidak pantas secara moral karena terdapat ketidaksetaraan relasi antara orang dewasa yang matang dan independen dengan anak atau remaja. Secara biologis dan psikologis, anak dan remaja masih rentan serta memiliki keterbatasan wawasan dalam kontrol dan otonominya. 

Baca juga: Ubaya Gelar Seminar Nasional, Dorong BUMDes Menuju Good Corporate Governance

Meskipun indikasi child grooming tidak dapat diidentifikasi secara kasat mata, terdapat beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan dengan kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan lingkungan. 

Misalnya, orang tua dapat mengajarkan batasan bagian tubuh yang tidak dapat disentuh oleh orang lain serta membangun komunikasi yang terbuka dan empatik dengan anak. 

“Hal yang perlu ditekankan adalah kita perlu lebih peduli dengan anak atau remaja yang ada disekitar. Kita harus lebih bersedia untuk menelisik lebih dalam, jika dirasa ada tindakan yang mencurigakan dari interaksi antara anak atau remaja dengan orang dewasa,” pungkas Yuan.

Editor : Alim Perdana

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru