SURABAYA – Era digitalisasi yang sarat disrupsi informasi dan pergeseran nilai jurnalistik mendapat perhatian Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama.
Senator cantik yang akrab disapa Ning Lia itu menegaskan pentingnya keberpihakan pers kepada kebenaran dan kepentingan publik di tengah banjirnya informasi yang sering kali tidak terverifikasi.
Baca juga: Kunjungi Pameran Seni di DPRD Jatim, Ning Lia Sapa Seniman Lokal Jawa Timur
“Pers sehat ibarat makanan sehat. Mungkin tidak selalu viral, tapi mampu menyehatkan masyarakat secara jangka panjang. Sebaliknya, pers yang hanya mengejar sensasi layaknya junk food menggoda, viral sesaat, namun membawa risiko tinggi terhadap kesehatan sosial,” kata Ning Lia dalam keterangannya, Rabu (6/8/2025).
Lia yang baru saja mendapat penghargaan Radar Surabaya Award 2025 mengatakan analogi tersebut bukan tanpa alasan.
Sebab di era algoritma yang mendorong kecepatan klik daripada kedalaman narasi, Ning Lia mengajak publik untuk kembali mengapresiasi pers yang berkomitmen pada prinsip-prinsip jurnalistik, informatif, terpercaya, dan membangun.
Baca juga: Hadir di Paripurna Istimewa HUT Pemprov ke-81, Ning Lia Sebut Jatim sebagai Bangunan Politik Humanis
“Saya berharap pers tidak hanya menjadi penonton dalam transformasi sosial, tetapi juga aktor strategis dalam membentuk opini publik yang sehat,” harap Ning Lia.
Penghargaan yang diterima Ning Lia diserahkan langsung oleh Direktur Utama Jawa Pos Leak Kustiya. Menurutnya, RSA bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk konkret penghargaan terhadap kontribusi nyata berbagai elemen masyarakat dalam membangun Jawa Timur, khususnya kawasan Surabaya Raya.
Baca juga: Poros Muda NU Sebut Ning Lia Politisi Fenomenal, Layak Maju Pilgub Jatim 2029
Selama menjabat sebagai senator, Ning Lia dikenal membawa pendekatan politik yang lebih humanis dan spiritualis.
"Gaya komunikasinya yang hangat dan reflektif kerap menjembatani isu-isu kompleks seperti inklusi sosial, keadilan gender, hingga pemberdayaan akar rumput ke ruang-ruang kebijakan formal," pungkasnya.
Editor : Diday Rosadi